Kamis, 06 September 2012

Drie ster( 3 Bintang )

di September 06, 2012 0 komentar

Kemarin aku melawan segenap kebingungan yang entah dari mana saja asalnya.
Ada ada saja alasan mengapa aku selalu mengeluh dengan situasi yang hadir hari itu.
Keletihan-kelatihan yng menari-menari di ujung jari ku yang gemetar menahan lapar karena tak juga ada waktu untuk sejenak meninggalkan Kampus, berkejaran dengan dosen yang entah juga dari mana asalnya selalu saja ada alasan untuk berlari mengejar mencari mereka.
Supervisor yang ku lihat semuanya barusan di depanku, dengan semangat juang setinggi Menara Eiffel tiba-tiba terpecah 2 arah.
Ada yang belok kanan, ada yang ke ruang belakang.
Tentung.. Yg mana harus ku kejar?
Dari gaya'nya, Sprvisor 1 hendak keluar kampus (belum tentu bisa menemukannya kembali), yang ke-2 masuk ruangan.. Aman Pokoknya..!!!akhirnya ku kejar yang Sup.1 ku.. Ku tubruk sudut tangga yang tepat mengenai siku'ku,, 
"Haddyoohh.. Sakit.." Keluhku
"Edeehh.. Lamako, fa. Kejarmi cepat Bapak heh.. Maumi masuk di Mobilnya" Hardik temanku yang 1 Bimbingan dengannya Si Bapak 1.
"..."
Lari, lari, dan lari.
"Pakkkk...!!!" Teriakku yang membuat semua mahasiswa dalam dan luar kampus menidung arah teriakan (itu aku!)
3 minutes ago..Alhamdulillah selesai.
Mencari Sup.2 
"Pulangmi kak" Kata salah 1 Mahasiswa (kenapa na panggilka kakak? na tau umurku kah?hah,,dia kayaknya yg ngerasa muda.!!!
Setelah Pertarungan itu seharian,aku Pulang dengan sejuta rasa lelah..!!Aku lelah.
Aku lelah.
aku lelah..
Lalu aku berdo'a di pete-pete.
"Ya Allah, kasi ka kekuatan kasian. Kasi' kuat Ragaku, kasi kuat hatiku, kasi kuat teman2ku yang ku tempati mengeluh, kasi' kuat betisku,kasi'ka orang2 yang bisa bikinka semangat lagi..Aamiin" Sambil menelan ludah karena HAUS.

Do'aku tidak sia-sia.
Segala keajaiban, kenikmatan, dan kebahagiaan dari-Nya terbukti hari ini. 
Hari ini saya kaya akan ilmu kak..saya kaya sahabat..saya kaya semangat..saya kaya nasehat.. Saya SANGAT BERSYUKUR harii ini..

Hari ini ada 3 orang yang menjadi INSPIRATOR terbaikku.. 
1. Ma Yan (Seorang Gadis Kecil di Pedalaman Cina yang tempatnya tak tercatat barangkali dalam Peta dunia.. Dia sangat mencintai ILMU. Karena kekurangan menjadi sahbatnya,dia terpaksa menahan lapar,berpuasa selama 2 pekan hanya karena dia menabung untuk membeli sebuah PENA/PULPEN yang jika dia gunakan maka tulisannya akan semakin jelas yang hanya seharga 1 Yuan atau cuma Rp.1500.. Setiap harinya dia menempuh perjalanan perjalanan 20 km dengan JALAN KAKI di mana jalan yang ia lalui sarat akan PERAMPOK dan BINATANG BUAS yang senantiasa bisa memakan habis tubuh  mungilnya, dan mengambil semua barang2 miliknya yang tak berharga sama sekali sangking MISKINnya KAMPUNGNYA)


2.Kak Abdul Aziz Mustakim, (Seorang mahasiswa yang di kenal dari Sebuah social  media..Mahasiswa yang memberiku PESAN BERHARGA hari ini "ketika hatimu lelah dlm brjuang, ingatlah wajah2 mereka yg engkau perjuangkan!" yang ternyata menyentak kepalaku yang selama ini TERLALU BANYAK MENGELUH. Aku Terharu, aku Menangis)


3.Kak MahFuzah Hazirah, (Seorang Mahasiswi, yang aku tempel dirinya dalam dinding hidupku sebgai kakak yang seperti Peri..!!!) Terlalu banyak Kisah,ibroh,dan nasehat2 darinya yang tak bisa ku balas lagi.. ghansamidha :)Dengan ketabahan, dengan kebijakan2 yang kau lampiaskan di atas rasa marah, dengan sedikit sabar menghadapiku yang kekanak2an, dengan senyum yang selalu kau ikhlaskan untukku.. Dengan PERTEMANAN yang mau kau jalin dengan MANUSIA KERDIL SEPERTIku.. Hanya ku Balas, TERIMA KASIH..

Siapakah Besok yang akan jadi inspirator ku lagi Setelah Tempo lalu,PUTRA lah yang menjadi PEMENANG HARI-ku kala itu..!!!


Capekma mengetikk..!!!

(^_^ )

Rabu, 29 Agustus 2012

Malaikat Kecil di Bumi

di Agustus 29, 2012 0 komentar
Tak pernah mengira aku akan tersenyum kali ini sementara hati menahan satu gejolak dalam hati. Aku tersentuh melihat jemari tangan yang mungil, lengannya lemas tak berdaya, wajahnya menempel di dada nenek, dan matanya tertuju pada aku karena aku yang duduk berhadapan dengannya di sini. Angkutan umum yang telah mengukir satu sejarah padaku. Dia sedang dalam gendongan sang nenek yang tiap ada orang yang berkomentar tentangnya, nenek akan menciumnya. Ketika ia mendengar kritikan orang, ia akan tersenyum. Dia mengerti apa yang kami bicarakan, rupanya. Dan, ketika ku lap liur yang menetes dari bibir yang tak sempurna itu, ia menunduk dan tersenyum. Iya, dia sedang malu-malu padaku. Tantenya bilang, aku baik karena mau membersihkan liurnya dengan jariku sendiri tanpa alas. Aku bilang, karena aku kakaknya tante. Tante tentu saja tersenyum. Aku meringis, menahan haru.!
“namanya siapa,tante?”
“Putra, nak”
“Wahh.. Putra, kamu mau kemana? (sambil mengelus-elus tangannya yang mungil)”
“Hehehe.. Mau ke Maros Nakk. Jalan-jalan ke rumah keluarga” Kata Tantenya.
“Tante, lihat. Dia tersenyum padaku” Kini aku menyentuh wajah suci nan bersihnya. Aku sepertinya jatuh hati padamu, Putra.
“Dia malu tiap kali ada anak gadis yang berbicara tentangnya”
Dia tahu, aku anak gadis yang kini sedang berbicara tentangnya pada tantenya. Tapi, aku bertanya-tanya, ada apa dengannya? Kenapa keadaanya seperti dia sedang menikmati buaian yang takkan pernah berkesudahan? Aku ingin bertanya tante, tapi aku tak tahu harus mulai dari mana.
“Dia kenapa, Bu?” Tanya salah satu Penumpang.
“Dia.. Dia seperti inilah yang Ibu liat. Dia tidak normal” Tantenya menjelaskannya dengan hati-hati meski ku tahu dia mencoba menyembunyikan rasa sakit di hatinya, melihat ponakan yang harusnya kini bermain riang dengan anak-anaknya.
“Tidak, Bu. Dia normal kok. Dia hanya sedang menjalankan tugas dari Allah, tetap berbaring agar Allah bisa menjaganya dengan tanganNya sendiri” Aku menyerangi kata-kata berat tante tentang Putra.
“Ya, benar Nak. Karena penyakit tulang yang dokter bilang itu, ia mengalami keadaan seperti ini. Hanya berbaring saja kalau di rumah, melihat para sepupu-sepupunya berlari di sekitarnya. Tersenyum ketika ada yang menjenguknya, ketika kami mencoba berbicara padanya. Tapi, itulah dia. Menghibas lalat yang mengganggu wajahnya saja ia tak mampu. Ia malah hanya tetap tersenyum menahan geli di wajah yang di gelitik lalat. Dia hanya bisa menunggui kami ketika punya waktu baru bisa bermain dengannya, nak. Ibunya hanya dirumah tanpa suami…”
“Tanpa suami, tante?” Aku benar-benar tersentak kaget. Aku memotong pembicaraan tante pun dengan setengah sadar.
“Iyya, nak. Tanpa suami. Sejak lahir, Putra sudah di tinggal sang ayah. Entah sekarang di mana. Mungkin dia sudah mati dan aku juga berharap ia sudah mati. Ayahnya lari dengan perempuan lain, meninggalkan istri dan anaknya dengan sejuta beban, sakit, derita yang harus mereka tanggung. Melihat keadaan Putra yang seperti ini, apalagi yang bisa kami harapkan. Jika tak ada iman, mungkin bunuh diri sudah di lakukan.”
“Lantas, Putra biasanya makan apa tante?”
“yahh.. Hanya bubur dan susu nak.. apalagi?” tante menitikkan air mata.
Tapi, ada yang lebih membuatku merasa tak mampu lagi membendung air mataku. Putra, menangis. Dia menangis. Dia menitikkan air mata. Aku menghapus aliran air mata itu. Bersamaan dengan air mata ku yang mungkin sebentar lagi aku akan bisa membasahi separuh baju ku.
“Dia tetap mendengar tante, dia sepertinya tahu apa yang kita bicarakan”
“Ya, nakk. Dia mengerti setiap detail yang kita bicarakan. Ketika berbicara tentang dirinya, tentang kehidupannya, dia akan menangis seketika itu juga”
“Ya Allah, maafkan kakak ya Putra. Maaf, karena sudah buat kamu nangis. Maaf karena kakak sudah buat kamu ingat masa yang harusnya kamu buang. Tapi, gak papa, Putra. Inilah awal persahabatan kita. Aku akan bisa semakin dekat denganmu dengan aku tahunya kehidupan kamu. Usia Putra sekarang berapa? (aku bertanya seolah-olah aku yakin Putra akan menjawabku. Aku berharap dia akan menjawabku walaupun MUSTAHIL karena dia tidak bisa berbicara. Aku yakin, dengan tatapannya sekarang padaku dia akan menjawabku. Aku yakin akan turun mukjizat dari Allah)”
“17 Tahun, nak.” Tante menjawab pertanyaanku. Bukan Putra.
Aku menghela nafas yang teresak-esak dan tertahan di tenggorokan. 17 Tahun?
“Dia sudah jadi laki-laki dewasa, sudah kelas 3 SMA andaikan dia normal”
“Tidak tante, sekarang dia juga sudah jadi laki-laki dewasa menurutku. Hmm, (kembali menatap Putra)… Kamu 17 Tahun, kakak sebentar lagi akan genap jadi 21 Tahun. Aku kakak kamu 4 Tahun, Putra. Kamu sekarang aku nobatkan jadi adik baru ku. Mau?” Putra tersenyum malu, dan kini ia menggerak-gerakkan kepalanya, dan menurut tantenya ia kegirangan. Aku kini kakakmu, Putra. Kamu adikku, kamu Sahabatku. Kamu mengajari ketidaksempurnaan yang mungkin kelak, kamu akan langsung berhadapan dengan Allah tanpa harus mengikuti ritual semua manusia di dunia. "Putra, kakak mau bilang sama kamu..kamu jauh lebih baik dari kakak.kamu lebih beruntung dari kakak..kamu tdk harus mengikuti dunia ini..kamu tahu Putra?Dunia ini kejam dekk..makanya kau tetaplah begini..biar aku,dan mereka saja yang tetap menyayangimu".. Kamu itu Istimewa, Putra.. Karena kamu, Suci. Karena kamu, Putih. Karena kamu, Putra.
Dan kini, kamu menjadi Putra-ku..!!!
Terima Kasih, Putra telah tersenyum padaku…!!!




Jumat, 17 Agustus 2012

MERINDUIMU SEKIAN KALI (Mahfuzah hazirah)`

di Agustus 17, 2012 0 komentar
Entah kapan pas nya saya mengenalnya..tidak tercatat waktunya, tanggalnya, harinya.. Saya hanya mengingatnya ketika itu saya dalam keadaan sangat kesepian di kamar kost. Ah, sudahlah.. tak perlu mengenang saat pertama mengenalnya. Ada suatu kisah yang tak ingin ku ungkit.
Banyak sekali kejadian lucu yang mengiringi langkahku berteman dengannya. Seorang sosok wanita yang benar-benar jauh dari pikiran sempitku. Ku pikir waktu itu, dia hanyalah seorang perempuan biasa. Berjilbab pastinya sudah ku yakini namun tak ku sangka dia akan membuatku pulang dengan seonggok rasa malu. Malu dengan diri sendiri.
Lucu sekali ketika aku menyandingkan diriku dengannya di lembar foto..jauh berbeda Ya Robb. Dia yang begitu anggun, wajah cerah karena wudhu yang selalu membasahinya, baju kurung, jilbab lebar, hati yang begitu suci. Ahh, benar-benar membuatku tak jadi membusungkan persahabatan. Mengalir begitu saja seolah kami telah lama mengenal.. Tapi, tidak. Baru sekali itu saja.

Ahhh,, saya ingat sekali ketika saya sedang sakit di kost dia datang. rutinitasnya sebagai Dokter tak sedikitpun runtuh niatnya menjengukku. Allah saksinya, saya hanya bisa menangis.. Tak ada temanku yang pernah melakukannya. Mungkin ya sebagai orang lain ini biasa saja tapi ini sangat berharga buat saya sendiri. Alasannya? Ya mungkin sedari kecilku tak pernah ada Teman yang melakukan ini untukku. Memang hal pertama yang paling indah adalah sesuatu yang kita dapatkan yang belum pernah kita miliki memang sebelumnya. Tidak mudah memiliki sahabat sepertinya, Ya Robb.

Hari ini mungkin saya memilikinya, tapi ketika saat di mana dia harus kembali ke negeri Jiran maka sudah usai pula ceritaku tentangnya. Belajar dari dia menyikapi masalah, lembut pada setiap sikapku yang liar, tertawa meski mungkin di tiap cerita-ceritaku tak semua yang lucu. Ketulusannya mendengar cerita-ceritaku yang mungkin saja telinganya panas mendengarku yang tak hanya saya saja yang harus dia temani. Ada banyak sekali pasien yang membuatnya penat hari ini, kerjaan yang bejibun itu tak lantas mengeluh dengan ocehan-ocehanku, keinginan-keinganku yang tak sesuai inginya, menunda waktu tidurnya karena harus menemaniku berceloteh ketika ku bertandang di kamarnya. Harusnya dia mengeluh? Tapi, tak pernah sekalipun ku dengar kata-kata kasar dari bibirnya. tak pernah dia ku dapati mengajarkanku hal-hal yang negative bahkan semua yang ku dapatkan darinya adalah Pelajaran.

Di danau ini kau selalu bercerita pada Alam. tak semua yang kau alami itu kau hadapi dengan tenang saja. Kau juga wanita biasa.. Dan di tempat ini pula aku telah melepas sedihku ketika hari itu kau juga akan kembali ke malaysia. mungkin tak lama, hanya 2 pekan. tapi, tetap aku akan merasa ada setitik sepi untukku. Untuk hapeku.. Hihihi.. cepat pulang ya kak...!!!!


jum'at, 17 Agustus 2012 (14:12)
Batangan Oriza Sativa yang mencoba tetap segar layaknya Nailofar...!!!

Hanya Ingin Belajar, Dikk..!!!

di Agustus 17, 2012 0 komentar
Adikku,
Sekedar ku ingin mengatakannya padamu.
tak ada sedikitpun ku ingin mengajari mu,dik..!!!
Tak ada.. Aku hanyalah seorang kakak yang mencoba belajar menjadi kakak yang baik
Meskipun ku tahu, terlalu terlambat untuk melakukannya karena kini kau sudah gadis, sepertiku..!!!

Adikku,
kemarin ku lihat handphone mu berdering begitu sering.. Tak ada yang berbeda dengan biasanya. Namun, kini aku melihat handphone itu dengan segunung pertanyaan di kepalaku. Apa kini kau sudah pacaran?
tapi tak ingin ku kotori pikiranku tentangmu.. Saya percaya kau tidak melakukannya..!!!
Maaf, dik.. Tapi aku masih saja mengkhawatirkanmu.
Mungkin saja kini kamu tak ingin lagi di jaga karena usia mu yang tak lagi muda.
aku pun pernah sepertimu dik,percaya.
ketika aku merasa sudah dewasa, tak ingin lagi ku di awasi seperti anak kecil dik.. ketika Ibu selalu menghujaniku dengan sejuta petuah-petuah yang kini ku sesali karena dulu ku anggap semua itu TIDAK BERGUNA UNTUKKU.

Adikku,
kemarin ku lihat kau tertawa lantang..wajahmu berseri-seri merona merah.. Tak biasanya kamu seperti itu mengingat aku mengenalmu dari kecil sebagai sosok yang pendiam dan lebih senang menyendiri..
ada apa dik?apa kau sedang jatuh cinta?
Iyyakah???

Adikku,
Maaf jika aku tidak adil..
Maaf jika kau merasa aku kini mengekangmu..
Maaf jika kini aku berbeda seperti yang kamu kenal 20 tahun yang lalu..
Ya, aku kini sudah berjilbab dikk.
Aku sudah 21 Tahun..
Aku mau lebih baik di usiaku ini sampai kesempatanku untuk berada di sisimu habis,dik..!!!!

Adikku,
Aku kini melarangmu PACARAN.
benar-benar melarangmu.
Lebih baik kau memalingkan wajahmu ketika ku berbicara padamu, tak apa..
Asal kau mau berjanji untuk tidak PACARAN.

Adikku,
aku melarangmu bukan karena aku tak ingin melihatmu bahagia..
Cinta yang kau dapatkan di hubungan semacam itu hanya akan menyakitimu dan Tuhanmu..

Adikku,
Andai aku tak tahu dan mungkin tak pernah tahu tentang BAHAYA dan MUDHARAT PACARAN maka aku takkan melarangmu.
AKu tak pernah merasa lebih hebat, lebih tahu, lebih pintar, dan bahkanlebih dewasa darimu.. Tidak Pernah dik..
Aku hanya Seorang Kakak yang mencoba belajar menjadi kakak yang baik untukmu dan adikku yang lain..

Senin, 30 Juli 2012

Itu Cuma Pikiranku..!!!

di Juli 30, 2012 0 komentar

Langkahku sangat berat untuk kembali kerumah siang ini. Pukul 16.24 itu harusnya aku merasakan angin sepoi-sepoi yang menghangatkanku, membuatku sedikit terbang melayang meski tak bersayap, dan mungkin saja sedikit memberikan ku rasa relax sambil menikmati langkah-langkah kecilku sebelum sampai ke rumah. Tapi, sore ini benar-benar masih terasa panas. Baju ku sudah basah karena peluh, jilbabku sudah tak beraturan lagi bentuknya, dan sepatuku berlapis debu. Ku bayangkan wajah ibuku saat aku sampai rumah. Mungkin beliau akan bilang “dari mana saja kamu jam segini baru pulang?” dan ayahku mungkin juga berkomentar “kalau tidak ada urusan kampus lagi, lebih baik langsung pulang saja” atau bahkan abangku pun ikut menyumbangkan komentar yang selalu membuat ayahku khawatir “habis jalan sama cowokmu? Gadis berjilbab kok pacaran? Anak siapa sih itu? Anak ayah atau ibu? Saya ajha yang cowok gak pacaran”. Grrrr… sangat tak pernah ia membuatku sedikit nyaman di dekatnya kecuali pada saat ia melukisku. Ya, abangku sangat pandai melukis. Ketika ia melukisku, saya merasa menjadi perempuan paling cantik di dunia karena ia selalu melihat wajahku sambil tersenyum. Seolah-olah ia benar-benar menikmati kecantikanku. Aahh.. Indahnya.. hahaha.. tapi, Itu Cuma pikiranku.
Tak salah lagi, mereka bertiga lengkap di teras rumah. Ku lihat dari mataku yang sedikit menyipit mengintai mereka dari jarak tak jauh dari rumahku sekitar 10 m. cukup dekat, cuma karena saya sedang bersembunyi di balik deretan pot bunga mahalnya ibu dokter yang juga tetanggaku maka al-hasil juga aku tak keliatan sama sekali. Ku pelajari ekspresi mereka sebelum melengleng masuk kerumah. Ini untuk mewanti-wanti agar aku tak kena marah nantinya!! Itu Cuma pikirku saja. “Sepertinya mereka sedang bersantai? Oke, aku bisa berlenggang ria sekarang!” Kataku dalam hati…Hmmm..
“assalamu alaikum..aku pulang…!!!” salam pembuka ku sambil terus berjalan ke meja menghirup kopi kakakku tanpa melepas sepatuku.
“eh, gak sopan amat sih” gertakknya sambil memukul ringan tanganku yang masih memegang cangkir.
“apa sih bang..haus ini saya bang,haus..!! tega amat sama adik ndiri..”
“kamu dekil amat sih ta? Dari kampus apa dari sawah?”
“Ya Allah bang, dari kampus lah. Kalau saya dekil begini artinya saya serius belajarnya. Ampe muka saya pun gak saya perhatiin lagi ngurusin pelajaran mulu?”
“eehhh,,kamu kira aku gablek, gak pernah sekolah? Muka dekil mu ini bukan suntuk karena pelajaran tapi karena habis keluyuran khan? Ayoo ngaku, dari mana saja kamu?” teriaknya sambil menjewer kupingku.
“sudah..sudahh..!” lerai ibuku yang ku kira ia akan membelaku tapi ternyata..
“dari mana saja kamu? Jujur?” gertak ibuku. Aku memperhatikan wajah ayahku yang juga ekspresi sama, tanpa ada yang mengasihi ku sama sekali.
“tadi lagi nyari dana bu. Dari cek proposal di beberapa perusahaan tempatku dan teman-teman berharap di cairin proposal kegiatan kami?” aku mencoba memelas. Kali saja mereka luluh.
“ah tuh kan bu? Apa juga saya bilang? Dita ini ikut organisasi makanya dia jarang pulang. Saya sih setuju ajha Dit kamu berorganisasi tapi ingat jangan pulang lebih dari jam 3 sore?”
“Apa? Mana ada kegiatan yang bisa selesai sebelum jam 3? Mana juga ada urusan yang bisa selalu selesai sebelum jam 3? Ma..” belum habis aku membalas abangku, ayah lebih dulu memotong dengan sepotong ceramah pula. Mati saya..!!! habislah..!!!
“Dita, ayah lebih seneng kalau kamu dirumah, belajar, bantuin ibu, gak jalan sembarangan. Kamu itu anak perempuan ayah satu-satunya. Kalau bukan kami yang ngejaga kamu sapa lagi?”
“Tapi yah, kan dita juga gak kemana-mana yah. Dita belajar kok, bantuin ibu kok. Organisasi itu juga penting yah. Memang gak ada hubungannya dengan kuliahku tapi ini salah satu pengembangan diri juga. Kali ajha nanti pas Dita sukses jadi anggota dewan misalnya, Dita bisa jadi perempuan cerdas ngomong di depan umum. Ayah khan jadinya bangga juga punya anak yang berhasil”.
“Tapi, Ta. Kamu itu perempuan. Terlalu bahaya kalau kamu keseringan keluar. Ingat, perempuan itu paling rawan kena fitnah tetangga” terang abangku yang asli sok pintar sekali dia sekarang.
“bang, ya gak usahlah kita dengerin apa yang dibilang tetangga. Selama kita ngelakuin yang benar, gak keluar dari koridor, mempertahankan harga diri dan martabat agama ngapain mesti mikirin orang bilang apa? Jadi orang baik dan berguna itu gak mudah bang?”
Sore ini sedang rezekiku untuk bisa mengalahkan debat keluargaku. Aku menang walaupun tidak pada suatu waktu kemudian di saat aku minta izin ikut kegiatan.
“Ahh.. gak usah. Pake nginap lagi.” Ayah melarangku justru pada saat kegiatan organisasiku berlangsung esoknya. Ini sudah merengek ke 4 kalinya dan tetap saya mengalami kegagalan mendapatkan izin. Orang tua ku memang sangat otoriter dan begitu ketat kepada urusan anak-anaknya. Beliau mungkin trauma karena anak salah satu sahabatnya pernah kabur dari rumah bersama pacarnya yang juga seorganisasi dengannya, yang membuat setiap orang tua yang mendengarnya tentu miris dan hanya bisa menelan ludah sambil mengucap dalam hati kalimat “Naudsubillahi min dsalik”. Aku menutup perjuanganku itu dengan menghela nafas sambil menutup mata.
Ada sebuah sms yang masuh di hapeku pagi ini. Dari seorang teman organisasi yang mengingatkan kalau kami harus berada di lokasi kegiatan 30 menit sebelum kegiatannya di mulai mengingat kami harus bertindak professional sebagai panitia. Ku intip ruang tamu tempat ayah dan ibu ku menikmati pagi ini dengan minum teh hangat dan kue. Abangku masih tidur, pasti. Aku sudah mengeceknya tadi sebelum aku berpakaian rapi begini.
Jika ku coba kembali minta izin, bukan lagi tauziah yang ku dapat tapi malah mungkin saya akan di remas-remas ibuku. Pagi-pagi sudah buat orang tua geram dengan keinginanku yang terlalu banyak. Ah, dari pada begini mending aku kabur saja. ku buka jendela kamarku kemudian melompat keluar sambil berjinjit melewati pekarangan belakang rumahku dengan tangan kiri menenteng tas dan tangan kanan menenteng sepatu. Kenapa mesti lewat belakang? Karena ruang tamuku berada di depan. Kalau aku lewat depan 98% akan ketahuan kecuali mata ibu dan ayahku sudah juling maka mungkin aku bisa terbebas. “Astaghfirullah, dosa kamu ta”. Pekikku sendiri. Tidak hanya alasan itu, tapi karena pagar depan rumahku terlalu tinggi. Bukan hal yang aneh lagi jika pemilik rumah juga pernah terjatuh karena pagar itu terlalu tinggi. Salah satunya aku yang pernah jatuh karena ingin meraih buah mangga yang tingginya bisa kita raih jika berdiri di atas pagar itu. Kalau aku melewati pagar itu, kemungkinan aku akan kedapatan duluan sebelum berangkat. Alasan lain kenapa mesti lewat belakang karena di belakang sudah menunggu becak langgananku. Mas Apoi yang katanya jatuh cinta sama aku ini mau saja ku peralat untuk membantuku kabur dari rumah. Aku berhasil menyeberangi pagar rumah yang pendek itu. Mas Apoi sudah siap dengan rambut yang sepertinya telah ia sisir rapi dengan minyak rambut tokeknya yang ampun baunya menyengat kayak tawon. Fiuuhh…!!!
 “Ok bang, jalan” kataku pada Mas Apoi.
Tapi Mas Apoi masih juga tak menjalankan becaknya.
“Ada apa sih bang? Ayo jalan dah telat saya ini?”
“jadi begini cara kamu melawan orang tua hah?”
Aku menengok pelan dari arah suara dan ternyata…
Plaaakkkkk… sebuah tamparan panas mendarat di wajahku…!!!
Ternyata itu ayah.. Huhuu…!!! >.<
Aku cepat-cepat turun dari becak.
“Maafin Dita, Pak. Dita  Cuma pengen….”
“Kamu mau jadi anak yang berhasil tanpa restu orang tua juga kamu gak akan bisa. Kamu hanya akan jadi anak yang durhaka. Ngerti kamu?” gertak ayahku. Aku benar-benar melihat wajah marahnya itu. Nafasnya naik turun menahan amarahnya padaku.
Aku hanya bisa menangis sebelum aku memiliki kekuatan yang entah dari mana aku menentang ayah dengan lantang.
“Apa sih Yah, salahnya berorganisasi? Dita juga mau pintar yah, pengen kayak anak-anak lain yang punya banyak teman, kegiatan yang bermanfaat, bebas ngelakuin apa yang mereka mau.. dita juga mau punya masa remaja yang indah yah..” aku menangis tersedu-sedu di depan ayah. Aku benar-benar meluapkan perasaanku.
“Oke kalau itu mau kamu. Mulai hari ini jalani kehidupan yang kamu mau jalani. Jangan lagi pernah meminta pendapat ayah, jangan lagi bertanya pada ayah, jangan lagi meminta izin pada ayah, pokoknya lakukan saja apa yang kamu mau lakukan. Ayah capek dengan kamu. Kamu anak yang durhakaaa….!!!!”
Ttttoookkkk…!!!
“ahh, sakkiiitttt”
“ngapainnn?? Mikiirin pacarmu?”
“astaaggaa,,,abang..aku gak punya pacar bang… tadi aku Cuma mikirin sesuatu ajha.. Hmm”
“apaan emang?”
“Hehee,,kagak bang..kagak ada?”
Aku bercerita panjang lebar dengan abangku malam ini. Oia, yang kejadian pertengkaran di atas tadi itu Cuma pikiranku saja. bagaimana jika aku membangkang, kabur, dan melawan? Jelek khan hasilnya? Makanya aku menolak melakukannya meskipun aku harus kehilangan kesempatan untuk organisasiku. hehehe



Jumat, 15 Juni 2012

Shay (Kisah Kemanusiaan)

di Juni 15, 2012 0 komentar
Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku?

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu. Ayah tersebut melanjutkan: “Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia”

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,”Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?” Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, “kami telah kalah 6 putaran dan sekarang sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg seperti ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay. Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset, Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tersebut kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher.

Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke basement pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir. Sebaliknya, pitcher tersebut melempar bola melewati basement pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, “Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!”. Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.

Semua orang berteriak, “Lari ke base dua, lari ke base dua!” Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.

Semua yang hadir berteriak, “Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay” Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, “Shay, larilah ke home, lari ke home!”. Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia. Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Sebuah pepatah bijak yang mungkin seringkali kita dengar: sekelompok masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.

Minggu, 15 Januari 2012

Nafas Terakhir

di Januari 15, 2012 0 komentar
Senja itu matahari begitu enggan memperlihatkan cahayanya. Awan-awan berkejaran seakan ingin mengarak prosesi pekuburan jenazahku. Perlahan-perlahan tubuhku mulai di masukkan ke dalam liang lahat. Sanak family yang datang tertunduk haru bahkan ada yang tertahankan tangisnya. Rasa tak tega melihat jenazahku terbujur kaku didalam kubur
Inilah hari perpisahan yang paling getir dan menyesakkan dada. Setelah jenazahku di letakkan di dalam lubang dan tali pengikat kain kafan di lepaskan. Para penggali kubur menutupinya dengan kayu yang telah di siapkan. Dan lahat pun di jejal tanah dengan rapatnya

Inilah akhir episode kehidupankku di dunia ini
Dan mulai memasuki kehidupan yang baru di alam kubur

Mulai saat… ini aku hanyalah seseorang yang  namanya yang tertulis di Batu Nisan
Mulai saat ini… aku hanyalah seonggok bangkai yang menjijikkan
Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung
Di susul kemudian, rambut, kuku, tapak kaki,, dan tangan akan terlepas
Kulit dan jaringan tubuh akan tercerai berai
Pandangan yang sangat mengerikan ketika perut tiba-tiba pecah
Menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan
Bakteri dan serangga.. berkembang biak, menggerogoti tubuh
Hingga perlahan-lahan menghancurkannya dan menyisakan tulang-belulang
Aku mengalami akhir yang mengerikan.
Tak ada lagi kenangan akan hari-hari indah ketika di dunia
Aku sibuk meniti karir, sejak pagi hingga malam ku habiskan waktu untuk mengurus perusahaan
Mengecek pembukuan, mengikat kontrak baru, dan memperhatikan karyawan
Agenda yang padat, tidak memberiku ruang dalam memoriku tentang kematian
Aku berambisi setinggi langit menuju puncak kesuksesan
Tiba-tiba aku di kejutkan dengan Kematian, saat aku mengalami kecelakaan

Ya Allah, sesingkat itukah kehidupan dunia?
Padahal baru saja memiliki RUMAH IMPIAN yang belum lama aku tinggali
Namun kini aku menjadi penghuni PUSARA
Ruang tidur yang EMPUK DAN NYAMAN
Kini berbantalkan tanah berselimut KAFAN
Di halaman belakang rumahku tempatku melepas lelah..
Dan kini beristirahat dalam kubangan lumpur dan timbunan tanah
Istriku, begitu terpukul dan snagat sedih menangisi KEMATIANKU
Namun kini ia sudah bahagia, MENIKAH lagi dengan lelaki lain
Sedangkan aku, berbaring sendiri di cekam kesunyian
Tawa riang anakku, begitu bahagia saat menyambut kedatanganku
Kini berganti nyanyian sepi dan nestapa
Saham-saham, dan uang-uangku di beberapa perusahaan telah mereka ambil dan mereka bagi-bagi
Sedangkan yang ku bawa hanya sehelai kafan yang lusuh
Ya Allah, aku benar-benar kehilangan
Kehilangan waktu yang ku habiskan dengan sia-sia
Kehilangan kesempatan.. untuk bersujud di hadapanMu…
Kehilangan ladang.. untuk menanam pohon-pohon Amal Baikku…
Kehilangan seluruh harta yang dengan jerih payah telah aku kumpulkan..
Dan hanya sekeping rupiah yang ku sisihkan untuk bekal akhiratku…
Dan kehilangan orag-orang yang dulu mencintaiku…
Ya Allah, di pintu kkubur ini aku menunggu…
Menunggu doa-doa dari anak-anak yang telah aku besarkan
Tapi, mungkinkah mereka bias memeohonkan maaf atas satu saja dosa, yang pernah kku lakukan???
Bukankah aku.. telah teledor mendidiknya???
Kubiarkan mereka bebeas bergaul, sehingga menjadi anak yang hilang arah hidupnya
Lagu-lagu lebih mereka hapal, daripada SEBAIT “DO’A KESELAMATAN” untukku
Berlinang air mata tapi bukan menangisiku. Hanya karena film-film yang mereka tonton.
Terbangun di penghujung malam, tapi bukan untuk mendo’akanku melainkan duduk dan menonton bola.
Aku memang tak pernah mengajarkan mereka sepotong do’a. aku memang tak pernah mengenalkan mereka satu ayatpun dari Kitab suci-Mu. Dan aku tak pernah mengajarkan mereka, Sholat, Shaum dan Ibadah-ibadah yang lainnya.
Ya Allah sungguh aku termasuk orang-orang yang merugi.

PESAN PENTING:

Sesungguhnya manusia telah memilih bagaimana akhir hidupnya. Dan pilihan itu ada pada Bagaimana ia menjalani kehidupannya. Sebagaimana ia menjalani kehidupannya, seperti itulah kemungkinan besar ia akan mengakhiri kehidupannya. Karena sesungguhnya dengan menjalani kehidupan, berarti kita sedang berjalan menuju Kematian kita.

"Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu lari padanya, ia pasti menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. AL-Jumu’ah;8)
 

Lyu Fathiah Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review