Selasa, 11 September 2012

Uri Ne Chinguya

di September 11, 2012 2 komentar
KyuSung
Saya paling suka dengan Pict ini.
Mereka seperti mewakilkan kisahku, dengan seorang Teman. Kak Inchy.
Serumah selama kurang lebih kurang dari 3 Tahun, masih saja menjadi alasan kedekatan kami. Begitu merindukan kegiatan-kegiatan yang kini sudah tidak ada lagi. Ya, kami berpisah karena saya sudah tak lagi kost di sana.
Meski Ibu Kost kami yang galaknya seperti macan betina lagi di rampas makanannya, tetap saja tempat itu yang terbaik.
Tempat itu mengukir banyak sekali cerita, kejadian, kisah, dan sungguh aku merindukannya.
Tapi, aku lupa kapan kejadian pas nya kami bisa menjadi sangat dekat seperti gambar ini. Kyuhyun yang sangat di sukai kak inchy, dan aku yang begitu mengidolakan Yesung. Super Junior menjadi simponi persahabatan kami. 
Ada banyak orang yang telah menegur kami lantaran kami mengidolakan boyband yang 1 ini.
Contohnya saja ada seorang teman yang ikut menegur. Dia ini akhwat sejati. Dia bilang apa yang kami idolakan itu sangat tidak Islami. Mengidolakan mereka yang bukan dari dari kalangan kita orang Muslim, dan musik-musik yang juga ini sangat tidak Islami. Aku dan Kak Inchy tak pernah protes dan merasa ini berlebihan. Memang benar, ini salah. Tapi, kami hanya sekedar menyukainya saja. Tak sampai kami seperti para ELF yang menunggui SuJu di hotel sampai nginap ampe tiga hari hanya untuk mendapatkan tiketnya ketika mereka SS4 di jakarta. Kami tak seperti para ELF yang seasrama dengan Kak Asiz di Jepang di mana semua perabotnya adalah icon SuJu. Dari gelas, piring, sampai alat mandi pun semua SuJu. Ya, kami tak seperti mereka. Kami hanya menyukai mereka karena lagu-lagu mereka yang sangat easy listening. Persahabatan mereka yang juga tak kalah uniknya. Kami tak mengikuti modern, yang setiap ada yang baru maka kami juga mengikutinya. Tidak sama sekali. Kami memang menyukai apa yang kami anggap ini bagus.
Berawal dari hal-hal kecil ini, muncul lagi kebiasaan-kebiasaan yang nyaris sama antara kami. Kebetulan di kost-an itu, kamarku dan kamarnya kak inchy berdampingan. Di antara beberapa kamar, kamarku lah dan kamarnya kak inchy yang nyaris tak pernah ada asap mengepul (baca:gak pernah masak). Ya, kami malas masak. kami lebih senang makan di luar. Memilih menu apa yang akan melepas rasa lapar kami. Ketika tak ada lagi nafsu untuk makanan ala mahasiswa kost di luar sana, yang paling sering kami pilih adalah memasak "Indomie Coto Makassar" di temani dengan beberapa jeruk nipis dan cabe rawit. Kami terkenal di kost dengan kedekatan ini. Katanya kami ini benar-benar clop dan itu tak salah. Kami memang sangat clop. Selain MIE COTO MAKASSAR itu, nonton adalah rutinitas kami yang tak bisa di ganti lagi. Selalu saja ada alasan kenapa kami selalu punya waktu untuk nonton. 
Lagi di TO
Ketika kegiatan kami bertubrukan, kami mencoba mencari cara dan jalan lain agar bisa mendapatkan apa yang kami rencanakan. Ketika aku kuliah, kak inchy akan menungguku, begitupun seblaiknya. Ketika kak inchy sibuk, aku pun akan menunggunya. Aku ingat, ketika kak inchy KP di kampusku yang lagi dalam proses renove, dia yang anak teknik nangkring bebas di kampusku. Tapi, bukan berarti kami sering ketemu. Kami sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi JUJUR memang aku sempat bolos karena aku bertandang di tempatnya waktu itu. Kak Inchy lalu memperkenalkanku dengan teman-temannya walaupun sebelumnya memang aku sudah kenal dengan mereka di cerita-cerita kak inchy, maupun di fotonya. Di antara mereka ada kak arhul, kak nyul, kak anchu, kak itha, kak mila, kak inar, kak dhila. Aku kenal mereka semua. 
Kak Dhyla, Kak Arhul, dan Kak Inchy
Aku senang kenal dengan mereka semua karena pastinya, jumlah temanku kini bertambah. dari yang hanya sekmapusku saja, se-kostan ku saja, seorganisasi ku saja, kini aku sudah mengenal merka yang bukan sekampus denganku, juga tidak sejurusan denganku. Aku bahagia. :)
Inilah kami, inilah aku.
Aku begitu beruntung bisa mengenal mereka karena ketika aku bersama dengan mereka, aku nampak dan bahagia. Mereka anak teknik yang asli gokil habis, seru. Aku kadang cemburu dengan kak inchy yang punya sahabat-sahabat seperti mereka. aku tidak tahu apa mereka juga merasa beruntung mengenalku.. Hihihihi..
Kak Inchy, Kak Inar, kak Mila, kak Itha, dan kak dhyla
Tak hanya kak Inchy, aku pun memperkenalkan kak inchy dengan teman-teman dekatku. Alif dan Galyh.
Biar persahabatanku dengan kak inchy bisa tersebar ke mana pun.. Aku berharap sekali kami akan tetap seperti ini.
Selamanya.
Banyak yang ingin ku ceritakan tapi ini saja sudah membuat ku sangat merindukan saat -saat kami bersama.
namun, apalah lagi.
Kami ini hanya manusia biasa..
Kami ini hanya mahasiswa yang berhasil membangun keindahan kebersamaan.
Aku merasa, inilah cinta dari-Nya.
Aku menemukan kak inchy.
Kami ini adalah sahabat yang akan tetap seperti ini.
Malam seperti di foto ini takkan lagi pernah ada. Tempat nongkrong kami, di Air Mancur TC UIN itu akan menjadi saksi bisu saja akan kehadiran kami di malam-malam sebelumnya. Menata bias-bias cahaya yang telah terkurung kenangan yang tiada duanya,tiada gantinya,tiada samanya. Kami akan senantiasa merindukannya, meski sulit untuk memadukannya kembali. Ketika kelak misalnya kami sudah menjadi seorang Ibu, seorang Istri, kisah inilah yang akan kami ceritakan pada anak-anak kami. Anak-anak kami mungkin saja merasa ini tidak seseru kisah mereka nantinya, tapi mereka akan tetap harus mengetahuinya karena mereka anak-anak yang akan tetap bisa mengetahui sejarah panjang sang Ibu.
tapi, kami tidak akan membiarkan anak-anak kami kelak seperti kami. Kami ini banyak salahnya, banyak dosanya.
tentang SuJu, ya itu memang salah dan kami menyadari itu. Pondasi agama tentunya kelak akan bisa menyadarkan betapa hal-hal seperti ini akan sangat berpegaruh akan kelangsungan psikologi anak-anak kami. 
Air Mancur TC UIN (tempat Favorit kami)



Senin, 10 September 2012

Kamu,! Aku Bingung..

di September 10, 2012 0 komentar
Sebenarnya benar yang di katakan temanku. Aku memang Penasaran. Terlebih hanya pertautan waktu yang menghadirkanmu dalam episode waktu yang terbentang seketika saja. Rasanya memang terlalu munafik untuk jujur, dan membenarkan saja kalau memang aku ingin tahu saja. Sekedar itu saja.

Besok, aku menghentikan waktuku dengan seputik cerita yang begitu memutih dan menyebarkan aroma kebahagiaan untuk diary yang menungguku di ujung lain tempat di Bumi ini. Aku bingung. Apa aku bisa membuangmu segera setelah kenangan memang tinggal kisah? Ataukah kau akan tetap segar dalam ingatan seperti nailofar yang selalu segar?

Tentangmu, hanya aku, Tuhan, dan seorang kakak yang tahu..
Karena kau begitu mempesona,jadi hanya orang-orang tertentu yang berhak tahu tentangmu.

Tentang aku yang begitu terpesona, tentang aku yang begitu sumringah, tentang aku yang sedang kasmaran, aku menghadiahi mu dengan sepotong tulisan tentangmu.


Minggu, 09 September 2012

Sekilas tapi Indah

di September 09, 2012 0 komentar
Ada apa dengannya? Seharusnya dia sekarang sedang bisa membenteng lebih kuat agar tak mudah jatuh di kesalahan yang mungkin bisa lebih fatal? Ah, tidak. Dia kali ini tidak sedang melakukan kesalahan. Bukan salahnya.
Pertama kali melihat ketika Dhruva itu sedang mengambilkan makanan untuk Sang Ibu.
Beginikah dirimu?
Kalau Ya, maka tak salah lagi jika dia benar-benar bergetar karena mu.
Hingga saat ini sudah lewat dari beberapa jam sejak kau tersenyum padanya, dia tetap  mengingat persis wajahmu.

Untuk ukuran orang lain, kau mungkin biasa saja.
Tapi, bagi dia kau Dhruva.
Bintang yang takkan pernah berpindah tempat.
Itulah kau..!!!

-----

2 kali kita berada di tempat berdiri yang sama.
Awalnya, aku yang berada di belakangmu.
yang kedua, kau yang berdiri tepat di belakangku.
Aku masih bisa merasakan desahan nafas yang kau hembuskan 
ketika kau berada di belakangku meski jarak kita tidak terlalu dekat.
Terakhir kali nya, kau dan aku berhadapan.
Kita berhadapan.
Tidak untuk berbincang.
Tetapi, untuk Saling Salam tanda Pertemuan kita hari ini BERAKHIR di sini. Di hadapanku.
Senyummu aku masih ingat jelas, Dhruva.
Masih ingat.
Tak banyak Pintaku, hanya aku berharap Allah mempertemukan kita kembali.
Entah bagaimana situasi dan kondisinya nantinya.
Entah kau sedang berjalan, diam, membaca buku, sholat, atau bahkan ketika kamu sedang menggandeng tangan pacar/istrimu juga tak masalah.
Aku akan tetap tersenyum, padamu meski kau takkan melihat senyumku itu.

----

Lihatlah, dia sangat mengharapkanmu.
hatinya memilih kamu.
Dan kamu takkan pernah bisa menjadi Bintang tanpanya karena dia menjadikanmu inspirasi.
Baginya, Cintanya itu miliknya.
Tak mesti memilikimu, dia sudah cukup bahagia bertemu denganmu.

Dan dia, itu adalah aku.!



Sabtu, 08 September 2012

Aku Kagum..^_^

di September 08, 2012 2 komentar
-----
Pukul 08.12 menit.
Aku mencatat waktu ini karena aku suka momentum ini.
Kalau biasanya mereka nampak biasa,kali ini aku merasa dia tak biasa.
Pertama ia berdiri di depanku, ia tersenyum.
Aku hanya membalas seadanya saja.

Sebentar lagi, pesawat akan lepas landas.
Ketika semua orang sibuk dengan berbagai perbincangan-perbincangan tidak penting, DIA menjadi lain dari yang lain.
Dia kembali menengok kebelakang, ke arahku. DIA Tersenyum. Manisnya ya? Hihihi

Lalu, aku mengeluarkan skripsi dari dalam beg ku.
Saat itulah aku diam-diam melirik ke arah orang itu, cowok itu.
*Treett
Dia sedang mengaji.

aku mulai tidak konsentrasi.
Lagi, dan lagi, aku melirik ke arahnya.
Masih mengaji.

10 menit berlalu, aku mencoba konsentrasi.
20 menit berlalu, aku habis kebosanan.
30 menit berlalu, aku menguap.
setelah itu aku kembali melirik laki-laki itu.
Kali ini ia hanyut dalam do'a.

Kamu siapa?
Kamu membuatku kagum, kamu tahu?
Apa senyummu tadi memiliki makna?
Jujur, aku kegeeran dengan senyummu itu.

Aku senyum sendiri melihatmu dari sini..
Meski wajahmu yang sebelah kiri saja yang dapat ku lihat sekarang, tapi aku merasa aku kini bisa melihat wajahmu dengan jelas.

Ahh, sudah cukup.
Kau kini tercatat lagi dalam sejarah panjangku.
Aku memang tak mengenalmu, tak tahu tentangmu, tak tahu bagaimana dirimu, yang jelas AKU KAGUM..
Ahh, aku malu sendiri.. Hihihi


Ketika melangkah menuju pintu penjemputan, orang-orang mengerumunimu..!!!
"Kenapa?
Ada apa denganmu?" aku benar-benar heran dan bertanya-tanya.
Ku dengar salah 1 Ibu yang melewati ku menujumu, katanya Kamu Artis.
Hah? Artis?
Kenapa aku tak mengenalmu?
Kamu siapa?
Kenapa kamu tak begitu terkenal untukku, tapi membuatku kagum denganmu?
---

Haha, kali ini aku tertawa malu.
Aku mengagumi yang ternyata seorang Artis.



Kamis, 06 September 2012

Drie ster( 3 Bintang )

di September 06, 2012 0 komentar

Kemarin aku melawan segenap kebingungan yang entah dari mana saja asalnya.
Ada ada saja alasan mengapa aku selalu mengeluh dengan situasi yang hadir hari itu.
Keletihan-kelatihan yng menari-menari di ujung jari ku yang gemetar menahan lapar karena tak juga ada waktu untuk sejenak meninggalkan Kampus, berkejaran dengan dosen yang entah juga dari mana asalnya selalu saja ada alasan untuk berlari mengejar mencari mereka.
Supervisor yang ku lihat semuanya barusan di depanku, dengan semangat juang setinggi Menara Eiffel tiba-tiba terpecah 2 arah.
Ada yang belok kanan, ada yang ke ruang belakang.
Tentung.. Yg mana harus ku kejar?
Dari gaya'nya, Sprvisor 1 hendak keluar kampus (belum tentu bisa menemukannya kembali), yang ke-2 masuk ruangan.. Aman Pokoknya..!!!akhirnya ku kejar yang Sup.1 ku.. Ku tubruk sudut tangga yang tepat mengenai siku'ku,, 
"Haddyoohh.. Sakit.." Keluhku
"Edeehh.. Lamako, fa. Kejarmi cepat Bapak heh.. Maumi masuk di Mobilnya" Hardik temanku yang 1 Bimbingan dengannya Si Bapak 1.
"..."
Lari, lari, dan lari.
"Pakkkk...!!!" Teriakku yang membuat semua mahasiswa dalam dan luar kampus menidung arah teriakan (itu aku!)
3 minutes ago..Alhamdulillah selesai.
Mencari Sup.2 
"Pulangmi kak" Kata salah 1 Mahasiswa (kenapa na panggilka kakak? na tau umurku kah?hah,,dia kayaknya yg ngerasa muda.!!!
Setelah Pertarungan itu seharian,aku Pulang dengan sejuta rasa lelah..!!Aku lelah.
Aku lelah.
aku lelah..
Lalu aku berdo'a di pete-pete.
"Ya Allah, kasi ka kekuatan kasian. Kasi' kuat Ragaku, kasi kuat hatiku, kasi kuat teman2ku yang ku tempati mengeluh, kasi' kuat betisku,kasi'ka orang2 yang bisa bikinka semangat lagi..Aamiin" Sambil menelan ludah karena HAUS.

Do'aku tidak sia-sia.
Segala keajaiban, kenikmatan, dan kebahagiaan dari-Nya terbukti hari ini. 
Hari ini saya kaya akan ilmu kak..saya kaya sahabat..saya kaya semangat..saya kaya nasehat.. Saya SANGAT BERSYUKUR harii ini..

Hari ini ada 3 orang yang menjadi INSPIRATOR terbaikku.. 
1. Ma Yan (Seorang Gadis Kecil di Pedalaman Cina yang tempatnya tak tercatat barangkali dalam Peta dunia.. Dia sangat mencintai ILMU. Karena kekurangan menjadi sahbatnya,dia terpaksa menahan lapar,berpuasa selama 2 pekan hanya karena dia menabung untuk membeli sebuah PENA/PULPEN yang jika dia gunakan maka tulisannya akan semakin jelas yang hanya seharga 1 Yuan atau cuma Rp.1500.. Setiap harinya dia menempuh perjalanan perjalanan 20 km dengan JALAN KAKI di mana jalan yang ia lalui sarat akan PERAMPOK dan BINATANG BUAS yang senantiasa bisa memakan habis tubuh  mungilnya, dan mengambil semua barang2 miliknya yang tak berharga sama sekali sangking MISKINnya KAMPUNGNYA)


2.Kak Abdul Aziz Mustakim, (Seorang mahasiswa yang di kenal dari Sebuah social  media..Mahasiswa yang memberiku PESAN BERHARGA hari ini "ketika hatimu lelah dlm brjuang, ingatlah wajah2 mereka yg engkau perjuangkan!" yang ternyata menyentak kepalaku yang selama ini TERLALU BANYAK MENGELUH. Aku Terharu, aku Menangis)


3.Kak MahFuzah Hazirah, (Seorang Mahasiswi, yang aku tempel dirinya dalam dinding hidupku sebgai kakak yang seperti Peri..!!!) Terlalu banyak Kisah,ibroh,dan nasehat2 darinya yang tak bisa ku balas lagi.. ghansamidha :)Dengan ketabahan, dengan kebijakan2 yang kau lampiaskan di atas rasa marah, dengan sedikit sabar menghadapiku yang kekanak2an, dengan senyum yang selalu kau ikhlaskan untukku.. Dengan PERTEMANAN yang mau kau jalin dengan MANUSIA KERDIL SEPERTIku.. Hanya ku Balas, TERIMA KASIH..

Siapakah Besok yang akan jadi inspirator ku lagi Setelah Tempo lalu,PUTRA lah yang menjadi PEMENANG HARI-ku kala itu..!!!


Capekma mengetikk..!!!

(^_^ )

Rabu, 29 Agustus 2012

Malaikat Kecil di Bumi

di Agustus 29, 2012 0 komentar
Tak pernah mengira aku akan tersenyum kali ini sementara hati menahan satu gejolak dalam hati. Aku tersentuh melihat jemari tangan yang mungil, lengannya lemas tak berdaya, wajahnya menempel di dada nenek, dan matanya tertuju pada aku karena aku yang duduk berhadapan dengannya di sini. Angkutan umum yang telah mengukir satu sejarah padaku. Dia sedang dalam gendongan sang nenek yang tiap ada orang yang berkomentar tentangnya, nenek akan menciumnya. Ketika ia mendengar kritikan orang, ia akan tersenyum. Dia mengerti apa yang kami bicarakan, rupanya. Dan, ketika ku lap liur yang menetes dari bibir yang tak sempurna itu, ia menunduk dan tersenyum. Iya, dia sedang malu-malu padaku. Tantenya bilang, aku baik karena mau membersihkan liurnya dengan jariku sendiri tanpa alas. Aku bilang, karena aku kakaknya tante. Tante tentu saja tersenyum. Aku meringis, menahan haru.!
“namanya siapa,tante?”
“Putra, nak”
“Wahh.. Putra, kamu mau kemana? (sambil mengelus-elus tangannya yang mungil)”
“Hehehe.. Mau ke Maros Nakk. Jalan-jalan ke rumah keluarga” Kata Tantenya.
“Tante, lihat. Dia tersenyum padaku” Kini aku menyentuh wajah suci nan bersihnya. Aku sepertinya jatuh hati padamu, Putra.
“Dia malu tiap kali ada anak gadis yang berbicara tentangnya”
Dia tahu, aku anak gadis yang kini sedang berbicara tentangnya pada tantenya. Tapi, aku bertanya-tanya, ada apa dengannya? Kenapa keadaanya seperti dia sedang menikmati buaian yang takkan pernah berkesudahan? Aku ingin bertanya tante, tapi aku tak tahu harus mulai dari mana.
“Dia kenapa, Bu?” Tanya salah satu Penumpang.
“Dia.. Dia seperti inilah yang Ibu liat. Dia tidak normal” Tantenya menjelaskannya dengan hati-hati meski ku tahu dia mencoba menyembunyikan rasa sakit di hatinya, melihat ponakan yang harusnya kini bermain riang dengan anak-anaknya.
“Tidak, Bu. Dia normal kok. Dia hanya sedang menjalankan tugas dari Allah, tetap berbaring agar Allah bisa menjaganya dengan tanganNya sendiri” Aku menyerangi kata-kata berat tante tentang Putra.
“Ya, benar Nak. Karena penyakit tulang yang dokter bilang itu, ia mengalami keadaan seperti ini. Hanya berbaring saja kalau di rumah, melihat para sepupu-sepupunya berlari di sekitarnya. Tersenyum ketika ada yang menjenguknya, ketika kami mencoba berbicara padanya. Tapi, itulah dia. Menghibas lalat yang mengganggu wajahnya saja ia tak mampu. Ia malah hanya tetap tersenyum menahan geli di wajah yang di gelitik lalat. Dia hanya bisa menunggui kami ketika punya waktu baru bisa bermain dengannya, nak. Ibunya hanya dirumah tanpa suami…”
“Tanpa suami, tante?” Aku benar-benar tersentak kaget. Aku memotong pembicaraan tante pun dengan setengah sadar.
“Iyya, nak. Tanpa suami. Sejak lahir, Putra sudah di tinggal sang ayah. Entah sekarang di mana. Mungkin dia sudah mati dan aku juga berharap ia sudah mati. Ayahnya lari dengan perempuan lain, meninggalkan istri dan anaknya dengan sejuta beban, sakit, derita yang harus mereka tanggung. Melihat keadaan Putra yang seperti ini, apalagi yang bisa kami harapkan. Jika tak ada iman, mungkin bunuh diri sudah di lakukan.”
“Lantas, Putra biasanya makan apa tante?”
“yahh.. Hanya bubur dan susu nak.. apalagi?” tante menitikkan air mata.
Tapi, ada yang lebih membuatku merasa tak mampu lagi membendung air mataku. Putra, menangis. Dia menangis. Dia menitikkan air mata. Aku menghapus aliran air mata itu. Bersamaan dengan air mata ku yang mungkin sebentar lagi aku akan bisa membasahi separuh baju ku.
“Dia tetap mendengar tante, dia sepertinya tahu apa yang kita bicarakan”
“Ya, nakk. Dia mengerti setiap detail yang kita bicarakan. Ketika berbicara tentang dirinya, tentang kehidupannya, dia akan menangis seketika itu juga”
“Ya Allah, maafkan kakak ya Putra. Maaf, karena sudah buat kamu nangis. Maaf karena kakak sudah buat kamu ingat masa yang harusnya kamu buang. Tapi, gak papa, Putra. Inilah awal persahabatan kita. Aku akan bisa semakin dekat denganmu dengan aku tahunya kehidupan kamu. Usia Putra sekarang berapa? (aku bertanya seolah-olah aku yakin Putra akan menjawabku. Aku berharap dia akan menjawabku walaupun MUSTAHIL karena dia tidak bisa berbicara. Aku yakin, dengan tatapannya sekarang padaku dia akan menjawabku. Aku yakin akan turun mukjizat dari Allah)”
“17 Tahun, nak.” Tante menjawab pertanyaanku. Bukan Putra.
Aku menghela nafas yang teresak-esak dan tertahan di tenggorokan. 17 Tahun?
“Dia sudah jadi laki-laki dewasa, sudah kelas 3 SMA andaikan dia normal”
“Tidak tante, sekarang dia juga sudah jadi laki-laki dewasa menurutku. Hmm, (kembali menatap Putra)… Kamu 17 Tahun, kakak sebentar lagi akan genap jadi 21 Tahun. Aku kakak kamu 4 Tahun, Putra. Kamu sekarang aku nobatkan jadi adik baru ku. Mau?” Putra tersenyum malu, dan kini ia menggerak-gerakkan kepalanya, dan menurut tantenya ia kegirangan. Aku kini kakakmu, Putra. Kamu adikku, kamu Sahabatku. Kamu mengajari ketidaksempurnaan yang mungkin kelak, kamu akan langsung berhadapan dengan Allah tanpa harus mengikuti ritual semua manusia di dunia. "Putra, kakak mau bilang sama kamu..kamu jauh lebih baik dari kakak.kamu lebih beruntung dari kakak..kamu tdk harus mengikuti dunia ini..kamu tahu Putra?Dunia ini kejam dekk..makanya kau tetaplah begini..biar aku,dan mereka saja yang tetap menyayangimu".. Kamu itu Istimewa, Putra.. Karena kamu, Suci. Karena kamu, Putih. Karena kamu, Putra.
Dan kini, kamu menjadi Putra-ku..!!!
Terima Kasih, Putra telah tersenyum padaku…!!!




Jumat, 17 Agustus 2012

MERINDUIMU SEKIAN KALI (Mahfuzah hazirah)`

di Agustus 17, 2012 0 komentar
Entah kapan pas nya saya mengenalnya..tidak tercatat waktunya, tanggalnya, harinya.. Saya hanya mengingatnya ketika itu saya dalam keadaan sangat kesepian di kamar kost. Ah, sudahlah.. tak perlu mengenang saat pertama mengenalnya. Ada suatu kisah yang tak ingin ku ungkit.
Banyak sekali kejadian lucu yang mengiringi langkahku berteman dengannya. Seorang sosok wanita yang benar-benar jauh dari pikiran sempitku. Ku pikir waktu itu, dia hanyalah seorang perempuan biasa. Berjilbab pastinya sudah ku yakini namun tak ku sangka dia akan membuatku pulang dengan seonggok rasa malu. Malu dengan diri sendiri.
Lucu sekali ketika aku menyandingkan diriku dengannya di lembar foto..jauh berbeda Ya Robb. Dia yang begitu anggun, wajah cerah karena wudhu yang selalu membasahinya, baju kurung, jilbab lebar, hati yang begitu suci. Ahh, benar-benar membuatku tak jadi membusungkan persahabatan. Mengalir begitu saja seolah kami telah lama mengenal.. Tapi, tidak. Baru sekali itu saja.

Ahhh,, saya ingat sekali ketika saya sedang sakit di kost dia datang. rutinitasnya sebagai Dokter tak sedikitpun runtuh niatnya menjengukku. Allah saksinya, saya hanya bisa menangis.. Tak ada temanku yang pernah melakukannya. Mungkin ya sebagai orang lain ini biasa saja tapi ini sangat berharga buat saya sendiri. Alasannya? Ya mungkin sedari kecilku tak pernah ada Teman yang melakukan ini untukku. Memang hal pertama yang paling indah adalah sesuatu yang kita dapatkan yang belum pernah kita miliki memang sebelumnya. Tidak mudah memiliki sahabat sepertinya, Ya Robb.

Hari ini mungkin saya memilikinya, tapi ketika saat di mana dia harus kembali ke negeri Jiran maka sudah usai pula ceritaku tentangnya. Belajar dari dia menyikapi masalah, lembut pada setiap sikapku yang liar, tertawa meski mungkin di tiap cerita-ceritaku tak semua yang lucu. Ketulusannya mendengar cerita-ceritaku yang mungkin saja telinganya panas mendengarku yang tak hanya saya saja yang harus dia temani. Ada banyak sekali pasien yang membuatnya penat hari ini, kerjaan yang bejibun itu tak lantas mengeluh dengan ocehan-ocehanku, keinginan-keinganku yang tak sesuai inginya, menunda waktu tidurnya karena harus menemaniku berceloteh ketika ku bertandang di kamarnya. Harusnya dia mengeluh? Tapi, tak pernah sekalipun ku dengar kata-kata kasar dari bibirnya. tak pernah dia ku dapati mengajarkanku hal-hal yang negative bahkan semua yang ku dapatkan darinya adalah Pelajaran.

Di danau ini kau selalu bercerita pada Alam. tak semua yang kau alami itu kau hadapi dengan tenang saja. Kau juga wanita biasa.. Dan di tempat ini pula aku telah melepas sedihku ketika hari itu kau juga akan kembali ke malaysia. mungkin tak lama, hanya 2 pekan. tapi, tetap aku akan merasa ada setitik sepi untukku. Untuk hapeku.. Hihihi.. cepat pulang ya kak...!!!!


jum'at, 17 Agustus 2012 (14:12)
Batangan Oriza Sativa yang mencoba tetap segar layaknya Nailofar...!!!

Hanya Ingin Belajar, Dikk..!!!

di Agustus 17, 2012 0 komentar
Adikku,
Sekedar ku ingin mengatakannya padamu.
tak ada sedikitpun ku ingin mengajari mu,dik..!!!
Tak ada.. Aku hanyalah seorang kakak yang mencoba belajar menjadi kakak yang baik
Meskipun ku tahu, terlalu terlambat untuk melakukannya karena kini kau sudah gadis, sepertiku..!!!

Adikku,
kemarin ku lihat handphone mu berdering begitu sering.. Tak ada yang berbeda dengan biasanya. Namun, kini aku melihat handphone itu dengan segunung pertanyaan di kepalaku. Apa kini kau sudah pacaran?
tapi tak ingin ku kotori pikiranku tentangmu.. Saya percaya kau tidak melakukannya..!!!
Maaf, dik.. Tapi aku masih saja mengkhawatirkanmu.
Mungkin saja kini kamu tak ingin lagi di jaga karena usia mu yang tak lagi muda.
aku pun pernah sepertimu dik,percaya.
ketika aku merasa sudah dewasa, tak ingin lagi ku di awasi seperti anak kecil dik.. ketika Ibu selalu menghujaniku dengan sejuta petuah-petuah yang kini ku sesali karena dulu ku anggap semua itu TIDAK BERGUNA UNTUKKU.

Adikku,
kemarin ku lihat kau tertawa lantang..wajahmu berseri-seri merona merah.. Tak biasanya kamu seperti itu mengingat aku mengenalmu dari kecil sebagai sosok yang pendiam dan lebih senang menyendiri..
ada apa dik?apa kau sedang jatuh cinta?
Iyyakah???

Adikku,
Maaf jika aku tidak adil..
Maaf jika kau merasa aku kini mengekangmu..
Maaf jika kini aku berbeda seperti yang kamu kenal 20 tahun yang lalu..
Ya, aku kini sudah berjilbab dikk.
Aku sudah 21 Tahun..
Aku mau lebih baik di usiaku ini sampai kesempatanku untuk berada di sisimu habis,dik..!!!!

Adikku,
Aku kini melarangmu PACARAN.
benar-benar melarangmu.
Lebih baik kau memalingkan wajahmu ketika ku berbicara padamu, tak apa..
Asal kau mau berjanji untuk tidak PACARAN.

Adikku,
aku melarangmu bukan karena aku tak ingin melihatmu bahagia..
Cinta yang kau dapatkan di hubungan semacam itu hanya akan menyakitimu dan Tuhanmu..

Adikku,
Andai aku tak tahu dan mungkin tak pernah tahu tentang BAHAYA dan MUDHARAT PACARAN maka aku takkan melarangmu.
AKu tak pernah merasa lebih hebat, lebih tahu, lebih pintar, dan bahkanlebih dewasa darimu.. Tidak Pernah dik..
Aku hanya Seorang Kakak yang mencoba belajar menjadi kakak yang baik untukmu dan adikku yang lain..

Senin, 30 Juli 2012

Itu Cuma Pikiranku..!!!

di Juli 30, 2012 0 komentar

Langkahku sangat berat untuk kembali kerumah siang ini. Pukul 16.24 itu harusnya aku merasakan angin sepoi-sepoi yang menghangatkanku, membuatku sedikit terbang melayang meski tak bersayap, dan mungkin saja sedikit memberikan ku rasa relax sambil menikmati langkah-langkah kecilku sebelum sampai ke rumah. Tapi, sore ini benar-benar masih terasa panas. Baju ku sudah basah karena peluh, jilbabku sudah tak beraturan lagi bentuknya, dan sepatuku berlapis debu. Ku bayangkan wajah ibuku saat aku sampai rumah. Mungkin beliau akan bilang “dari mana saja kamu jam segini baru pulang?” dan ayahku mungkin juga berkomentar “kalau tidak ada urusan kampus lagi, lebih baik langsung pulang saja” atau bahkan abangku pun ikut menyumbangkan komentar yang selalu membuat ayahku khawatir “habis jalan sama cowokmu? Gadis berjilbab kok pacaran? Anak siapa sih itu? Anak ayah atau ibu? Saya ajha yang cowok gak pacaran”. Grrrr… sangat tak pernah ia membuatku sedikit nyaman di dekatnya kecuali pada saat ia melukisku. Ya, abangku sangat pandai melukis. Ketika ia melukisku, saya merasa menjadi perempuan paling cantik di dunia karena ia selalu melihat wajahku sambil tersenyum. Seolah-olah ia benar-benar menikmati kecantikanku. Aahh.. Indahnya.. hahaha.. tapi, Itu Cuma pikiranku.
Tak salah lagi, mereka bertiga lengkap di teras rumah. Ku lihat dari mataku yang sedikit menyipit mengintai mereka dari jarak tak jauh dari rumahku sekitar 10 m. cukup dekat, cuma karena saya sedang bersembunyi di balik deretan pot bunga mahalnya ibu dokter yang juga tetanggaku maka al-hasil juga aku tak keliatan sama sekali. Ku pelajari ekspresi mereka sebelum melengleng masuk kerumah. Ini untuk mewanti-wanti agar aku tak kena marah nantinya!! Itu Cuma pikirku saja. “Sepertinya mereka sedang bersantai? Oke, aku bisa berlenggang ria sekarang!” Kataku dalam hati…Hmmm..
“assalamu alaikum..aku pulang…!!!” salam pembuka ku sambil terus berjalan ke meja menghirup kopi kakakku tanpa melepas sepatuku.
“eh, gak sopan amat sih” gertakknya sambil memukul ringan tanganku yang masih memegang cangkir.
“apa sih bang..haus ini saya bang,haus..!! tega amat sama adik ndiri..”
“kamu dekil amat sih ta? Dari kampus apa dari sawah?”
“Ya Allah bang, dari kampus lah. Kalau saya dekil begini artinya saya serius belajarnya. Ampe muka saya pun gak saya perhatiin lagi ngurusin pelajaran mulu?”
“eehhh,,kamu kira aku gablek, gak pernah sekolah? Muka dekil mu ini bukan suntuk karena pelajaran tapi karena habis keluyuran khan? Ayoo ngaku, dari mana saja kamu?” teriaknya sambil menjewer kupingku.
“sudah..sudahh..!” lerai ibuku yang ku kira ia akan membelaku tapi ternyata..
“dari mana saja kamu? Jujur?” gertak ibuku. Aku memperhatikan wajah ayahku yang juga ekspresi sama, tanpa ada yang mengasihi ku sama sekali.
“tadi lagi nyari dana bu. Dari cek proposal di beberapa perusahaan tempatku dan teman-teman berharap di cairin proposal kegiatan kami?” aku mencoba memelas. Kali saja mereka luluh.
“ah tuh kan bu? Apa juga saya bilang? Dita ini ikut organisasi makanya dia jarang pulang. Saya sih setuju ajha Dit kamu berorganisasi tapi ingat jangan pulang lebih dari jam 3 sore?”
“Apa? Mana ada kegiatan yang bisa selesai sebelum jam 3? Mana juga ada urusan yang bisa selalu selesai sebelum jam 3? Ma..” belum habis aku membalas abangku, ayah lebih dulu memotong dengan sepotong ceramah pula. Mati saya..!!! habislah..!!!
“Dita, ayah lebih seneng kalau kamu dirumah, belajar, bantuin ibu, gak jalan sembarangan. Kamu itu anak perempuan ayah satu-satunya. Kalau bukan kami yang ngejaga kamu sapa lagi?”
“Tapi yah, kan dita juga gak kemana-mana yah. Dita belajar kok, bantuin ibu kok. Organisasi itu juga penting yah. Memang gak ada hubungannya dengan kuliahku tapi ini salah satu pengembangan diri juga. Kali ajha nanti pas Dita sukses jadi anggota dewan misalnya, Dita bisa jadi perempuan cerdas ngomong di depan umum. Ayah khan jadinya bangga juga punya anak yang berhasil”.
“Tapi, Ta. Kamu itu perempuan. Terlalu bahaya kalau kamu keseringan keluar. Ingat, perempuan itu paling rawan kena fitnah tetangga” terang abangku yang asli sok pintar sekali dia sekarang.
“bang, ya gak usahlah kita dengerin apa yang dibilang tetangga. Selama kita ngelakuin yang benar, gak keluar dari koridor, mempertahankan harga diri dan martabat agama ngapain mesti mikirin orang bilang apa? Jadi orang baik dan berguna itu gak mudah bang?”
Sore ini sedang rezekiku untuk bisa mengalahkan debat keluargaku. Aku menang walaupun tidak pada suatu waktu kemudian di saat aku minta izin ikut kegiatan.
“Ahh.. gak usah. Pake nginap lagi.” Ayah melarangku justru pada saat kegiatan organisasiku berlangsung esoknya. Ini sudah merengek ke 4 kalinya dan tetap saya mengalami kegagalan mendapatkan izin. Orang tua ku memang sangat otoriter dan begitu ketat kepada urusan anak-anaknya. Beliau mungkin trauma karena anak salah satu sahabatnya pernah kabur dari rumah bersama pacarnya yang juga seorganisasi dengannya, yang membuat setiap orang tua yang mendengarnya tentu miris dan hanya bisa menelan ludah sambil mengucap dalam hati kalimat “Naudsubillahi min dsalik”. Aku menutup perjuanganku itu dengan menghela nafas sambil menutup mata.
Ada sebuah sms yang masuh di hapeku pagi ini. Dari seorang teman organisasi yang mengingatkan kalau kami harus berada di lokasi kegiatan 30 menit sebelum kegiatannya di mulai mengingat kami harus bertindak professional sebagai panitia. Ku intip ruang tamu tempat ayah dan ibu ku menikmati pagi ini dengan minum teh hangat dan kue. Abangku masih tidur, pasti. Aku sudah mengeceknya tadi sebelum aku berpakaian rapi begini.
Jika ku coba kembali minta izin, bukan lagi tauziah yang ku dapat tapi malah mungkin saya akan di remas-remas ibuku. Pagi-pagi sudah buat orang tua geram dengan keinginanku yang terlalu banyak. Ah, dari pada begini mending aku kabur saja. ku buka jendela kamarku kemudian melompat keluar sambil berjinjit melewati pekarangan belakang rumahku dengan tangan kiri menenteng tas dan tangan kanan menenteng sepatu. Kenapa mesti lewat belakang? Karena ruang tamuku berada di depan. Kalau aku lewat depan 98% akan ketahuan kecuali mata ibu dan ayahku sudah juling maka mungkin aku bisa terbebas. “Astaghfirullah, dosa kamu ta”. Pekikku sendiri. Tidak hanya alasan itu, tapi karena pagar depan rumahku terlalu tinggi. Bukan hal yang aneh lagi jika pemilik rumah juga pernah terjatuh karena pagar itu terlalu tinggi. Salah satunya aku yang pernah jatuh karena ingin meraih buah mangga yang tingginya bisa kita raih jika berdiri di atas pagar itu. Kalau aku melewati pagar itu, kemungkinan aku akan kedapatan duluan sebelum berangkat. Alasan lain kenapa mesti lewat belakang karena di belakang sudah menunggu becak langgananku. Mas Apoi yang katanya jatuh cinta sama aku ini mau saja ku peralat untuk membantuku kabur dari rumah. Aku berhasil menyeberangi pagar rumah yang pendek itu. Mas Apoi sudah siap dengan rambut yang sepertinya telah ia sisir rapi dengan minyak rambut tokeknya yang ampun baunya menyengat kayak tawon. Fiuuhh…!!!
 “Ok bang, jalan” kataku pada Mas Apoi.
Tapi Mas Apoi masih juga tak menjalankan becaknya.
“Ada apa sih bang? Ayo jalan dah telat saya ini?”
“jadi begini cara kamu melawan orang tua hah?”
Aku menengok pelan dari arah suara dan ternyata…
Plaaakkkkk… sebuah tamparan panas mendarat di wajahku…!!!
Ternyata itu ayah.. Huhuu…!!! >.<
Aku cepat-cepat turun dari becak.
“Maafin Dita, Pak. Dita  Cuma pengen….”
“Kamu mau jadi anak yang berhasil tanpa restu orang tua juga kamu gak akan bisa. Kamu hanya akan jadi anak yang durhaka. Ngerti kamu?” gertak ayahku. Aku benar-benar melihat wajah marahnya itu. Nafasnya naik turun menahan amarahnya padaku.
Aku hanya bisa menangis sebelum aku memiliki kekuatan yang entah dari mana aku menentang ayah dengan lantang.
“Apa sih Yah, salahnya berorganisasi? Dita juga mau pintar yah, pengen kayak anak-anak lain yang punya banyak teman, kegiatan yang bermanfaat, bebas ngelakuin apa yang mereka mau.. dita juga mau punya masa remaja yang indah yah..” aku menangis tersedu-sedu di depan ayah. Aku benar-benar meluapkan perasaanku.
“Oke kalau itu mau kamu. Mulai hari ini jalani kehidupan yang kamu mau jalani. Jangan lagi pernah meminta pendapat ayah, jangan lagi bertanya pada ayah, jangan lagi meminta izin pada ayah, pokoknya lakukan saja apa yang kamu mau lakukan. Ayah capek dengan kamu. Kamu anak yang durhakaaa….!!!!”
Ttttoookkkk…!!!
“ahh, sakkiiitttt”
“ngapainnn?? Mikiirin pacarmu?”
“astaaggaa,,,abang..aku gak punya pacar bang… tadi aku Cuma mikirin sesuatu ajha.. Hmm”
“apaan emang?”
“Hehee,,kagak bang..kagak ada?”
Aku bercerita panjang lebar dengan abangku malam ini. Oia, yang kejadian pertengkaran di atas tadi itu Cuma pikiranku saja. bagaimana jika aku membangkang, kabur, dan melawan? Jelek khan hasilnya? Makanya aku menolak melakukannya meskipun aku harus kehilangan kesempatan untuk organisasiku. hehehe



 

Lyu Fathiah Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review