Sabtu, 22 Agustus 2015

Ini Cuma Dunia

di Agustus 22, 2015 2 komentar
Cobaan paling berat didunia ini adalah SABAR.
Dalam segala hal dan segala sisi. Sabar dalam bekerja, sabar dalam kuliah, menahan amarah, menahan pandangan dari yang haram, dan banyak lainnya. Dan tak terkecuali, sabar dalam diam.
Maksudnya apa? Atau, contohnya apa?
Suatu waktu saya bertemu dengan teman SD. Dia sahabat saya dulu, kita akrab skali hingga tamat. Namun, dia tidak melanjutkan pendidikannya karena “terhalang biaya” katanya. Tapi yang membuat saya miris, dia tidak memiliki biaya untuk sekolah tapi setiap harinya “hangout” bahasa kita. Bajunya bagus-bagus, modis juga, dan lagi temannya banyak. Saya gak heran karena ketika kita bergaul, sekolah atau tidak pasti kita akan tetap memiliki banyak teman dan pengetahuan. Tinggal kita menyaring kebiasaan yang baik untuk kita ikuti dengan tidak.
Kembali lagi dengan pertemuan tadi. Kita flashback ke masa-masa sekolah dulu sambil menanyakan kabar teman-teman SD. Pembicaraan kami terhenti pada satu topik. “HIJAB”.
Ada teman kami yang juga putus sekolah namun berhijab dengan ala-ala hijab masa kini. Dengan salut, kagum dan iri, dia menceritakan bagaimana teman kami itu cantiknya dengan pakaian yang modern.
“Kamu tahu gak, Si Vira tuh kereeeeeen banget tahu. Kamu mah kalah sama dia. Dia aja nih ya yang gak sekolah pakaiannya keren, bagus-bagus, trus jilbabnya yah dibentuk2, dimodelin kayak artis. Katanya liat di internet” cercanya dengan semangat.
Sambil menyeruput minumanku, saya hanya senyum-senyum. Saya membalasnya dengan sok ramah dan ceria. “Masa sih? OH yaaa?” Dan ekspresi lainnya.
“Emang luh kenapa sih gak bergaya? Percuma mah luh sekolahnya tinggian tapi gaya lu norak, kampungan. Coba deh lu ikutin atau belajar sama si Vira itu. Biaaar ada cowok yang cakep juga yang naksir ama lu”. Sarannya.
Saya paham akan ketidak tahuannya. Mungkin, dia tidak mengerti bahwa ada yang namanya Jati Diri, ada yang namanya Karakter, prinsip, ada pula yang namanya ketetapan Pakaian dalam Agama. Banyak sekali yang ia tahu soal dunia ini. Dunia yang ia lihat begitu indah. Namun, bagi kita yang paham itu semua hanya kesenangan semata. SEMU. Semuanya akan berakhir dan tidak akan kita bawa dan tidak akan menyelamatkan kita hingga ke akhirat.
Tapi, tak perlu saya membeberkan semuanya karena saya tidak ingin niat itu menjadi Riya. Cukup saja saya katakan kepadanya bahwa, “Pakaian apapun yang menutup aurat, sesuai dengan ketetapan agama, membuat nyaman dikenakan dan dipandang, tidak modern sekalipun tidak masalah, tidak mengikuti zaman pun tidak akan membuat rugi. Kenapa? Pakaian adalah identitas kita. Identitas bahwa kita perempuan, kita Muslim, bukan identitas yang menonjolkan kita Gaul, Hedonis, dan lain-lain. Banyak orang yang modern cara berpakaiannya karena menurutnya ia nyaman dengan itu, ia suka dengan itu, karena memang ada orang yang senang mengikuti zaman. Namun, ada pula orang yang tidak seperti itu. Dia lebih suka dengan style yang casual, sporty, yang tak perlu membuang uang banyak untuk membeli barang yang lagi booming. Karena, mereka paham itu tidak cocok untuknya”.
Sepertinya ketika saya mengatakan itu, alis sebelahnya terangkat sedikit. Ntah apa yang ia pikirkan tentang saya. Namun, sudah sampai disitu. Dia mulai risih, kecut, dan saya mengerti ketidakmengertiannya. Ckckck.

Orang tidak perlu tahu kita berpendidikan tinggi, orang tidak perlu tahu wawasan kita luas, orang tidak perlu tahu kita ikut zaman, gaul, karena percuma kita mengetahui dan membeberkan semuanya ke orang-orang, karena orang lain tak butuh itu, dan jika itu semua tidak mendekatkanmu pada Allah, maka semuanya percuma. Hidup ini dilakoni untuk Ibadah. Bukan untuk dipandang.  




Jungle Rooms
17:12
22 Agustus 2015

Selasa, 18 Agustus 2015

Story About Of Us

di Agustus 18, 2015 0 komentar
Ini bukan Taylor Swift.
Tapi, semua bisa bermuara dari sana.
Sebuah lagu yang mungkin tak sama persis dengan kisah kita, tapi juga sama, ini cerita tentang kita.

Kamu.
2 Tahun yang lalu kita saling tahu. Bermula dari fotoku yang kamu lihat dari sepupuku. Hingga benar ku katakan bahwa taqdir lah mungkin yang membawaku padamu, dan kamu padaku. Siapa yang membuat jemariku mengetik pesan untukmu, meminta tolong agar Koesionerku kau isi. Saat itu, saya seorang Mahasiswa yang kerja serabutan, agar bisa mendapatkan uang. Bagaimanapun caranya. Halal tentunya. Dan, intenslah sejak saat itu komunikasi kita. Kamu yang kesepian, dan saya yang respek kepada siapapun. Kamu yang selama ini telah menutup lukamu dri orang lain, dan saya yang masih sakit.
Kamu yang terlahir banyak melewati hari sendiri, dan apapun sendiri. Membuatmu menjadi pagar besi yang mengelilingi apapun yang kamu miliki.

Aku.
Yang selalu ingin ramai, selalu ingin bertemu dengan siapa saja. Lingkungan ku selalu ramai, berbanding terbalik dengan duniamu. Bahkan jika dimedia socialpun, selalu saja ramai. Dan, itulah duniaku yang tak sama denganmu. Memiliki banyak teman, lebih sering mengurusi rumah dan keluarga, lalu membaca buku, sibuk dengan kegemaranku sendiri.

Tiba-tiba.
Kamu memintaku selalu ada untukmu. Kamu terus. Telepon, sms, BBM, WA, Line, FB, Twitter, hingga didunia nyata.
Kamu bisa menemukanku dimana saja aku bersembunyi. Kamu bisa menungguiku berjam-jam yang ingin menghabiskan waktu bersama teman diluar rumah. 
Kamu bisa mengantarku sejauh apapun aku ingin pergi, asalkan kamu bisa bersamaku.
Sedangkan sebelumnya, AKU ANAK YANG MANDIRI.
Mama dan Bapak saja jarang sekali mengantarku kemanapun. Bahkan saat diasramakan sebulan karena Paskibraka saat itu, mereka hanya sekali menjengukku. KKN-ku yang jauh begitu, hanya 2x orang tuaku menjengukku. Kini, aku bertemu denganmu yang selalu ada buatku. Harusnya aku bersyukur. Tapii, jujur, itu bukan dunia yang ku rasaiii tenang dan nyaman. Bagiku kamu seperti Malaikat yang selalu ada buatku. Namun, ntah kenapa saya tidak menginginkanmu yang begitu? Kenapa? Kurang bersyukur apa aku? Justru yang kurasakan, SAYA TERBEBANI dan BOSAN.

Jelaskan padaku apa yang membuatmu bertahan padaku yang terus berperilaku jahat padamu? Mungkin jika aku melepasmu, atau memilih meninggalkanmu, saya akan menyesalinya karena mungkin saat ini kamulah yang terbaik yang Allah kirimkan untukku. Lalu apa saya harus bersabar, menunggu hatiku berpihak padamu? Mengembalikan rasa nyaman itu padamu? Lalu aku hanya harus berpura-pura terus bahagia bersamamu? Sampai kapan aku memakai topeng menjemukan ini? Apa aku badut yang bisa terus tersenyum didepanmu? Jika ternyata ketika sudah menikah, dan rasa itu tak kutemukan lagi padamu, rasa nyaman itu, apa yang harus ku lakukan? Tolooong, beritahu aku. Apa yang harus ku lakukan padamu saat ini? 
Jika kamu bertanya apa mauku, maka akan ku jawab; "Izinkan aku menjadi aku yang dulu"



~Lyu Fathiah
Jogja, 18 Agustus 2008

Minggu, 26 Juli 2015

Hati-ku dan Hati-mu

di Juli 26, 2015 1 komentar
Sejak seminggu ini ada yang tidak beres dengan hatiku. Selalu gundah, galau, gak jelas, dan mood juga selalu saja memburuk tiap harinya. Anehnya, itu hanya dengan seseorang saja. Sementara saya tahu pasti bahwa dia adalah orang yag paling dekat saat ini denganku. Dulunya, saya sering skali bercerita apa saja padanya. Meskipun saat itu saya tahu dia lebih ingin curhat dari pada saya, tetap saja hanya ceritaku yang didengarkan. Mungkin baginya, saya adalah Bunga yang harus tetap ia jaga agar terus segar. Segala perlakuan baik ia lakukan. Demi saya. Agar saya tak kecewa mungkin padanya, tidak jenuh. Hingga terjadilah perasaan yang tidak enak ini. Saya merasa membencinya setiap kali ada sms, tlp, bbm, dan semuanya. Anehnya, hanya sebatas komunikasi. Ketika bertemu malah kita sama dekatnya dengan sebelumnya. Ada apa dengan hatiku?

Dan, yang harus ku terima adalah saat semua kebencian itu kutujukan padamu, ku berikan sumpah serapah padamu, ku perlihatkan sisi setan dalam diriku, memberimu banyak kalimat keji dan perlakuan yang tak pantas, kamu hanya bilang "iyya, gak papa.. Saya mengerti". Terbuat dari apa hatimu? Apakah memaafkan semudah itu? Kenapa hatiku tak bisa menjadi hatimu yang lembut?

Sabtu, 11 Juli 2015

Profesi Pernikahan

di Juli 11, 2015 0 komentar
Profesi Pernikahan

Diusia ku yang sekarang menanjak 24 Tahun, pastinya sedikit banyak sudah mengarah ke Pernikahan. Dan tidak banyak pula teman sesama disekolah maupun kuliah sudah memiliki anak-anak yang lucu. Ketika menjadi siswa, membahas tentang pernikahan atau sekedar hanya memikirkannya pun terasa sangat berat. Menjadi hal yang terlalu vulgar untuk dibicarakan. Namun, entah sejak kapan, saya sendiri tidak menyadarinya secara kuat bahwa saat ini, menikah menjadi topik yang panas di otakku. Selalu tentang menikah, dinikahkan, pernikahan, yang melintas tentang itu terus bahkan jika saya sedang *boker (red: BAB).
Lalu, apa yang ingin saya katakan disini?

Ya. Banyak sekali yang ingin saya sampaikan.
Pertama. Menikah itu keputusan yang hebat dan tidak mudah. Di usia yang masih muda, kita bisa saja mememikirkan bahwa keputusan untuk menikah adalah jalan terakhir untuk menutup pintu kebebasan. Entah kebebasan berteman, kemana-mana dengan siapa saja, dan melakukan apa saja dan dengan siapa saja. Kamu, kalian, dan saya juga jika memutuskan untuk menikah maka berarti kita harus siap menjadi Penjaga Dapur, Sumur, dan Kasur. Jangan langsung berpikiran saya ini sempit. Tidak. Itu kodrat kita sebagai perempuan. Kamu ngerti kan? Terlepas dengan adanya zaman Emansipasi Wanita, yah, tidak mengapa kalian berkarier tapi ingat kodrat itu. Berat kan? Tentu berat jika kita memikirkannya di usia yang masih 20-an. Karena ego kita masih kuat dengan masa muda. Namun bagaimana dengan mereka perempuan yang usianya sudah lewat dari 20-an dan belum menikah? Tentu saja mereka pasti akan lebih banyak yang pasrah. “Siapa saja Tuhan menurutMu dekatkanlah denganku” sejauh ini makna doa yang sama mereka lafazkan di sujud-sujud mereka yang panjang. “apapun pekerjaan mereka Tuhan tak mengapa asal mereka mau berjuang bersama” dan ini juga banyak di usia kita yang berdoa demikian. Atau, “dari kalangan keluarga apapun ia Tuhan saya bersedia yang penting dia mau sama-sama baik denganku setelah menikah”. Hmmm,  ingatlah lagi. Jangan menunda menikah hanya karena “Dia siapa, kerjanya apa, dan keluarganya apa”. Memang mesti dipikirkan kesemuanya. Tapi Rosulullah SAW *Allahumma Sholli Wasallim Wabariq ‘ala Sayyidinaa Muhammade wa ‘ala alii Muhammad* juga berpesan pilihlah yang BERAGAMA.
Kedua. Saya ingin membahas masalah PROFESI laki-laki yang melamarmu dan bagaimana KELUARGANYA. Dulu saya pernah mendengar kalimat “apapun dia, bagaimanapun latar belakang pendidikannya, atau dari siapapun keluarganya saya mau asalkan ini, asalkan itu, dll”. Tidak sepasrah itu menurutku. Mengapa kita perlu memilih perempuan/laki-laki yang paras wajahnya Cantik/Gagah karena kita menikah tak lain ingin menghasilkan keturunan. Selain kita ingin keturunan kita berparas indah pula, juga dengan wajah yang indah pun akan membuat kita senang memandanganya. Meskipun itu memang semu karena akan ada masanya kita bertemu dengan masa tua. Jangan munafik. Jangan mengatakan “Gak Papa Jelek” karena apa? Hati itu terombang-ambing Bray. Kemudian dari keluarganya. Jika ia bukan dari kalangan terhormat, pejabat mungkin, Kyai mungkin, atau apakah itu Profesi yang dibanggakan apakah kita sulit menerimanya? Wajib bagi kamu juga melihat latar belakang keluarganya. Tidak untuk kamu sindir jika keluarganya tidak baik, hanya saja, ketika kamu menikah sama dia maka mau tidak mau kamu akan berinteraksi banyak dengan keluarganya. Sehingga anak-anak kamu akan mengikuti juga lingkungan seperti apa ia dibesarkan. Itulah mengapa kita juga perlu melihat latar belakang keluarganya. Namun, tidak untuk jadi patokan utama juga. Mengapa? Misalnya ada 10 Wanita dan 10 Pria. Jika 10 Wanita ini menginginkan laki-laki yang berasal dari keluarga Kyai atau Ulama sementara di antara 10 Pria itu hanya 2 orang yang keluarganya Ulama. Maka apakah 2 laki-laki ini menikahi 5 wanita masing-masing? Laki-laki lain akan menikah dengan siapa? Begitupun sebaliknya jika laki-laki ingin menikahi perempuan yang berasal dari keluarga Ulama? Apakah perempuan akan dinikahi 5 laki-laki diantaranya? Tentu tidak kan? Logikanya begitu. Dan, apakah dengan menikahi anak Ulama atau Ustads maka kamu bisa menjamin bahwa keluargamu akan terbebas dari api neraka? Tidak kan? Karena setiap laki-laki apapun profesinya dan siapapun keluarganya mereka bertanggung jawab MENJAGA KELUARGANYA dari API NERAKA.
Selanjutnya tentang PENDIDIKAN. Kamu tidak wajib memilih perempuan/laki-laki siapa saja. Jika ada yang berpendidikan maka pilihlah yang berpendidikan. Karena orang tua yang berpendidikan tentu bisa mendidik anak-anaknya juga dengan pendidikan yang baik. Meskii itu tidak selalu berlaku Bray. Banyak yang ingin menentangnya? Saya-pun demikian. Banyak yang Profesor tapi anaknya menggunakan Narkoba. Banyak Aparat Keamanan yang anaknya justru menjadi pelaku Kriminalitas. Banyak sekali. Itulah mengapa Rosulullah SAW *Allahumma Sholli Wasallim Wabariq ‘ala Sayyidinaa Muhammade wa ‘ala alii Muhammad* berpesan “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya”, karena didikan tidak selalu sama dan berlaku. Akan ada saatnya Rumus, Hukum, atau Pepatah akan terbantahkan. Contoh: Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Nabi Nuh membuat Kapal untuk menyelamatkan Umatnya, tapi anaknya sendiri ikut tenggelam karena tak mentaati ayahnya. Ada lagi yang ingin menambahkan? Ilmu saya masih dangkal memang. Masih perlu banyak ilmu dari kalian sahabat untuk ku perluas. Contoh lain lagi, jika seorang Suami pendidikannya S2 misalnya, sementara Istrinya hanya berpendidikan SLTP. Ketika ada masalah dalam RT, suami akan lebih cenderung menggunakan pemikirannya karena ia merasa “Saya ini S2, sedangkan kamu Cuma tamatan SLTP” ataupun sebaliknya. Meski ini tak akan menjadi patokan tapi ini hanya sekelumit pemikirannya yang jelek mungkin. Silahkan di sangkal jika saya salah. Saya juga manusia.
Dan Profesi Laki-laki yang melamarmu atau suamimu. Ia tak mesti Ustads, ia tak mesti Dokter, Hakim, dll. Jika semua perempuan ingin menikahi laki-laki Ustads maka yang dokter dan profesi lain akan menjadi Kutu Pekerjaan dan tak menjadi Suami. Begitupun sebaliknya. Dunia ini luas. Tak hanya itu profesi yang mulia dan mampu menjamin akhirat. Ketika kamu atau saya menikah, Ijab Qabul berlangsung, maka Arsy’ Allah akan bergetar karena melihat betapa berat beban yang akan ditanggung oleh suami. Mulai ujung rambut istrinya dan anaknya akan menjadi tanggung jawabnya, menjadi jaminannya masuk surga atau neraka. Oh iyya, masuk surga atau neraka adalah Hak Ikhwal Allah Azza Wajalla. Kita tidak bisa menjudge “dia akan masuk neraka atau surga” karena kita beribadah di dunia untuk mencari Ridho-Nya Allah. Karena Surga dan Neraka-Nya adalah juga dari Ridho-Nya. Salah satu Guru Besar kita, AG. KH. Dr. Sanusi Baco, Lc mengatakan “Jangan semua menjadi PNS. Jangan semua menjadi Dokter, jangan semua menjadi Anggota Dewan. Harus ada yang mengurusi Umat dan Agama Allah”. Apa artinya? Jika memang hanya Ustads yang mulia dalam Profesi itu maka tidak akan ada lagi gunanya menjadi Hakim yang Adil, Dokter yang bisa membantu kesembuhan umat, dan Guru yang mengajarkan Abata, dan berbagai Profesi Halal lainnya. 
Ketiga.  Kesimpulannya mari kita belajar AGAMA. Kamu, kalian, dan saya insya Allah akan menjadi Istri dan Suami. Mari kita menjadi Madrasah Wal Ulaa di Rumah Tangga kita. Menjadi Guru yang Cerdas. Menjadi Hakim yang adil. Menjadi Dokter yang penyembuh. Dan, menjadi orang tua yang berhasil menghasilkan anak-anak yang mengagungkan Agama dan Asma-Nya. Aamiin allahumma aamiin.


Sebelum menikah. Mari kita belajar. Belajar menjadi istri, suami, dan orang tua. ^____^

Jumat, 29 Mei 2015

Dari Istikharah

di Mei 29, 2015 1 komentar
Entah sejak kapan Mila memiliki jiwa yang tak satu. Dia selalu mudah goyah dan terpengaruh terhadap pilihan. Meskipun awalnya dia begitu kuat dan terlihat sulit di goyahkan, namun tetap saja ada halangan dan rintangan yang tak semua ia mampu lewati dengan baik. Tapi, itu bukan karena ia tak sadar apa yang ia alami, justru karena ia sadar betul perubahannya, dia pun bingung. 

Arga, sebut saja nama Pacarnya saat ini. Laki-laki periang yang juga cukup gokil. Sempat membuat heboh ketika awal pacaran dengan Mila, karena ia adalah anak yang mandiri, cerdas, dapat beasiswa terus sejak SMP, hingga mencapai puncak pekerjaan yang tak berpenghasilan tinggi. Mengingat Mila yang anak dari Seorang Dosen, mungkin orang  akan mengira akan memiliki kekasih yang, yah, tak jauh-jauh dari profesi ayahnya. Barangkali pacarnya bisa jadi anak dosen, asisten dosen, yang intinya bukan pekerja honorer di Kantor Daerah seperti Arga. Menurut Mila, selama 3 Tahun pacaran, dia seperti kesempurna sketsa komik. Arga adalah apa yang selalu ia harapkan dari laki-laki. 

Lalu?

Muncul Peeta, sapaannya pada Sahabatnya itu sejak SMP. Lama tak bersua, ketika Peeta muncul kembali, membawa warna baru yang unik. Komunikasi yang intens, alih-alih karena lama tak bertemu dan bersapa kabar, namun ternyata berhujung pada rasa yang aneh. Rasa yang Mila tahu itu adalah Suka bercampur kagum. Kebimbangan mulai muncul ketika Mila sadar bahwa rasa ini tak harus muncul. Ada Arga yang begitu baik. Ada Arga yang begitu setia. Tidak ada alasan yang mesti dikuatkan untuk melanjutkan rasa sukanya. 

Lalu, setelah Mila Sholat Istikharah. 

Mila akhirnya tahu, ada rasa yang luar biasa dari Peeta Untuk Kyna. Nama baru ini muncul ketika iseng Mila bertanya apa ada orang yang Peeta sayangi saat ini. Ternyata benar. Melalui instagram yang screenshoot Peeta, ada wajah manis nan anggun di sana.

"Apa ini jawabanMu, Robb?"


Kamis, 02 April 2015

Mau Menulis

di April 02, 2015 3 komentar
Tulisan pertama saya waktu itu cerpen. Saat duduk di kelas 1 SMA, saya membuat sebuah cerpen yang saya juga asli lupa judulnya apa. Tapi, ceritanya itu tentang seorang perempuan yang memendam perasaannya kepada seorang laki-laki yang usianya 4 tahun di atasnya. Namanya Caca, si tokoh utamanya. Ceritanya saking sayangnya, Caca sampai sakit karena tidak mampu menahan beratnya rasa rindu yang hebat terhadap Indra, si tokoh laki-laki. Bertahun-tahun Caca menahan rasa itu hingga saat sakit keras, dan Indra baru tahu kalau Caca sakit karena terlalu mencintainya disaat Caca sudah  sekarat dan akhirnya meninggal. Saat itu Indra benar-benar menyesal dan menghabiskan hidupnya dalam kesedihan.

Singkatnya sih begitu. Hahhaa. Singkat bener ya saya ceritakan?
Nah, waktu teman SMA saya make komputer YANG komputer saat itu komputer yang monitornya sama kek tipiii, dan super duper panas yang dihasilkan itu hebat banget, gak jauh-jauh yg kek gini nih komputernya:





Teman-teman pas baca cerpen itu nangis-nangis, jadinya nge-lap ingus sambil nge-lap keringat juga. Saking panasnya nih komputer. Hehehe. Itulah pertama kalinya saya menulis. Selanjutnya saya benar-benar mencintai dunia ini. Saya mulai belajar menulis secara otodidak dan mulai merasa dengan ini saya bisa melepas segala beban yang tersimpan rapat dengan baik di hati, #ciieeeee ahaha!

Namun, kemampuan menulis saya tetap saja rasanya tidak berkembang dengan baik. Ada beberapa tulisan yang sudah ku buat dan semuanya saya sadari masih jauh dari kata layak baca. Namun, saya kembali ke niat bahwa saya menulis karena SAYA INGIN MENYAMPAIKAN SESUATU. 

Itu niat awalnya sampai rasanya saya jenuh dengan niatku yang tak berujung baik. Bayangkan saja, kemampuan menulisku standar saja. Dan terus saja rasanya tulisan ini masih belum bagus skali. Saya mau kayak Tasaro, kayak Asma Nadia, kayak Sparkling Autumn, kayak Mahfuzah HAzirah. Huft, saya MAU MENULIS. Adakah hidayah buatku? hahaha. 

Selasa, 31 Maret 2015

Selamat Jalan. Surga untuk, KALIAN!

di Maret 31, 2015 0 komentar
Maret 2015.
Bulan ini penuh sesak oleh air mata. Banyak yang meningalkan Alam Dunia di bulan ini. Mereka yang kukenal, mereka yang selalu ku sanjung, ku sayang, bahkan ku kagumi sangat dalam. 

Olga Syahputra memang bukan siapa-siapaku. Beliau hanya sosok manusia biasa yang kukagumi. Kelucuannya, perjuangannya, dan segala tindak-tanduk yang mengocok perut. Mungkin Meningitis hanya perantara Allah untukmu digugurkan dosanya sebagai manusia biasa. Sesungguhnya kita manusia memang hanya bisa berencana, semua tahu hal itu namun Allah pasti memiliki alasan lain dibalik setiap kejadian. 
Disaat Kak Olga meninggal, semua yang baik-baik mulai mencuat dipublik. Sebelum-sebelumnya, public hanya tahu beliau itu artis lawakan yang baru tenar, yang sensitif, yang banyak ketawanya. Namun, pas beliau meninggal, segala kebaikan-kebaikan mulailah bermunculan. Tentang anak-anak yatim piatu yang ia rawat, ia hidupi, anak-anak yang tidak mampu dibantu, dan masih banyak lagi cerita yang subhanallah, sangat membuat kita cemburu.
Saat meninggal, dari beberapa yang saya baca, katanya setelah wafat lebih dari 10 jam, jasadnya belum kaku, silahkan di baca selengkapnya tentang apa yang terjadi pada tubuh kita setelah kematian http://pribadimanfaat.blogspot.com/2013/06/proses-pembusukan-tubuh-manusia-setelah.html .

Maha Suci Engkau Ya Allah... Insya Allah Syahid, Kak Olga. Buktinya? Ini dia tanda-tanda mati syahid. 

Pertama: Mereka yang dapat mengucapkan syahadat menjelang kematian sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadis yang shahih diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barangsiapa yang ucapan terakhirnya Laa ilaaha illallah maka dia masuk surga ) ( hadits hasan).

Kedua:
Kematian yang disertai dengan basahnya kening dengan keringat atau peluh berdasarkan hadis Buraidah bin Hushaib radhiallahu anhu:

Dari Buraidah bin Khusaib radhiallahu anhu: ( bahwa ketika dia berada di Khurasan sedang membesuk seorang sahabatnya yang sakit dia mendapatinya sudah meninggal tiba-tiba keningnya berkeringat maka dia berkata: Allahu Akbar, aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( kematian seorang mukmin disertai keringat dikeningnya ) ( hadits shahih ).

Ketiga:
Mereka yang meninggal pada malam jumaat atau siangnya berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ( hadits dengan seluruh jalurnya hasan atau shahih )
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( tidaklah seorang muslim yang meninggal pada hari Jumaat atau malam Jumaat melainkan Allah Melindunginya dari siksa kubur ).

Keempat:
Meninggal dalam keadaan syahid dimedan perang sebagaimana firman Allah Ta’alaa :

Artinya: ( dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh dijalan Allah mati, tetapi mereka hidup diberi rezeki disisi Tuhan mereka (169) Mereka bergembira dengan kurnia yang diberikan Allah kepada mereka, dan memberi khabar gembira kepada orang-orang yang belum mengikuti mereka dibelakang janganlah mereka takut dan sedih (170) Mereka memberi khabar gembira dengan kenikmatan dari Allah dan kurniaNya dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan balasan bagi orang-orang beriman) (QS Ali Imran :169-171).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( orang yang syahid mendapatkan enam perkara: diampuni dosanya sejak titisan darahnya yang pertama, diperlihatkan tempatnya dalam surga, dijauhkan dari siksa kubur, diberi keamanan dari goncangan yang dahsyat dihari kiamat, dipakaikan mahkota keimanan, dinikahkan dengan bidadari surga, diizinkan memberi syafaat bagi tujuh puluh anggota keluarganya) (hadits shahih).

Kelima:
Mereka yang meninggal ketika berjuang dijalan Allah (bukan terbunuh) berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "apa yang kalian nilai sebagai syahid diantara kalian ?" Mereka berkata: "Ya Rasulullah siapa yang terbunuh dijalan Allah maka dia syahid." Beliau berkata: "jadi sesungguhnya para syuhada umatku sedikit." Mereka berkata: "lalu siapa mereka Ya Rasulullah?" Beliau berkata: "barang siapa yang terbunuh dijalan Allah syahid, barangsiapa yang mati dijalan Allah syahid, barangsiapa yang mati karena wabah taun syahid, barangsiapa yang mati karena penyakit perut syahid, dan orang yang tenggelam syahid."

Keenam:
Mati kerana satu wabah penyakit taun, berdasarkan beberapa hadits diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: (wabah tha’un merupakan kesyahidan bagi setiap muslim). ( hadits shahih)

Ketujuh:
Mereka yang mati kerana penyakit dalam perut berdasarkan hadits diatas.

Kelapan dan kesembilan:
Mereka yang mati kerana tenggelam dan terkena runtuhan berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( syuhada ada lima: yang mati kerana wabah taun, karena penyakit perut, yang tenggelam, yang terkena runtuhan dan yang syahid dijalan Allah) ( hadits shahih).

Kesepuluh:
Mereka yang matinya seorang wanita dalam nifasnya disebabkan melahirkan anaknya:

Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjenguk Abdullah bin Rawahah dan berkata: beliau tidak berpindah dari tempat tidurnya lalu berkata: tahukah kamu siapa syuhada dari umatku? mereka berkata: terbunuhnya seorang muslim adalah syahid. Beliau berkata: ( jadi sesungguhnya para syuhada umatku, terbunuhnya seorang muslim syahid, mati karena wabah taun syahid, wanita yang mati kerana janinnya syahid [ditarik oleh anaknya dengan tali arinya kesyurga]) ( hadits shahih ).

Kesebelas dan kedua belas:
Mereka yang mati kerana terbakar dan sakit bengkak panas yang menimpa selaput dada ditulang rusuk, ada beberapa hadits yang terkait yang paling masyhur:

Dari Jabir bin ‘Atik dengan sanad marfu’ : ( syuhada ada tujuh selain terbunuh di jalan Allah: yang mati kerana wabah taun syahid, yang tenggelam syahid, yang mati kerana sakit bengkak yang panas pada selaput dada syahid, yang sakit perut syahid, yang mati terbakar syahid, yang mati terkena runtuhan syahid, dan wanita yang mati setelah melahirkan syahid) (hadits shahih).

Ketiga belas:
Mereka yang mati karena sakit Tibi berdasarkan hadits:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( terbunuh dijalan Allah syahid, wanita yang mati kerana melahirkan syahid, orang yang terbakar syahid, orang yang tenggelam syahid, dan yang mati karena sakit Tibi syahid, yang mati karena sakit perut syahid) (hadits hasan).

Keempat belas:
Mereka yang mati kerana mempertahankan hartanya yang hendak dirampas.Dalam hal itu ada beberapa hadits diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barang siapa yang terbunuh karena hartanya ( dalam riwayat: barang siapa yang hartanya diambil tidak dengan alasan yang benar lalu dia mempertahankannya dan terbunuh) maka dia syahid) (hadits shahih).

Kelima belas dan keenam belas:
Mereka yang mati kerana mempertahankan agama dan dirinya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barang siapa yang terbunuh kerana hartanya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana keluarganya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana agamanya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana darahnya syahid) ( hadits shahih).

Ketujuh belas:
Mereka yang mati dalam keadaan ribath (berjaga diperbatasan) di jalan Allah. Ada dua hadis dalam hal itu salah satunya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( ribath sehari semalam lebih baik dari berpuasa dan qiyamul lail selama sebulan, dan jika mati maka akan dijalankan untuknya amalan yang biasa dikerjakannya, akan dijalankan rezekinya dan diamankan dari fitnah) ( hadits shahih).

Kelapan belas:
Mati ketika melakukan amal soleh berdasarkan hadis:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barangsiapa yang mengucapkan: Laa ilaaha illallah mengharapkan wajah Allah lalu wafat setelah mengucapkannya maka dia masuk surga, barangsiapa berpuasa satu hari mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surga, barangsiapa yang bersedekah dengan satu sedekah mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surga) ( hadits shahih).

Kesembilan belas:
Mereka yang dibunuh oleh penguasa yang zalim kerana memberi nasihat kepadanya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muththalib dan seseorang yang mendatangi penguasa yang zalim lalu dia memerintahkan yang baik dan melarang dari yang mungkar lalu dia dibunuhnya)


... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa'atuubu Ilaik ....


Lalu, kemarin 30 Maret Guru kami tercinta, Asnaeni Mandja, S.Pd juga meninggalkan dunia ini yang INSYA ALLAH, saya dan mereka semua yakin IBU SYAHID.
Setelah berjuang sejak 2 hari sebelum meninggal karena mengalami pendarahan diusia 7 bulan kandungannya.
Ini anak ke-3 Ibu. Selalu, disetiap proses lahiran, selalu Ibu mengalami pendarahan yang berakhir pada Operasi Caesar. 
Namun, Allah berkata lain. Sang anak menarik Ibu ke surga lewat ari-arinya. Ibu Syahid. Meningal disaat melahirkan. Maha Agung sekali Engkau Ya Allah.


Kami, dan saya sendiri khususnya bersyukur bisa diberikan pelajaran yang sangat berharga oleh mereka. 


Selamat Jalan kak Olga dan Ibu.
SEMOGA KALIAN BISA TAHU,
BETAPA SAYA SANGAT MENCINTAI KALIAN. 


Foto Kak Olga yang paling saya sukai. Ceria, ramah, gagah. Apalagi dengan Gingsulnya. Love you!


Foto Ibu Asnaeni Mandja. Guru terhebat sepanjang masa. I LOVE YOU, Bu. 

Minggu, 22 Maret 2015

3 Ayah

di Maret 22, 2015 0 komentar
Pernah suatu waktu hidupku terasa sangat sepi. Semenjak meninggalkan dunia Kost yang banyak memberikan warna-warni kehidupan, sejak saat itu sahabat yang selalu mengekorku memang seperti tidak ada lagi. Bagi-ku yang lebih peka dengan kesendirian memang ini bukanlah masalah yang utama dalam hidup, hanya-kan tetap saja setiap manusia butuh yang namanya "sahabat". Yang bisa mendengarkan kita, menemani, bahkan jika hanya sekedar berbagi cerita suka dan duka. Defini si sahabat pastilah banyak sekali, yang utama mereka adalah orang kesekian yang pasti akan memberikan cinta setelah Orang tua, saudara, dan kekasih mungkin. 

Do'a dan harapan ku gantungkan padanya, agar saya tidak kehilangan sahabat lama namun ingin pula sahabat baru yang bisa menyesuaikan dengan kondisiku saat ini. Sejak di Maros kan memang susah bertemu mereka sahabat-sahabat semasa kuliah dan nge-kost, karena mereka sudah pada jauh. Memiliki jalan masing-masing yang sudah berbeda. Dan, hadirlah mereka manusia-manusia ini yang selalu saling menyapa dengan kata "Ayah". 


Awalnya saya diperkenalkan sepupu ke temannya, namanya Muhammad Danial Muchtar. Selanjutnya, setelah kami dekat saya yang memperkenalkan kak Nial ke Sardiana, sahabat semasa SD-ku. Lalu, Sardiana memperkenalkan Sarlinha ke saya dan kak Nial. Lalu, sapaan Ayah?
Itu sumbernya dari ke-booming-an ini:


Yah, selain hastag #MakassarTidakAman, meme ini juga lagi trend banget di Makassar. Istilah lucu ini dilatari gambar waria yang beraneka rupa. Kalimat-kalimat kocak yang disemati tulisan kata 'ayah' pun bemacam-macam. Mengundang tawa. Kira-kira karena bahasa yang kocak, campuran bahasa Bugis-Makassar. Apalagi adegan si waria pada gambar yang bertema: 'Ayah'. Misalnya, 'Instal Ulangka Ayah', Kucarikang ki Batu Bacang Ayah, Habismi Tawasku Ayah, Kunci Leher ka Ayah, dan sebagainya (sumber: Tribun). Ini bahan bercandaan juga buat kami. Dan, tanpa disadari istilah "Ayah" ini-pun kami gunakan setiap kali ketemu. 
Tak lama, banyak moment yang kami habiskan bersama. ^___^

1. Tour ke Taman Purbakala Leang-leang








 2. Malam Final STQ Kab. Maros





3. Malam Pengumuman dan Penutupan STQ Kab. Maros











Dan, saya-pun sayang kalian. Mmuuuaaccchhhh! Kapan moment selanjutnya kita lanjut lagi? :D

Sabtu, 21 Maret 2015

Generasi Qur'ani

di Maret 21, 2015 0 komentar
Katanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Itu benar, namun bisa juga terbantahkan. Saat acara STQ (Seleksi Tilawatil Qur'an) Kab. Maros yang dilaksanakan dari tanggal 16-20 Maret lalu, banyak sekali Qari'/ah dan Hafids/ah yang notebene keluarga atau orang tua mereka bukan dari latar belakang Qori' maupun Hafids.

Yang sempat saya ingat sedikit, namun tak sempat mengambil gambar wajah asli mereka beberapa anak yang mendapatkan juara I golongan Qori' anak dimana latar belakang keluarganya bukanlah juga seorang Qori' melainkan hanya seorang PNS biasa ayahnya, dan ibunya pun IRT biasa. Dan, ada pula yang mendapatkan juara untuk Hafids 1 Juz Anak juga bukan seorang Hafids orang tuanya. Meskipun memang ada beberapa anak lain yang memang kelebihan mereka ini yang diturunkan orang tuanya. 

Yang ingin saya tegaskan, bahwa "anak-anak kita-pun bisa menjadi Qori'/ah ataupun Hafids/ah", meskipun kita bukan Qori' ataupun Hafids. Mengapa? Yah, saya paham bahwa anak yang baik berasal dari orang tua yang baik. Tapi, apa perampok orang tuanya juga perampok? Belum tentu. Itu dikarenakan, anak-anak kita tidak memiliki kesalahan yang harus mereka tanggung atas kesalahan kita sebagai orang tuanya. Namun jangan dengan alasan demikian jangan sampai kita bisa melakukan kesalahan lain karena menganggap toh anak-anak kita tidak masuk dalam lingkaran setan yang kita buat. Hanya saja, kita perlu mendidik diri kita lebih baik lagi agar kelak saat memiliki anak kita sudah bisa mendidik mereka dengan jauh lebih baik lagi. 

Semoga kita semua bisa melahirkan anak-anak yang menjadi Generasi Qur'ani seperti mereka yang ada di STQ kemarin. Aamiin Ya Allah. 



Kamis, 08 Januari 2015

Jalan sehat hari Amal Bakti Kementerian Agama Kab. Maros

di Januari 08, 2015 0 komentar
Yuhuuu, dalam rangka Hari Amal Bakti Kemenag RI yang ke-69, salah satu even yang di adakan adalah Jalan Sehat dengan Rute start dari Kantor lama, menuju poros Bambu Runcing, belok melewati Kantor Bupati Kab. Maros dan finish kembali di Kantor Depag. Bayangkan (bagi orang maros saja yang bayangkan) rute sejauh itu, apa nda capek? Yah jelasmi, nassami, capek sekali. Taapii, kita nda akan melewatinya kok teman-teman. Kami (saya, Dian, Inha, kak Nial) memotong jalan sebelum memasuki poros Bambu Runcing, berbelok ke lorong yang langsung tembus Terminal. :D
Ahhh, ini karena kami hanya mau mencari tempat terbaik untuk foto-foto kok. Bukan karena malas saja. ^_^
Hasilnya, inilah foto-foto kami. 
Model By: Ulfa, Dian, Inha.
Fotograph By: Muhammad Danial Muchtar 
















Jumat, 21 November 2014

Matahari kita, Nanti.

di November 21, 2014 0 komentar
Usia belum menjadi jaminan akan kedewasaan seseorang. Pengalaman pun demikian. Sebanyak apapun dia tak pernah pula menjadi jaminan akan memudahkan seseorang lebih bijak dalam bertindak. Semuanya tergantung sejauh mana Iman kita. Ah, harusnya saya tidak mengambil kata itu. terlalu religius sementara kali ini saya tidak sedang ingin mengatakan hal itu.
Isi kepalaku benar-benar ingin memuntahkan kejadian kemarin, Syah. Makanya saya membuat cerita ini.
"Kata pengantarmu seperti halaman buku, panjang. Jelaskanlah pada saya, supaya saya bisa menghemat waktu".
"Baiklah" lalu ku keluarkan sebuah buku keil berwarna biru tua. Agak kasar dan pita pembatasnya sudah mulai habis. Terlalu lama tersimpan dan terakhir ku buka kemarin semenjak setahun lalu saya tidak menggunakannya. 
"Bacalah" Kataku padanya.

Lalu ia, membukanya.
Ku perintahkan ke halaman terakhir.

Aku berhenti pada sebuah perlakuan. Kepalaku tertunduk. Isi dada-ku rasanya ingin meledak seketika. Kepalaku sakit dan ingin sekali aku menarik telinga-nya agar dia sedikit peka. Aku menangis dan kamu tak menyadarinya? Bagaimana selama ini kamu mengatakan kita sejiwa? Film itu? Segitu hebohnya kah?

"Maafkan saya, kak" dan kamu pun berbalik kepadaku.
"Ahh? Apaa?"
Bodoh. Apa dari-mu yang membuatku semakin ingin melakukan apa saja?
"Saya minta maaf. Saya tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Saya mau putus"
Meskipun ruangan bioskop gelap, namun saya masih mampu melihat ekspresimu. Kaget bercampur cemas. Tapi tak lama, saya tak mampu melihatnya.

Kamu menarik tanganku dan menggenggam-nya, erat!
"Nggak. Saya nggak mau. Saya tidak mau"
"Tapi saya mau. Terserah kakak mau apa tidak"
"Nggak, sayang. Nggak. Saya nggak mau"
Kita masih saling menarik-narik tangan, dan saya mau tetap putus. Bohong.

"Kita kembali saat kita sama-sama siap, untuk menikah"
"Nggak, saya ngga bsa. Tolooong. Saya mohon. Saya nggak mau. Saya akan tepati janjiku".

Aku-pun kalah.
Saya masih ingin bersamamu. Lebih dari selamanya.


"Apa maksudnya kamu meminta-ku membaca ini?"
"Agar kamu tahu, bahwa hati kamu masih menulis tentangnya"
"Dia?"
"Siapa?"
"Laki-laki yang selalu kamu sebut dalam do'amu"

Dia tidak mengerti.
Perlu saya jelaskan lebih?
Namun sayang, kita ini setubuh tapi tak mampu saling mengerti. Sudahlah!!!


 

Lyu Fathiah Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review