Jumat, 21 November 2014

R, T, U, Huruf atau Taqdir?

di November 21, 2014 0 komentar
Kata orang hukum Karma itu berlaku. Percaya atau tidak. Banyak yang mengiyakan, seolah ingin membenarkan apa yang di alaminya pun juga pernah ia lakukan pada orang lain. Mengapa demikian? Bukankah itu tidak konsekuen pada taqdir yang telah tertulis dalam Kitab Suci Manusia? Gak ngerti?

Maksud saya.
Misalnya saya menipu Rere, saya memberikan informasi yang salah padanya. Sehingga membuat Rere melakukan kesalahan dalam bekerja. Di waktu yang lain, saya mengalami hal yang sama. Saya di berikan informasi yang salah oleh orang lain. KARMA. Lalu, apa KARMA juga termasuk dalam Lauhul Mahfudz?

Lalu, karena misalnya, Bos memarahi saya dan memarahi adik saya, ini bisa di katakan apa? Pelampiasan yang bukan objeknya? Sifat turunan? Ataukah Hukum Alam? Berdosakah saya jika memang itu hukum turunan? Kan saya begitu karena di kasi begitu? Gak benar ya?

Memikirkan ini benar-benar terasa menjenuhkan. Seperti apakah hidup ini? Mengapa rasanya tidak ada kejelasan bahwa FAKTA itu benar-benar berasal dari apa yang terjadi bukan karena KARMA, HUKUM ALAM, atauka TAQDIR.

Ini metafora pemikiran yang semakin menyipit.

Jumat, 18 Juli 2014

Simulasi CAT CPNS 2014

di Juli 18, 2014 0 komentar
Ini pertama kalinya saya mengikuti antek-antek tentang PNS. Pekerjaan yang masih saja menjadi pekerjaan yang paling di incar di Indonesia utamanya di Makassar ini benar-benar menampar saya. Panjangnya sampe 30 m di belakangku dan 10m di depanku sebelum akhirnya saya keluar dari antrian.
Kenapa?
Karena, di luar ada ribuan oang yang ingin mendaftar, tapi Aula juga sudah penuh 2000an peserta. -_- Kami pun memutuskan keluar dari antrian. :D

Selamat Belajar teman. :)
Kita pasti bisa.

Minggu, 13 April 2014

Ini (Bukan) Yang Terbaik

di April 13, 2014 0 komentar
Sarjana. Kata yang (dulu) paling di dambakan setiap orang tua jika anaknya telah menyandang Gelar tersebut. Namun, namanya manusia. Tak pernah ada puasnya. Setelah terpontang-panting menyelesaikan study dengan segala pernak-perniknya dosen (red: di persulit), muncullah harapan-harapan baru lagi  dari orang tua, keluarga, dan atau orang sekitarnya "kita". Harapannya bukan di ucapkan langsung, misalnya "Alhamdulillah, setelah S1 nikah aja ya". Melainkaaaaan, di ucapkan melalui *Sindiran*. -____-
Contoh -Nyata- :
1. Kapan Nikahnya? (khususnya cewek nihhh paling sering di tanya gini). Udah Sarjana kok belum ada yang datang ngelamar? Secara halusnya, "Si Becce udah nikah loh, dah Sarjana pula, suaminya kerja di -iniituini- trus gajinya -segambrenggini-, orangnya cakep, orang tuanya punya -inionoenee-. Dan, bla bla bla.
2. Kerja dimana? Gajinya berapa? *Jrengjreng* | Ini yang paling nyesekin. Semuanya pada tahu. Sarjana artinya orang yang pintar (pemahaman orang dahuoloe kala) dan kalo kamu udah Sarjana dan masih belum kerja (gak bagus juga di bilang Pengangguran), minimal saja kamu Sarjana Hukum (misalnya) lalu kamu kerjanya di Perusahaan Kasur, maka kamu, mereka, dan juga saya masuk dalam kategori Sarjana Gagal. -__-
3. Nggak lanjut S2? Kan, Sekarang S1 udah gak laku tuh? Udah setara SMA | Tahu tidak rasanya itu 'sakit' banget. Sudah ngarep nikah sama Esmud (Red: Eksekutive Muda), kerja pengennya sesuai jurusan dan dapat gaji gede' ehh tahu-tahu nganggur juga udah tahunan di rumah ngerepotin mama sama bapak, dan parahnya di singgung soal S2? S1 aja kerepotan nyelesaiin bahkan ada dosen yang nyeletuk, "Kalopun kamu Lulus nantinya, itu cuma berkat do'a aja bukan karena kamu mampu" #Behik. Ini lanjut S2? Apalagi soal 'biaya', kasian orang tua kan? (Kita pasti masih jadi anak yang gak baik yang nggak mau ngerepotin orang tua) Untuk bayarkan S1 aja, orang tua sampe gadein si "Martin" alias Kambing bunting yang udah lama banget di piara Bapak buat biaya nikah anaknya. Jatuh tempo, Bapak gak bisa ngembaliin uang hasil penggadaian si Martin, dan lalu, dengan berat hati bapak melepas Martin. Cinta memang gak harus saling memiliki memang. Asal si Martin tahu, Bapak cinta banget sama dia. Di tambah anaknya si Bapak (yah kita ini) tahu-tahu jadi pengangguran juga. (__")

Itulah!
Berbagai alasan Pasca Sarjana.

Nah, panjang banget kata pengantarnya padahal saya cuma mau bilang di sini, BAHWASANYA, saya berniat lanjut S2 (udah ada niat nih, alhamdulillah) berkat Bapakku yang ngasi alasan mengapa saya harus lanjut S2. Dan, saya pun mendaftar sesuai sarannya. Bapak selalu menempati Posisi teratas dalam Hidupku, setelah Mama (artinya bukan yang teratas ya?hmm). Tes-nya pun sudah. Malah saya berasa jadi kayak orang cerdas bangeeet gitu pas Ujiannya. Gimana nggak? Kanan kiri-ku, orang-orang pada nengok LJ-ku! Hahaha.

Selasa, 8 Februari 2014.
Pengumuman Mahasiswa baru Pascasarjana UNM Tahun 2014/2015

Atas nama Ulfa Hidayati, S.Pd
---- DINYATAKAN ANDA TIDAK LULUS ----


Isi dada-ku terkoyak. Meringis menahan sakit. Meskipun saya sudah mewanti-wanti ini sebelumnya, tetap saja PERIH, man! :'(
Jangan Salah. Saya nggak lulus, bukan berarti teman-teman yang tadinya NYONTEK juga gak lulus. MEREKA LULUS dan bahkan namanya di puncak teratas, bo'! (Setidaknya saya membuat mereka lulus dengan jawabanku) Grrrrrr!
Seorang laki-laki gak berperasaan mengatakan, "Alhamdulillah, sabar dek. Ini Yang terbaik. Terima ya. Allah pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik insya Allah".
Laki-laki itu, Muhammad Danial Muchtar. #Jhiyyyaaaattttt
Tapi benar adanya. Setelah saya ingat-ingat. Memang saya yang telah berdo'a, "Berilah yang terbaik untukku Ya Allah. Jika saya mampu melanjutkannya di Matematika lagi dan di UNM lagi, maka luluskanlah saya. Jika tidak, gantikanlah Ya Allah dengan Yang Lebih Baik".
Allah menjawab.
"UNM bukan yang terbaik. Yang terbaik ada di tempat lain. Tunggulah! Sabarlah!"


Sabaaarrrr!!! :) :) :)

Jumat, 01 November 2013

Karena Saya Ada

di November 01, 2013 0 komentar
Kini ia sudah berusia 23 Tahun. Tumbuh menjadi laki-laki yang dewasa. Siapa sangka dia menjadi seorang laki-laki dengan proses lingkungan yang membentuknya tanpa bantuan seorang laki-laki Mulia yang membawanya mengenal DUNIA. Ayahnya. Yah, benar. Dia besar dan tumbuh tanpa Ayah. Tapi, dia tetaplah menjadi laki-laki seperti Ayahnya meski belum menjadi seorang Ayah. 

Kalau dia mempunyai 2 Tuhan, maka yang ke-2 itu adalah Ibunya. Ibu yang merawatnya, sejak ia lahir dan semakin tertatih merawatnya, sejak suaminya meninggal dunia di saat anaknya, masih berusia 5 Tahun. Anaknya, laki-laki muda itu, masih terlalu kecil, masih belum tahu bagaimana itu kehilangan. Masih belum bisa menangis karena sadar akan beratnya beban sang Ibu harus merawatnya sendiri. Masih belum mampu menopang keletihan dan beratnya kehidupan seorang Wanita yang baru saja menjadi Ibu, dan kini telah menjadi seorang Janda, dan laki-laki muda itu masih tidak tahu bagaimana semua itu.

Kewajiban seorang suami dalam mencari nafkah, adalah salah satu jalan jihad. Berjuang demi anak dan istri, lillahi ta'ala. Saking beratnya kewajiban itu, Arsy-Nya bergetar saat Ijab Qabul di lakukan. Jelas saja banyak orang yang mengatakan "Nikah tuh gak gampaaang". Gak asal membawa anaknya orang menjadi istrinya saja, tapi juga semua yang ada dan yang akan di lakukan si istri akan menjadi tanggung jawab sang suami. Ketika si Istri meninggalkan segala kenikmatan yang ada di rumahnya dulu, ketika bersama orang tuanya, dia tinggalkan, dan berjuang memulai kehidupan yang baru, bersama Imam barunya, bersama laki-laki yang akan menentukannya masuk ke dalam surga atau Neraka.

Perempuan muda itu tak menyangka bahwa penantiannya sebagai Istri yang baik di rumah, mengurus segala sesuatunya, menyiapkan segala sesuatunya, harus di lalui sendiri, esoknya, tanpa suami lagi. Setelah sebelumnya dokter berusaha menyelamatkan nyawa suami-nya, namun Allah masih jauh lebih menyayanginya.

Perempuan mana yang ingin Janda? Tidak ada. Siapapun perempuan itu, sekuat apapun dia, tidak akan pernah mau dia menjadi seorang Janda. But, life must go on. Anak itu, dia adalah titipan. Bertahan adalah pilihan yang paling pas meski ia sadar, ini tak akan mudah. Teringat kembali, saat suaminya dulu meminangnya, dengan berani melakukan Ijab Qabul, dan semuanya selesai, tugasnya kini tuntas menjadi seorang Istri yang ia rasakan masih sangat sebentar. Namun, menjadi seorang Ibu masih berlanjut. Hingga kini. Dan, kini anak laki-laki itu sudah mampu menceritakan kisah Ibu-nya, kisah diri-nya yang dulunya tak tahu apa-apa saat ayahnya wafat. Semuanya berjalan seperti waktu yang tak pernah berhenti berdetak. Allah mendekapnya dalam kesibukan-kesibukannya sebagai laki-laki muda, tanpa terasa hingga usianya kini 23 Tahun. Sudah lebih dari 18 Tahun, ia melihat Ibu-nya sebagai wanita super dan membayangkan wajah ayah-nya yang bertanggung jawab.

"Kenapa Ibu-mu begitu kuat menjalani semuanya sendirian?" Kata salah seorang temannya.
"Jawabannya simple. KARENA SAYA ADA".


28 Oktober 2013


Selasa, 24 September 2013

TITIK

di September 24, 2013 4 komentar
Sebuah pertarungan selama 6 Tahun selama ini, seperti pecah dalam 1 kali pukulan. Saya tidak akan bertanya lagi kenapa dan kenapa. Saya menerimanya dengan seluruh kepasrahan dan keikhlasan saya. Saya menerima semuanya dan percaya akan ada Matahari setelah Musim Hujan ini. Saya terima semuanya dengan segala kerendahan hati saya. Saya menerima semuanya meski semuanya adalah kesalahan.

Saya mengaku salah.
Tidak memperjelas lagi saat kita tengah berada dalam perjalanan jauh.
Saya tidak menguatkanmu saat saya semakin yakin denganmu di tempat yang jauh itu.

Alasannya,
Karena saya terlalu percaya padamu.
Saya terlalu meyakini pribadimu yang memukauku.

Dan,
itulah kebodohanku. 
itulah kekeliruanku.
itulah ketidaktelitianku.

Tapi, kamu adalah MIMPI BURUK ku.
Saya harus melepaskanmu jauh-jauh.
Agar saya bisa melanjutkan kehidupanku.

Terima kasih untuk 6 Tahun ini.
Dan MAAF karena saya masih belum bisa membuatmu percaya.
Bukan salahmu memilih arah lain.
Salahku yang tak memberitahumu bahwa saya masih mengikuti jejakmu.

Saya pergi.
Kamu juga harus pergi.
Kita sama-sama pergi dari rumah impian kita sejak 2007 lalu.
Kita hancurkan dan kita bangun mimpi kita masing-masing.

Jaga dia yang menyayangimu.
Tak usah risau, karena saya akan baik-baik saja.

24 September 2013
Pukul 20.00

Bendera Putih di Septemberku berkibar.
Pergilah.
Pergilah.
Cari Keabadianmu yang lain.

Selamat Jalan, Edelweis-ku.
 

Senin, 23 September 2013

Diriku saat 2007 itu

di September 23, 2013 0 komentar
Siang yang seperti biasa
Kondisi menerpa pada 1 situasi
Mata ku menampakkan kepolosan
Dan,
Matanya memberikan kegamangan

Kamu siapa?
Berani masuk dalam pusaran waktuku di detik itu?
Kamu itu lancang
Membuatku jatuh dalam permintaan yang tak sederhana

Saat semuanya masih nampak abu-abu
Keluguan menjadi alasan
Keputusan untuk mengatakan YA
Padahal sejujurnya, Ya, Aku Ragu

Sejak saat itu, kisah tentang nama kamu di mulai... Selamat Ulang Tahun!!!
Semoga hadiah dari ku, bisa membuatmu tersenyum.
Kataku, padamu, ketika itu

15 Juni 2007

Minggu, 22 September 2013

Edelweisku, Tak Abadi

di September 22, 2013 5 komentar
Saya yang begitu percaya akan keabadian Edelweis ini
Saya yang begitu percaya akan kekuatan Alam pada Edelweis ini
Saya yang begitu percaya akan semangat diri Edelweis ini

Ternyata,

Saya menjadi bodoh karena Edelweis ini
Saya menjadi layu karena Edelweis ini
Saya menjadi 0 karena Edelweis ini

Kenapa?

Salah karena saya diam
Salah karena saya percaya pada Sabda Buku
Salah karena saya jauh dari kabarmu


Kau, Edelweisku. Ternyata tak abadi. Iya, kamu tak abadi. Kamu hanyalah angan separuh jagad. Kamu bukanlah yang di ciptakan mengisi sela jariku  hingga ajalku tercabut. Kamu bukanlah keabadianku. Kamu hanya sekedar fantasi menarik dalam diary biru ku. Kamu, bukanlah tercipta untukku.
Edelweisku,
Edelweisku,
Edelweisku,
Saya akan benar-benar membunuhmu.
Bahkan jika batu masih menguatkanmu, saya akan menghancurkan batu itu.
Bahkan jika aku pun ikut hancur lebur dalam kondisi ini.

Selamat Tinggal.
Edelweis Terakhir ku.


22 September 2013

Minggu, 15 September 2013

September Berduka

di September 15, 2013 0 komentar
Sepetember Ceria?
Itu cuma lagu saja. Saat ini saya nda sependapat sama lagu. Saya nda mau nyanyikan lagu itu lagi padahal dia masukmi dalam list favorite song ku di hape. Tapi itu, dulu. Sekarang nggak!
September ini saya dan orang-orang terdekat saya di minta untuk mempersiapkan diri lebih matang dari contoh real yang Allah kasi ke kami.

5 September 2013.

Guruku, Ustadsku. :(
Kembalinya di sisi-Nya adalah luka yang di torehkan untuk kami anak didiknya. Anak-anak yang di bimbingnya dengan setulus-tulusnya untuk kebaikan kami. Jasa-jasa yang tak bisa di hitung membuat kami iri sekali dengan kematiannya yang betul khusnul khotimah insya Allah.
Hanya 3 hari Beliau membuat kami khawatir. Kronologisnya adalah saat Beliau hendak menghadiri sebuah pengajian rutin di Al-Markas.
Saat itu beliau sedang mengalami musibah dengan sakitnya Sang Mertua dan harus di Opname di RS Awal Bros. Kak Ana (Istri Beliau) juga sedang menunggu ayahnya di RS. Di rumah, Ustads bersama kak Farida siap-siap di mana sebelum mandi beliau membaca kembali kitabnya. Keluar dari kamar mandi, beliau sudah harum, bersih, segar, kukunya sudah bersih, sudah wudhu pula, tiba-tiba beliau merasa kepalanya sakit. Namun beliau lagi dan lagi tidak mengeluh. Hanya langsung muntah di depan kamar mandi. Kak farida cepat-cepat mengambil ember untuk beliau. Nyaris penuh ember itu dengan muntahannya. Setelah itu Ustads Sanusi mengucapkan "Laailahaa illallah" dan PINGSAN. 
Di bawalah beliau ke RS Salewangan sebelum di rujuk ke RS Wahidin Sudirohusodo.
Pukul 07.15 Kamis Pagi, Beliau kembali ke Pemiliknya dengan senyum yang selalu dia bawa kemana-kemana hingga akhir usianya. T_T
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Maros kami telah berpulang ke Allah. Maros berduka. DDI Berduka. Selamat Jalan, Ustads. :(






Dan, inilah kegiatan kami bersama untuk yang terakhir kalinya. Sebelum Beliau meninggalkan kami dengan ilmu yang tak ikut beliau tinggalkan di sini.


Selamat Jalan, Ustads. :(

8 September 2013

DDI kembali berkabung. Awan kelabu kembali menaungi kami. Murid-murid yang tertinggal hanya kenangan dan ilmu. Guru Besar kami, AG. KH. Prof. Dr. Muiz Kabry, juga kembali di sisi-Nya 3 hari setelah Ustads Sanusi. Luka kami belum sembuh. Kesedihan kami belum juga kering, tapi Allah jualah yang jauh lebih menyayangi beliau dari kami. Selamat Jalan Kyai. Tetapki sirami kami barakka'na ilmu'ta. T_T

Tak banyak foto yang bisa kami ambil karena desakan manusia memadati Ponpes Al-Badar Pare-pare melepas kepergian Guru'ta. Selamat Jalan, Gurutta. :(

14 September 2013

Kakekkkkk.. Saya sayangki.... :'(

Jangki pergi.... Jangki pergi...
Astaghfirullah.. :'(

Setelah sadar dan di sadarkan saya jauh lebih baik. Dengan ikhlas saya berani mengucapkan Selamat Jalan Kakek. Ku kecup keningnya yang basah karena keringat. Ku cium pipinya. Ku benamkan wajahku di kain penutup tubuhnya yang kaku. Hanya 1 yang ku sesali saat ini adaah dengan belum ku berikan jawaban pada kakek tentang permintaannya yang teramat sangat untukku. Bukan karena saya belum siap tapi memang saya belum pernah memikirkannya dengan serius. Maafkanka kakek. Maafkanka. :'(







Dan, septemberku benar-benar BERDUKA. Bendera putih berkibar  berkali-kali.

Selamat Jalan orang-orang yang ku sayangi. Ku cintai. Do'akan saya biar bisa segera menyusul kalian dengan sebaik-baik kematian juga. :'( Untuk kakekku sayang, Selamat Jalan. Saya syaang ki. Syaaaaaang skali. Sangat sangat sangat sangat sayaaaang. :'(

Rabu, 14 Agustus 2013

Jodoh Pasti Menemukan Jalannya

di Agustus 14, 2013 0 komentar
Banyak sekali cerita-cerita manis yang di ceritakan orang lain tentang pernikahan. Baik itu langsung tentang pernikahan mereka masing-masing, mahupun tentang pernikahan keluarga dan temannya. Segala hal yang terkait dengan pernikahan pastinya indah. Itu yang bisa ku simpulkan. Baik yang di jodohkan, mahupun dengan pilihan hatinya sendiri, pernikahan tetap sumber kebahagiaan nomor 1 di dunia. Karena berbicara tentang pernikahan, maka tak lain dan tak bukan kita akan terbawa bersama gulungan cerita tentang CINTA.
Ada 1 kisah Cinta yang ingin ku bagi saat ini. Semoga ini bisa menjadikanku dan kita tetap baik-baik dalam menjemput jodoh.

«╬♥ℐ ĹŐVΞ ŶŐÚ♥╬«

"Assalamu alaikum, Dek" 
"Waalaikumsalam kak, Apa kabar?"
"Baik..baik..ehh, kakak mau nanya, sekarang udah semester berapa?"
"Udah semester 7 kak, kenapa?"
"Kamu udah mau nikah belum? Aku mo ngenalin kamu sama seseorang. Temanku. Dia baik loh dan saya jamin kalian akan cocok"
"Apaan sih kak. Kok tiba-tiba gini?"
"Jawab aja dulu. Mau nikah gak?"
"Ya mauu.. tapi..."
"Ya udah..intinya kamu mau nikah kan? Okkee" *Tut..tut..tut..!!
"Ehhhh?"

Begitulah kurang lebih awal mula jalan jodohnya mendapatkan celah menuju arah yang benar. Sari yang masih begitu muda, status mahasiswi yang masih tertera di KTP-nya, masih bingung dengan arah pembicaraan sepupunya. Namun, dia tak sempat mengambil pusing apalagi untuk penasaran dengan sepupunya itu. Pikirannya terlalu terkuras dengan PPL-nya yang harus segera ia kejar. Ini sudah terlalu terlambat untuk PPL, apalagi di saat teman-temannya sudah KKN. 

Sepupunya kembali sms, katanya ada temannya dari Jakarta yang mau jalan ke tempat wisata Malino, Sulawesi Selatan, daerah Sari berasal. Sari-pun mengiyakan kalau akan membantunya. Namun, saat Sari tahu kalau teman sepupunya itu adalah ikhwan maka di batalkanlah untuk menemaninya. Sementara si ikhwan itu sudah terlanjur ada di Malino. Entah bagaimana nasibnya di Kota yang asing itu, Sari tak mahu ambil pusing. Baginya, menjaga diri lebih baik dari pada menemani orang yang bukan mahramnya.

Di saat kesibukan-kesibukannya di PPL, ayahnya nelpon. Memberikannya kabar kalau dia di lamar seseorang. Dia pun ingat pesan seniornya waktu itu, "akan lebih baik jika kita nikah sebelum berangkat KKN di karenakan KKN itu godaannya berat. Sudah ada beberapa akhwat yang kalah langkah di KKN. Pergi aman, pulang malah pacaran". Sari pun merasa harus menjaga diri lebih baik. Namun kalau untuk menikah? Rasanya ini terlalu cepat. Masih ada banyak hal yang harus dia kerjakan, maka di berikanlah segala keputusaanya pada ayahnya. Dia hanya percaya kalau ayahnya pasti akan memilihkannya yang terbaik. 
"Kamu yakin nak?" Tanya ayah-nya.
"Kalau menurut ayah dia laki-laki yang baik ya terima saja. Sari ikut sama keputusan ayah sepenuhnya"
"Baiklah. Apa perlu ayah kirimkan fotonya ke kamu?"
"Gak perlu yah" Katanya mantap.
Sementara di rumahnya, keluarganya sedang membicarakan kesepakatan untuk acara resepsi nantinya. Sang laki-laki yang melamarnya itu adalah orang yang sama sekali tak Sari kenali. Bahkan tahu tentangnya pun tidak. Tahu asalnya pun demikian ia tak tahu. Laki-laki pun demikian tak tahu, Sari itu bagaimana? Cantikkah dia? Pintarkah dia? Tinggi? Putih? Atau bagaimana? Semuanya menjadi pertanyaan yang tak membuatnya ragu untuk melamar Sari. Di hadapan orang tua Sari, dan Ustads yang di percayakannya menemaninya melamar Sari di karenakan orang tuanya terlalu jauh untuk datang melamarkan Sari untuk anaknnya, dia mengatakan kalau dia ingin membuat pernikahan yang sederhana saja. 
"Tak banyak uang yang saya miliki Pak untuk membuat pesta yang besar. Dan, setahu saya itu juga bagian dari ajaran jahiliyah jika terlalu mewah dan dengan segala rentetan acara pernikahan yang terlalu memboroskan uang dan tenaga" dia menjelaskan dengan pelan-pelan pada calon mertuanya. 
"Jangan khawatir. Kami sekeluarga juga tak mempersoalkannya. Saya yakin Sari-pun demikian tak menginginkannya" Jawab sang Ayah. Maka setelah ayah dan ibu serta sang laki-laki ini sepakat, resepsi pernikahan akan di laksanakan bulan Januari karena setelah itu Sari sudah harus berangkat KKN.
Sebuah komentar dari salah 1 tante Sari menggoyahkan kemantapan sang Ibu.
"Rendah amat sih Uang yang di pake ngelamar Sari? Jangan di terima. Jangan" Dia mencoba mempengaruhi Ibu-nya Sari.
Namun entah dari mana kekuatannya, Sang Ibu menjawab, "Mungkin iyya dari segi dana sedikit, dan mungkin juga akan ada yang datang melamar anak saya dengan menawarkan mahar yang lebih mahal. Namun, saya tidak bisa menjamin, akan ada yang datang yang jauh lebih baik dari laki-laki seperti dia. Saya percaya kalau Allah itu adil". Dan, semuanya pun bungkam dengan ketidak setujuan yang di pendam.
H-3 pun tiba. Handphone bergetar dari dalam tas.
"Assalamu alaikum" Jawab Sari
"Walaikumsalam.. Kamu kapan pulang nak? Ngapain aja sih di Makassar? Pulang hari ini ya?"
"Maaf Bu, gak bisa. Saya harus nyelesaiin PPL saya hari ini. Kalau nggak bakalan nunda lagi. Saya ngejar deadline. Sebelum KKN semuanya harus udah rampung"
"Kamu nih gimana sih? Gimana kalo ada apa-apa? Pernikahan kamu tuh lusa nak. Pulang ya. Pakk (sambil memanggil suaminya) minta anakmu nih pulang dong"
Dari seberang telpon terdengar samar-samar suara ayah-nya menjawab dengan tenang,
"Gak usah pulang nak. Selesaiin aja semuanya urusan kampusmu. Jangan takut kalo ada apa-apa, Allah tuh udah nyiapin rencana yang adil dan indah. Jangan takut".
Sesaat semua ketakutan Sari musnah berganti dengan keyakinannya pada rencana Allah yang lebih baik.
Sehari sebelum aqad nikah-nya, Sari baru berangkat meninggalkan kost-annya menuju kampung halamannya "MALINO".
Dan, resmilah mereka menjadi suami istri. Pertemuan pertama di aqad nikah yang berlangsung dengan sangat sederhana. Namun, kebahagiaan tak sedikit yang berkurang. Januari yang sedang di landa musim hujan itu memperlihatkan Kuasa Pemilik-Nya. Hari pernikahan mereka berlangsung lancar karena matahari sedang terik-teriknya bersinar cerah. Bukti kalau Allah pasti akan membantu. 3 hari setelah aqad nikah, Sari dan suaminya harus berpisah tempat. Sari harus berangkat KKN dan suaminya harus kembali ke jakarta karena pekerjaannya menunggu. 
Di posko KKN, Sari menjalani hari-harinya dengan damai. Teman-teman KKNnya menjaganya dengan baik. Tanpa ada gangguan lagi dari laki-laki yang ia takutkan karena semuanya sudah tahu kalau dia sudah menikah. Namun, siapa yang sangka di sudut kota bear lain, di Jakarta sana, suaminya sakit, menahan gejolak rindu yang baru kali itu ia rasakan. Semuanya baru dia ungkapkan ke istrinya 4 bulan setelah itu. Setelah Sari sudah menyelesaikan pendidikannya.
"Saat kembali dari Malino itu, seminggu lebih kakak terbaring lemah di sini. Menahan rindu sendirian. Rindu yang baru kali ini kakak rasakan" Suaminya menjelaskan.
"Hahaha..mana saya tahu kalau kakak rindu sama saya" Jawab Sari dengan tanpa rasa bersalah dan menggoda suaminya.
"Dasar snow queen" Sembari mencubit hidung istri yang usianya 10 Tahun di bawahnya itu.
"Kamu tahu nggak, kalau orang yang dulunya di minta sepupu kamu untuk kamu temanin jalan ke Malino itu aku" 
"Hah? Masa sih kak? Kok bisa?"
"iyya, aku juga baru tahu dari sepupumu itu. Saat aku tahu kalau akhwat yang akan nemenin aku, buru-buru aku batalin ke sepupumu itu. Gak nyangka, kalau ternyata orang itu kamu."
"Apa maksudnya dia ngerencanain itu ya kak?"
"Apalagi kalau bukan untuk bantuin kita? Kan memang dari dulu dia yang pengen kita jodoh"
"Hahaha..dassarr.. Usahanya gagal total dong? Kasian. Tapi hikmahnya yah itu, kita gak bakalan sama-sama sekarang soalnya saya gak mahu nikah sama orang yang saya kenal" Jawab Sari tegas.
"Samaaa.. " Dan tawa mereka pecah. 

Sari kembali teringat pertanyaan teman KKNnya, "Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik itu yang kayak gimana kak?"
"Yah, yang menjaga dirinya. Jangan minta sama Allah di kasi yang baik-baik kalau kita juga gak bisa menjadi orang yang baik. Minta suami yang gak pacaran, tapi kita malah gonta-ganti pacar. Sama aja bohong" Jawab Sari.
"Kakak percaya aja gitu sama semua teori itu?" Tanya teman KKN-nya yang lain.
"Saya percaya karena saya sendiri yang membuktikannya".

Dan, kini Sari semakin yakin. Kalau Jodoh Pasti akan menemukan Jalannya sendiri. Ketika kamu melangkah maju, jodohpun demikian. Jika kamu berjalan dengan baik-baik, jodohpun pasti akan melakukan hal yang sama. Intinya, JODOH itu tak jauh dari dirimu sendiri. Dan, Sari sendiri yang membuktikannya sendiri.

*Terima Kasih Kak Sari Wahyuni atas kisahnya*


Sabtu, 10 Agustus 2013

Happy 'Ied Mubaraq 1434 H

di Agustus 10, 2013 0 komentar
Setelah sebulan menjalani kewajiban berpuasa, maka Hari Kemenangan pun TIBA. :)
Hari kemenangan Umat Islam, kemenangan kami.
Ku usirko setang, bahagiaka inee hari gang.. Sana-sana ko deggg.. Jangko gangguiii ka lagi nah. Mumpung habismi ku upgrade IMAN ku ca'.. Lagi segar-segarnya ka menikmati indahnya Agama ku. Jadi, please.. Tolong nahh.. Sana-sanako.. :P

Ahhh, Ramadhan wahai Ramadhan.
Cepat sekali kepergianmu. Menusuk segala waktu kami yang tak kami gunakan dengan Baik. Jangan jadikan ini pertemuan terakhir kita. Jadikanlah ini Bulan penantian untuk raga-raga kami yang masih saja jauh dari kata sempurna dalam hal Ibadah, meskipun, dan meskipun, itu tidak akan pernah SEMPURNA.

Untuk segala kesalahan-kesalahan kami, salahku, semua kekhilafanku, MAAFKANLAH saya. :)

Happy 'Ied Mubarak.. :)








Di bawah langit yang cerah dan membiru, semua hamba Allah, yang mencari Ridho-Nya, berkumpul mengumandangkan Takbir. Memecahkan segala keheningan pagi yang biasanya di habiskan dengan kesibukan dengan kesibukan duniawi.

Happy 'Ied Mubarak.. :)








Happy 'Ied Mubarak.. See You Next Year.. :) Aamiin Allahumma Aamiin.. :) Maapin salah2 ane ya agan-agan.. ^___^ Minal Aidin Wal Faidsin.. :)

Finally of "Ramadhan"

di Agustus 10, 2013 0 komentar
Long time no writing.
Kali ini tanganku gatal mengetik. Selama Ramadhan ada banyak cerita yang ingin sekali ku bagi. Namun, baru sempat mengabadikannya di akhir Ramadhan. 
Alhamdulillah wa syukurillah, terima kasih Robb atas segala kenikmatanMu kepada ku, kepada keluargaku, sehingga kami sekeluarga bisa kembali bersama-sama  menjemput Hilal-Mu di sisi sang Lautan kembali. Menikmati hempasan angin laut yang menyapu lembut keletihan kami, membelai pipiku yang semakin kurus karena sakit, dan ku rasakan nikmatMu melalui suara air laut yang menenangkanku.







Di sinilah, setiap tahun kami melihat Matahari. Para gabungan Pemerintah Departemen Agama akan melihat apakah Hilal sudah terlihat guna menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Tahun demi tahun pula saya dan adik-adikku ikut Bapak, untuk ikut melihat, atau hanya sekedar untuk menikmati Lautan lepas. Mengajarkan kami lagi akan ke-Maha Kuasaan Tuhan.










Beberapa kali mengikuti kegiatan seperti ini, namun masih saja memiliki kelemahan untuk memahami proses melihat hilal dengan metode Rukyah tersebut. Setiap pribadi memang memiliki masing-masing kelebihan yang Tuhan berikan, dan sepertinya saya bukan salah 1-nya *ngehhh!!!

Daaaaann, saya masih saja senang mengikutinya. Meski masih saja saya gagal memahaminya. :D






Dan, inilah Buka Puasa terakhir kami. Dengan segelas 'Teh Gelas', dahaga pun lepasssss... Melepas Ramadhan dengan harapan, ini bukanlah Ramadhan terakhir kami. Aamiin Ya Allah.



 

Lyu Fathiah Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review