Rabu, 16 Desember 2015

Scout of Madrasah #First Night

di Desember 16, 2015 0 komentar
Duluu waktu saya di MA, menurutku Pramuka adalah Organisasi yang cuek dan pendiam terhadap dunia sekitarnya. Saat itu teman-teman saya yang diorganisasi ini sangat menutup diri terhadap kami yang di PMR. Ntahlah karena alasan apa, saya-pun nda tau. Dan dengan alasan itulah saya sedikit 'nda suka-suka amat' lah sama Pramuka (haha, maaf). Yah, itulah resikonya kalau kita nda mampu menjaga sikapp yang baik, organisasi akan menjadi imbasnya. Ini juga berlaku untuk sikap kita dilingkungan masyarakat, Gan. Imbas dari sikap kita adalah nama baik Orang Tua, Agama, Bangsa, Almamater/Instansi kita bekerja. Dengannya, mari kita jadi agen muslim yang baik. Asikk!!!

Lalu, si Gadis Scorpio yang 'memang' notabene akan menjadi dewasa ketika telah melewati sebuah masalah/kesalahan. Dulu saya bertanya-tanya, mengapa saya baru bisa bersikap yang baik setelah saya melakukan kesalahan dulu? Apakah kebenaran itu selalu ada setelah didahului oleh kesalahan? Mungkin IYA mungkin juga TIDAK. Tergantung dimana Tuhan menempatkannya. Contohnya saya. Baru sadar betapa salahnya saya selama ini berpendapat tentang Pramuka, ---ketika--- Kemah Madrasah di hadirkan didepan saya, dan, saya ikutan. Kihkihkih. Ini seperti menjilat ludah sendiri, Man.

Saya belajar dan sangat tahu kini bahwa apapun yang terjadi didunia ini, tidak ada yang tidak memiliki manfaat sedikitpun. Sekalipun itu, hanya sebuah batu kerikil yang menyandungmu dan mengajarimu untuk berhati-hati ketika berjalan dan bersabar ketika mendapati kesulitan.

Opened Ceremony The Madrasah's Camp of Scout
Me 'and' Dian








Kakak-kakak PELATIH


Mungkin ada yang membaca betapa sudar berumurnya mereka menjadi anggota Pramuka. Bukankah Tunas Kelapa dan sapaan "kakak" di Pramuka mengindikasikan bahwa Pramuka untuk siapa saja dan kapan saja? Lantas, no reason for no join. #Cieee Lapangan yang panas saja kita bisa menyatu, sementara mungkin saya dan teman-teman lain yang usianya masih 20-an. Sisanya sudah seusia mamak, bahkan ada yang seusia nenek dan kakek saya. Hahaha. 














Kamu pasti akan melihat betapa senyum itu sederhana namun membawa kedamaian yang luar biasa, bahkan mungkin kamu bisa berkata "surga itu ada disini, di Bumi Allah yang Maha Luas". Bahagia memang sederhana, tak harus mewah. Cukup memiliki Keluarga yang Harmonis, Sahabat yang setia dan dapat dipercaya, serta kita memiliki Allah di setiap sisi hidup. Itulah kebahagiaan. 

Ahh, kenapa Pramuka seperti tumpukan puisi ya? Hahaha, saya saja yang terlalu lebay mengartikannya Bung. Terlalu jago membuang kalimat. Nggak, dimana saja ada kebahagiaan tak hanya di Pramuka. Hanya saja, saya menemukannya kali ini di Pramuka. ^___^

Add caption


Cukup dulu disini, untuk malam ini saya menulis untuk hari Pertama. Besok saya akan lanjutkan ketika energi saya sudah kembali penuh. Hahaha. Waktunya, tiduuuuur. Good Night, The Jungle's.


Maros, 16 Desember 2015
Kelamaan ngupload,
22;58 WITA, Mmmuucchh!!!


Rabu, 18 November 2015

Ingin Juga jadi IDOL

di November 18, 2015 0 komentar
Ini saya bukan mau bahas soal Kompetisi Pencarian Bakat nah. Tapi mauja saja menulis tentang, FANS. Kalo tulisannya VANS artinya itu merek sepatu, tapii kalo Fans otomatismi yang muncul pertama kali diotak atau pikiranta adalah orang yang idolakanki. 
Kalo kita idolakan seseorang sudah pasti ada yang kita suka dari dia, entah apa. Kayak saya;

  1.  Saya suka BAKSO. NDADA ALASAN kalo ini tetap number one! titik
  2. Saya suka Baca Novel dikarenakan dengannya saya bisa bisa, bisa apa di'? Pokoknya saya suka ji membacanya cerita yang mungkin akan saya dapatkan ilmunya, baru juga belajarka bagaimana berkata-kata.
  3. Saya suka (akhir-akhir inipi iyya) Summerlane karena personilnya kebanyakan CAKEP, tidak bosanka liatki, yah meskipun Tattoan jadi maskotnya, haha! *but i like.
  4. Saya suka Kak Aya, dia cerdas, baru pintar, baru cerdas, baru pintar lagi... Sama dia orgnya apa adanya nah (betulka) klo ada nda na suka dri kita, biasa langsungki na kasi tau, baru na tegur langsungki. Tapi kalo diblg Konyol, disini saja belajar!
  5. Saya Suka Kak Fuzah, dia asliiii Kakakku yang CEWEEEEEK banget. Secaralaaah dia kan orang Malaysia, terkenal dengan Muslimahnya, hehe. Kita kodong apa tonji ini, setengah2 ji Muslimahta, kadang jadi muslihat, hiks hiks.
  6. Saya suka Dennis Ferdinand, kembali, dia Personilnya Summerlane BOssss, cakepmii, putihhh asliii, tattoannya gak ada (yang keliatan) tapi saya taujii blg ada palekk jg tattonya di PAHA. Huahhhhh!!! (Pasti kalian bertanya, hotokwe aroo?
  7. Saya suka jugaa SAMA teman kelasku, Achriansyah namanya. Adikku yang 1 ini karakternya tosseng saya suka. Nda dekatka mmg, tapi di Socmed banyakja interaksika. Sedikit banyak saya suka skali pribadinya sebagai laki2. Kalo ada yg mo kenalan sama dia kasik taukmaa nah! Sementara ini JOMBLO ji dia, hahaha.
  8. Saya suka Aisyah/Istiqomah/Marsyah (IIS), dia jago nulis, kalo baca tulisannya saya seperti baca bukunya Dee. Nyaris menyamailah. Dia baik pasti, lembut juga.
  9. Ada lagi saya suka orang namanya LEE SANG YOON. Senyumnya tosseng ini saya suka. Hahahaha
  10. Laluuu, i like someone... *sensor* Pokoknya dia orangnya COOL habis, agamanya bagus, agamanya keren, agamanya mantap, Jago Bahasa Arab sama Jerman, but he's Pharmacist. Untung banget kita bisa disenyumin sama dia, mungkin juga adami Pacarnya but whatever, i don't care bcose i just love the tools and habits. Dan, nda tau dia dimanami skrg bah! #Baper. Udah itu ajaahh!!!
Nahhh sudahmi saya jelaskan yang saya maksud dengan FANS, saya mi fansnya mereka. Dan, pertanyaannya kenapa saya mau tulis tentang ini adalah, Are the fans at me ?

Jumat, 30 Oktober 2015

Dua Empatnya 'Aku'

di Oktober 30, 2015 3 komentar


Hari ini meskipun jatah hari dan hidup saya berkurang, saya tetap mau bersyukur dengan sangat besar. Atas NikmatMu Ya Allah, Tuhanku, Pemilikku, dan Tempatku selalu mengadu tanpa letih, meminta tanpa malu, dan berharap tanpa ragu. KarenaMu lah saya bisa bertemu di usia yang saya sadari;
  1. Saya belum mampu menjadi anak yang baik
  2. saya belum mampu menjadi Adik dan Kakak yang Fatanah
  3. Saya belum mampu menjadi Mahasiswi yang terbaik
  4. Saya belum mampu menjadi Pegawai/Staf yang teladan
  5. Saya belum mampu menjadi Perempuan yang menjaga Marwah Agama
  6. Saya belum mampu menjadi HAMBA YANG BERIMAN DAN BERTAQWA
Sudah barang tentu saya kecewa dengan 24thn yang belum mencapai puncak keunggulan sebagai manusia. Terima kasih saja mampu ku katakan padaMu, Allahku, yang memberiku jutaan manusia yang mendoakanku di hari saya dilahirkan, 24 Tahun yang lalu, di Jumat-Mu yang Berkah.

Allah, hari ini saya bahagia sekali, dihari saya tepat dilahirkan, seperti harapanku yang selalu ku inginkan, adalah dilamar dihari ulang tahun. Makasih untuk kesempatan yang kurasakan itu. Meskipun, saya belum memastikan sepenuhnya berhasil karena harus memilih diantara keduanya yang meminta kepada orang tua-ku, menjadi Ratu-nya dirumah, asikk.. Haha. #BerilahpetunjukMupadakuRobb

Sengaja ku Capture Do'a-do'a ini, karena sekali setahun saya bisa mendapatkan doa sebanyak ini..haha..























Semoga di Jumat ini, semua doa yang tercurah untukku Engkau kabulkan Ya Allah.. Aamiin aamiin.. Makasih juga untuuuuk Sahabat-sahabatku yang GILA.. Yang sukses ngabisin isiii dompetku.. Grr... But I LOVE YOU.. Hahaha












And then, Happy Birthday to Me... Ulfa Hidayati yang cerianya sama dengan galaunya, yang bahagianya sama dengan sedihnya... Kamu harus jadi orang yang berguna, tak merepoti orang lain lagi. Jangan khawatir dan cemas soal kamu-nya yang selalu naik pete-pete... Soal kamunya yang katanya 'pembawa sial' dan kamu yang tak cerdas. Kamu tidak mungkin dihidupkan kalau tak berguna. Kamu punya banyak orang yang menyayangimu. Setidaknya kamu dicari-cari orang rumah kalo mereka mau dipijit. Itulah sisi gunamu. Hahaha. Ulfaa sayang, mungkin sebentar lagi Allah akan membuka jalan jodohmu, Mungkin dan Aamiin. Sebelum itu, belajar lebih giat lagi ya untuk menjadi Istri dan Ibu. Semangaaat. Kamu lagi mengagumi seseorang kan? Cieee yang udah dewasaa cieee... Hahaha. Iyyalah, kamu kan udah 24thn, wajar kamu selalu bermimpi mendambakan Lee Sang Yoon #GUBRAAAKKKK tapii realistis bo', doa ajaa ya nek, semoga kamu bisa dapat Suami yang Ganteng, Cakep, lemah lembut, sabar kalo kamu lagi marah2, Soleh pastinya, mampu belajar dengan giat untuk paham dan tau Agama. Minimal Ngaji dan Sholatnya gak nyangkut2in... Udah yah itu aja!!!

PictBye: Aisyah Istiqomah Marsyah ^^

Rabu, 21 Oktober 2015

Blackfeel

di Oktober 21, 2015 0 komentar
Saat ini saya sedang berada di situasi, dimana saya mencari seseorang yang ku akrabi pun TIDAK. Kami hanya sekedar 'pernah' menyapa dan chating di medsoc. Lalu, saat itulah kamu tahu ada keanehan kalau ternyata kamu menunggu apapun tentang dia. Tentang kabarnya, cerita hidupnya, Hingga sampai pada hal terkonyol adalah namanya disebut. Hanya sekedar namanya disebut cukup membuatmu tersenyum. Saya pernah menyukai seseorang bahkan lebih dari itu, tapi belum pernah saya tersiksa hanya karena ingin mencari tahu apapun tentang dia. 
Saat komunikasi yang lancar itu tiba-tiba terhenti, dia yang jauh, seperti ingin menarik awan yang tanpa batas jarak itu, benar-benar membuat depresi. Lalu dengan lincah jarimu mengetik di google, facebook, hanya untuk mencari tentang dia. Ini adalah obsesi pencari berita yang tidak menguntungkan sama sekali.

Hari yang ku tunggu tiba.
Hari dimana saya bisa melihatnya.
Benar, saya hanya melihatnya. 
Ku bilang itu saja lebih dari cukup. Tapi saat tiba dirumah dan memikirkan kejadian tadi, itu menyakitkan. Saya hanya bisa melihatnya. Sementara saya ingin sekali bicara padanya, bicara banyak, atau sekedar saling menyapa sekalipun tidak.

Saat mencoba lagi menyapanya, melalui telpon yang tak dijawab, sms yang tak dibalas, hal negatif pun mulai bermunculan di pikiran. "mungkin dia nda suka sama saya", "mungkin dia lebih suka sendiri", "mungkin dia nda mau berteman dengan saya", dan lain sebagainya. 

Ketika ada urusan yang bisa membuatku menghubunginya, menurutku itulah yang paling bahagia. Namun, saat saya mendengar suara dan balasan yang datar, sama menyakitkannya dengan dia tidak menjawab teleponku. Lalu, hingga akhirnya saya sadar, hatiku benar-benar hitam dibuatnya. Lebih baik dari awal jangan dekat jika akhirnya tidak bisa lebih lama dekat.

-Serii-
Dalam bahasa yang sama

Senin, 19 Oktober 2015

Mulai Bermimpi

di Oktober 19, 2015 0 komentar
Saat itu saya bertemu dengan seorang perempuan gila yang memimpikan banyak hal yang terkesan seperti “dongeng” menurutku. Sebut saja dia, ‘Loly’ karena mimpinya yang penuh warna ceria. Membangun sebuah impian yang sederhana tapi mustahil terwujud. Ku ceritakan ini sebagai bentuk pengkhianatanku padanya, agar dunia tahu betapa bodohnya dia. Melangkahkan setiap kakinya, guna, bertemu dengan mimpi-mimpi yang akan terus ia bangun sendiri. Yang ntah akan terwujud atau sama sekali tidak.
“Kita hidup akan terus bermimpi Ri. Seperti hidupmu yang tak pernah kau rencanakan namun terwujud indah, itu juga bagian dari mimpi” Katanya sambil mengunyah bakso kesukaannya.
“Kapan? Kapan saya bermimpi demikian?”
“Bukan kamu, tapi semua yang mencintaimu, termasuk saya, agar kamu memiliki hidup dan cerita yang indah” dan saya benar merasakan rasa yang aneh. Hidupku begitu indah meski tak pernah ku mimpikan seperti dia, mungkin memang benar. Ini seperti doa orang lain padaku. “Trus kenapa kamu juga tak meminta ku untuk berdoa untukmu saja agar memiliki hidup yang indah?”
“Karena kamu bukan aku”
Dia menaruh mangkuknya, meneguk air agar mampu menelan bakso yang belum hancur sempurna ia kunyah. Ku lihat ia sedikit membersihkan tangannya di bajunya lalu memegang tanganku.
“Ini sederhana, Ri. Sebentar saja kamu mendengar permintaanku yang sederhana. Saya tidak akan memberitahukannya pada siapapun selain kamu. Dan, kamu akan mendengar impianku ini lagi, setelah 40 tahun. Jadi ingatlah, dan dengarkan saya baik-baik, ya?” Saya mengangguk.

Saya akan menikah di usia 25 tahun, disaat itu saya akan dilamar orang yang belum ku kenali sebelumnya. Ayahku-pun tidak mengenalnya. Tapi, orang tua kami saling mengenal. Orang tuanya tidak tahu, bahwa saya yang ia ingin jadi menantunya ini bukan orang baik seperti yang mereka bayangkan. Mereka tidak tahu betapa bodohnya mereka memilih saya, hanya karena mereka mengenal baik dan tahu orang tua ku adalah orang tua yang baik, menurut mereka. Namun Ri, orang tuaku menyukai orang tuanya. Juga, mereka suka laki-laki itu. Laki-laki yang tak ku tau namanya, dan tak ku tahu rupanya. Sebelum saya mengenal ia, saya mendengar bahwa tingginya 180 cm, cukup tinggi untuk bersanding dengan wanita sepertiku. Badannya bidang, kata ayahku. Bagus. Mungkin karena ia Dokter, ia menjaga tubuhnya dan menjaga kesehatannya. Six-pack? Saya tidak pernah tahu apa bagusnya untuk pria, tapi mungkin itu memang menarik. Kulitnya putih, bersih, giginya rapi, rambutnya dijambulin sedikit, mirip Lee Sang Yoon, Hahaha. Ayahku yang tokoh Agama, ternyata membuatnya, laki-laki itu ikut tertarik menjadi menantunya. Awalnya saya ragu, karena karakterku yang nega-holic. Bisa jadi orang tuanya suatu saat nanti tidak akan menyukaiku karena keluargaku dan aku bukanlah dari keluarga kaya seperti mereka. Sementara di lain hal, dia laki-laki yang baik. Dia begitu khawatir denganku yang terluka sedikit, atau kecapean sedikit. Mungkin karena ia Dokter. Dia jarang skali ada dirumah dan selalu kurang waktu untuk bersamaku dirumah karena waktunya habis di RS. Namun, saya selalu menengar disisa waktu sadarku, dia bilang kalau hal yang paling ingin ia lakukan dalam sehari adalah kembali kerumah. Dan mataku terkatup mengantuk. Saat subuh, dia membangunkanku dengan pelan, “bangun, yah...kita sama-sama minta sama Allah agar diberi kekuatan dan ketabahan untuk terus menjadi pasangan yang baik dan amanah. Yah” bujuknya pelan. Meski mataku berat, saya terus berusaha melakukannya dengannya. Hal yang paling tidak ia sukai adalah ketika saya terluka, kelelahan, menangis, tanpa izinnya. Ckckck. Lucu tidak? Tapi hal yang paling ia sukai adalah ketika saya mampu menangis didadanya yang bidang. Dia akan melepaskanku ketika tidak ada lagi air mata yang bisa keluar. Ketika saya marah-marah, dia akan diam lalu menarik tanganku membawaku ke kamar dan berbicara pelan “saya minta maaf karena tidak mampu menjadi suami yang membantu dalam bayak hal...saya cuma mau kamu juga sabar ya”. Itulah titik ketenanganku.
 Keluarganya menyukaiku, semuanya sayang sama dengan sayangnya dengan suamiku. Selalu saja ada juga perempuan lain yang ingin mendekatinya, tak ku biarkan namun saya tidak bisa berbuat apa-apa selain membisikinya kalimat ketika akan bekerja “saya percaya banyak perempuan yang lebih baik dari saya diluar sana, tapi tolong jangan tinggalkan saya demi mereka karena saya membutuhkanmu dan akan selalu menunggumu kembali disini, dirumah”. Mungkin itulah, sampai saat ini kami alhamdulillah masih baik-baik saja.
“Ri, apa mimpiku kelewatan?”
Saya menyimak semua yang ia katakan.
“Tidak.”
Dia nampak sangat bahagia mendengar jawabanku.
“Tapi saya bisa jamin, LO UDAH GILA”
Saya berdiri dari tempatku, “kita tunggu ceritamu ini. 40 tahun dari sekarang, saya akan memanggilmu duduk dihadapanku dan akan ku cerca kau atas mimpi-mimpi konyolmu jika ternyata tidak terwujud”
Dia mengangguk bahagia dan tertawa terbahak-bahak.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Ini Cuma Dunia

di Agustus 22, 2015 2 komentar
Cobaan paling berat didunia ini adalah SABAR.
Dalam segala hal dan segala sisi. Sabar dalam bekerja, sabar dalam kuliah, menahan amarah, menahan pandangan dari yang haram, dan banyak lainnya. Dan tak terkecuali, sabar dalam diam.
Maksudnya apa? Atau, contohnya apa?
Suatu waktu saya bertemu dengan teman SD. Dia sahabat saya dulu, kita akrab skali hingga tamat. Namun, dia tidak melanjutkan pendidikannya karena “terhalang biaya” katanya. Tapi yang membuat saya miris, dia tidak memiliki biaya untuk sekolah tapi setiap harinya “hangout” bahasa kita. Bajunya bagus-bagus, modis juga, dan lagi temannya banyak. Saya gak heran karena ketika kita bergaul, sekolah atau tidak pasti kita akan tetap memiliki banyak teman dan pengetahuan. Tinggal kita menyaring kebiasaan yang baik untuk kita ikuti dengan tidak.
Kembali lagi dengan pertemuan tadi. Kita flashback ke masa-masa sekolah dulu sambil menanyakan kabar teman-teman SD. Pembicaraan kami terhenti pada satu topik. “HIJAB”.
Ada teman kami yang juga putus sekolah namun berhijab dengan ala-ala hijab masa kini. Dengan salut, kagum dan iri, dia menceritakan bagaimana teman kami itu cantiknya dengan pakaian yang modern.
“Kamu tahu gak, Si Vira tuh kereeeeeen banget tahu. Kamu mah kalah sama dia. Dia aja nih ya yang gak sekolah pakaiannya keren, bagus-bagus, trus jilbabnya yah dibentuk2, dimodelin kayak artis. Katanya liat di internet” cercanya dengan semangat.
Sambil menyeruput minumanku, saya hanya senyum-senyum. Saya membalasnya dengan sok ramah dan ceria. “Masa sih? OH yaaa?” Dan ekspresi lainnya.
“Emang luh kenapa sih gak bergaya? Percuma mah luh sekolahnya tinggian tapi gaya lu norak, kampungan. Coba deh lu ikutin atau belajar sama si Vira itu. Biaaar ada cowok yang cakep juga yang naksir ama lu”. Sarannya.
Saya paham akan ketidak tahuannya. Mungkin, dia tidak mengerti bahwa ada yang namanya Jati Diri, ada yang namanya Karakter, prinsip, ada pula yang namanya ketetapan Pakaian dalam Agama. Banyak sekali yang ia tahu soal dunia ini. Dunia yang ia lihat begitu indah. Namun, bagi kita yang paham itu semua hanya kesenangan semata. SEMU. Semuanya akan berakhir dan tidak akan kita bawa dan tidak akan menyelamatkan kita hingga ke akhirat.
Tapi, tak perlu saya membeberkan semuanya karena saya tidak ingin niat itu menjadi Riya. Cukup saja saya katakan kepadanya bahwa, “Pakaian apapun yang menutup aurat, sesuai dengan ketetapan agama, membuat nyaman dikenakan dan dipandang, tidak modern sekalipun tidak masalah, tidak mengikuti zaman pun tidak akan membuat rugi. Kenapa? Pakaian adalah identitas kita. Identitas bahwa kita perempuan, kita Muslim, bukan identitas yang menonjolkan kita Gaul, Hedonis, dan lain-lain. Banyak orang yang modern cara berpakaiannya karena menurutnya ia nyaman dengan itu, ia suka dengan itu, karena memang ada orang yang senang mengikuti zaman. Namun, ada pula orang yang tidak seperti itu. Dia lebih suka dengan style yang casual, sporty, yang tak perlu membuang uang banyak untuk membeli barang yang lagi booming. Karena, mereka paham itu tidak cocok untuknya”.
Sepertinya ketika saya mengatakan itu, alis sebelahnya terangkat sedikit. Ntah apa yang ia pikirkan tentang saya. Namun, sudah sampai disitu. Dia mulai risih, kecut, dan saya mengerti ketidakmengertiannya. Ckckck.

Orang tidak perlu tahu kita berpendidikan tinggi, orang tidak perlu tahu wawasan kita luas, orang tidak perlu tahu kita ikut zaman, gaul, karena percuma kita mengetahui dan membeberkan semuanya ke orang-orang, karena orang lain tak butuh itu, dan jika itu semua tidak mendekatkanmu pada Allah, maka semuanya percuma. Hidup ini dilakoni untuk Ibadah. Bukan untuk dipandang.  




Jungle Rooms
17:12
22 Agustus 2015

Selasa, 18 Agustus 2015

Story About Of Us

di Agustus 18, 2015 0 komentar
Ini bukan Taylor Swift.
Tapi, semua bisa bermuara dari sana.
Sebuah lagu yang mungkin tak sama persis dengan kisah kita, tapi juga sama, ini cerita tentang kita.

Kamu.
2 Tahun yang lalu kita saling tahu. Bermula dari fotoku yang kamu lihat dari sepupuku. Hingga benar ku katakan bahwa taqdir lah mungkin yang membawaku padamu, dan kamu padaku. Siapa yang membuat jemariku mengetik pesan untukmu, meminta tolong agar Koesionerku kau isi. Saat itu, saya seorang Mahasiswa yang kerja serabutan, agar bisa mendapatkan uang. Bagaimanapun caranya. Halal tentunya. Dan, intenslah sejak saat itu komunikasi kita. Kamu yang kesepian, dan saya yang respek kepada siapapun. Kamu yang selama ini telah menutup lukamu dri orang lain, dan saya yang masih sakit.
Kamu yang terlahir banyak melewati hari sendiri, dan apapun sendiri. Membuatmu menjadi pagar besi yang mengelilingi apapun yang kamu miliki.

Aku.
Yang selalu ingin ramai, selalu ingin bertemu dengan siapa saja. Lingkungan ku selalu ramai, berbanding terbalik dengan duniamu. Bahkan jika dimedia socialpun, selalu saja ramai. Dan, itulah duniaku yang tak sama denganmu. Memiliki banyak teman, lebih sering mengurusi rumah dan keluarga, lalu membaca buku, sibuk dengan kegemaranku sendiri.

Tiba-tiba.
Kamu memintaku selalu ada untukmu. Kamu terus. Telepon, sms, BBM, WA, Line, FB, Twitter, hingga didunia nyata.
Kamu bisa menemukanku dimana saja aku bersembunyi. Kamu bisa menungguiku berjam-jam yang ingin menghabiskan waktu bersama teman diluar rumah. 
Kamu bisa mengantarku sejauh apapun aku ingin pergi, asalkan kamu bisa bersamaku.
Sedangkan sebelumnya, AKU ANAK YANG MANDIRI.
Mama dan Bapak saja jarang sekali mengantarku kemanapun. Bahkan saat diasramakan sebulan karena Paskibraka saat itu, mereka hanya sekali menjengukku. KKN-ku yang jauh begitu, hanya 2x orang tuaku menjengukku. Kini, aku bertemu denganmu yang selalu ada buatku. Harusnya aku bersyukur. Tapii, jujur, itu bukan dunia yang ku rasaiii tenang dan nyaman. Bagiku kamu seperti Malaikat yang selalu ada buatku. Namun, ntah kenapa saya tidak menginginkanmu yang begitu? Kenapa? Kurang bersyukur apa aku? Justru yang kurasakan, SAYA TERBEBANI dan BOSAN.

Jelaskan padaku apa yang membuatmu bertahan padaku yang terus berperilaku jahat padamu? Mungkin jika aku melepasmu, atau memilih meninggalkanmu, saya akan menyesalinya karena mungkin saat ini kamulah yang terbaik yang Allah kirimkan untukku. Lalu apa saya harus bersabar, menunggu hatiku berpihak padamu? Mengembalikan rasa nyaman itu padamu? Lalu aku hanya harus berpura-pura terus bahagia bersamamu? Sampai kapan aku memakai topeng menjemukan ini? Apa aku badut yang bisa terus tersenyum didepanmu? Jika ternyata ketika sudah menikah, dan rasa itu tak kutemukan lagi padamu, rasa nyaman itu, apa yang harus ku lakukan? Tolooong, beritahu aku. Apa yang harus ku lakukan padamu saat ini? 
Jika kamu bertanya apa mauku, maka akan ku jawab; "Izinkan aku menjadi aku yang dulu"



~Lyu Fathiah
Jogja, 18 Agustus 2008

Minggu, 26 Juli 2015

Hati-ku dan Hati-mu

di Juli 26, 2015 1 komentar
Sejak seminggu ini ada yang tidak beres dengan hatiku. Selalu gundah, galau, gak jelas, dan mood juga selalu saja memburuk tiap harinya. Anehnya, itu hanya dengan seseorang saja. Sementara saya tahu pasti bahwa dia adalah orang yag paling dekat saat ini denganku. Dulunya, saya sering skali bercerita apa saja padanya. Meskipun saat itu saya tahu dia lebih ingin curhat dari pada saya, tetap saja hanya ceritaku yang didengarkan. Mungkin baginya, saya adalah Bunga yang harus tetap ia jaga agar terus segar. Segala perlakuan baik ia lakukan. Demi saya. Agar saya tak kecewa mungkin padanya, tidak jenuh. Hingga terjadilah perasaan yang tidak enak ini. Saya merasa membencinya setiap kali ada sms, tlp, bbm, dan semuanya. Anehnya, hanya sebatas komunikasi. Ketika bertemu malah kita sama dekatnya dengan sebelumnya. Ada apa dengan hatiku?

Dan, yang harus ku terima adalah saat semua kebencian itu kutujukan padamu, ku berikan sumpah serapah padamu, ku perlihatkan sisi setan dalam diriku, memberimu banyak kalimat keji dan perlakuan yang tak pantas, kamu hanya bilang "iyya, gak papa.. Saya mengerti". Terbuat dari apa hatimu? Apakah memaafkan semudah itu? Kenapa hatiku tak bisa menjadi hatimu yang lembut?

Sabtu, 11 Juli 2015

Profesi Pernikahan

di Juli 11, 2015 0 komentar
Profesi Pernikahan

Diusia ku yang sekarang menanjak 24 Tahun, pastinya sedikit banyak sudah mengarah ke Pernikahan. Dan tidak banyak pula teman sesama disekolah maupun kuliah sudah memiliki anak-anak yang lucu. Ketika menjadi siswa, membahas tentang pernikahan atau sekedar hanya memikirkannya pun terasa sangat berat. Menjadi hal yang terlalu vulgar untuk dibicarakan. Namun, entah sejak kapan, saya sendiri tidak menyadarinya secara kuat bahwa saat ini, menikah menjadi topik yang panas di otakku. Selalu tentang menikah, dinikahkan, pernikahan, yang melintas tentang itu terus bahkan jika saya sedang *boker (red: BAB).
Lalu, apa yang ingin saya katakan disini?

Ya. Banyak sekali yang ingin saya sampaikan.
Pertama. Menikah itu keputusan yang hebat dan tidak mudah. Di usia yang masih muda, kita bisa saja mememikirkan bahwa keputusan untuk menikah adalah jalan terakhir untuk menutup pintu kebebasan. Entah kebebasan berteman, kemana-mana dengan siapa saja, dan melakukan apa saja dan dengan siapa saja. Kamu, kalian, dan saya juga jika memutuskan untuk menikah maka berarti kita harus siap menjadi Penjaga Dapur, Sumur, dan Kasur. Jangan langsung berpikiran saya ini sempit. Tidak. Itu kodrat kita sebagai perempuan. Kamu ngerti kan? Terlepas dengan adanya zaman Emansipasi Wanita, yah, tidak mengapa kalian berkarier tapi ingat kodrat itu. Berat kan? Tentu berat jika kita memikirkannya di usia yang masih 20-an. Karena ego kita masih kuat dengan masa muda. Namun bagaimana dengan mereka perempuan yang usianya sudah lewat dari 20-an dan belum menikah? Tentu saja mereka pasti akan lebih banyak yang pasrah. “Siapa saja Tuhan menurutMu dekatkanlah denganku” sejauh ini makna doa yang sama mereka lafazkan di sujud-sujud mereka yang panjang. “apapun pekerjaan mereka Tuhan tak mengapa asal mereka mau berjuang bersama” dan ini juga banyak di usia kita yang berdoa demikian. Atau, “dari kalangan keluarga apapun ia Tuhan saya bersedia yang penting dia mau sama-sama baik denganku setelah menikah”. Hmmm,  ingatlah lagi. Jangan menunda menikah hanya karena “Dia siapa, kerjanya apa, dan keluarganya apa”. Memang mesti dipikirkan kesemuanya. Tapi Rosulullah SAW *Allahumma Sholli Wasallim Wabariq ‘ala Sayyidinaa Muhammade wa ‘ala alii Muhammad* juga berpesan pilihlah yang BERAGAMA.
Kedua. Saya ingin membahas masalah PROFESI laki-laki yang melamarmu dan bagaimana KELUARGANYA. Dulu saya pernah mendengar kalimat “apapun dia, bagaimanapun latar belakang pendidikannya, atau dari siapapun keluarganya saya mau asalkan ini, asalkan itu, dll”. Tidak sepasrah itu menurutku. Mengapa kita perlu memilih perempuan/laki-laki yang paras wajahnya Cantik/Gagah karena kita menikah tak lain ingin menghasilkan keturunan. Selain kita ingin keturunan kita berparas indah pula, juga dengan wajah yang indah pun akan membuat kita senang memandanganya. Meskipun itu memang semu karena akan ada masanya kita bertemu dengan masa tua. Jangan munafik. Jangan mengatakan “Gak Papa Jelek” karena apa? Hati itu terombang-ambing Bray. Kemudian dari keluarganya. Jika ia bukan dari kalangan terhormat, pejabat mungkin, Kyai mungkin, atau apakah itu Profesi yang dibanggakan apakah kita sulit menerimanya? Wajib bagi kamu juga melihat latar belakang keluarganya. Tidak untuk kamu sindir jika keluarganya tidak baik, hanya saja, ketika kamu menikah sama dia maka mau tidak mau kamu akan berinteraksi banyak dengan keluarganya. Sehingga anak-anak kamu akan mengikuti juga lingkungan seperti apa ia dibesarkan. Itulah mengapa kita juga perlu melihat latar belakang keluarganya. Namun, tidak untuk jadi patokan utama juga. Mengapa? Misalnya ada 10 Wanita dan 10 Pria. Jika 10 Wanita ini menginginkan laki-laki yang berasal dari keluarga Kyai atau Ulama sementara di antara 10 Pria itu hanya 2 orang yang keluarganya Ulama. Maka apakah 2 laki-laki ini menikahi 5 wanita masing-masing? Laki-laki lain akan menikah dengan siapa? Begitupun sebaliknya jika laki-laki ingin menikahi perempuan yang berasal dari keluarga Ulama? Apakah perempuan akan dinikahi 5 laki-laki diantaranya? Tentu tidak kan? Logikanya begitu. Dan, apakah dengan menikahi anak Ulama atau Ustads maka kamu bisa menjamin bahwa keluargamu akan terbebas dari api neraka? Tidak kan? Karena setiap laki-laki apapun profesinya dan siapapun keluarganya mereka bertanggung jawab MENJAGA KELUARGANYA dari API NERAKA.
Selanjutnya tentang PENDIDIKAN. Kamu tidak wajib memilih perempuan/laki-laki siapa saja. Jika ada yang berpendidikan maka pilihlah yang berpendidikan. Karena orang tua yang berpendidikan tentu bisa mendidik anak-anaknya juga dengan pendidikan yang baik. Meskii itu tidak selalu berlaku Bray. Banyak yang ingin menentangnya? Saya-pun demikian. Banyak yang Profesor tapi anaknya menggunakan Narkoba. Banyak Aparat Keamanan yang anaknya justru menjadi pelaku Kriminalitas. Banyak sekali. Itulah mengapa Rosulullah SAW *Allahumma Sholli Wasallim Wabariq ‘ala Sayyidinaa Muhammade wa ‘ala alii Muhammad* berpesan “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya”, karena didikan tidak selalu sama dan berlaku. Akan ada saatnya Rumus, Hukum, atau Pepatah akan terbantahkan. Contoh: Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Nabi Nuh membuat Kapal untuk menyelamatkan Umatnya, tapi anaknya sendiri ikut tenggelam karena tak mentaati ayahnya. Ada lagi yang ingin menambahkan? Ilmu saya masih dangkal memang. Masih perlu banyak ilmu dari kalian sahabat untuk ku perluas. Contoh lain lagi, jika seorang Suami pendidikannya S2 misalnya, sementara Istrinya hanya berpendidikan SLTP. Ketika ada masalah dalam RT, suami akan lebih cenderung menggunakan pemikirannya karena ia merasa “Saya ini S2, sedangkan kamu Cuma tamatan SLTP” ataupun sebaliknya. Meski ini tak akan menjadi patokan tapi ini hanya sekelumit pemikirannya yang jelek mungkin. Silahkan di sangkal jika saya salah. Saya juga manusia.
Dan Profesi Laki-laki yang melamarmu atau suamimu. Ia tak mesti Ustads, ia tak mesti Dokter, Hakim, dll. Jika semua perempuan ingin menikahi laki-laki Ustads maka yang dokter dan profesi lain akan menjadi Kutu Pekerjaan dan tak menjadi Suami. Begitupun sebaliknya. Dunia ini luas. Tak hanya itu profesi yang mulia dan mampu menjamin akhirat. Ketika kamu atau saya menikah, Ijab Qabul berlangsung, maka Arsy’ Allah akan bergetar karena melihat betapa berat beban yang akan ditanggung oleh suami. Mulai ujung rambut istrinya dan anaknya akan menjadi tanggung jawabnya, menjadi jaminannya masuk surga atau neraka. Oh iyya, masuk surga atau neraka adalah Hak Ikhwal Allah Azza Wajalla. Kita tidak bisa menjudge “dia akan masuk neraka atau surga” karena kita beribadah di dunia untuk mencari Ridho-Nya Allah. Karena Surga dan Neraka-Nya adalah juga dari Ridho-Nya. Salah satu Guru Besar kita, AG. KH. Dr. Sanusi Baco, Lc mengatakan “Jangan semua menjadi PNS. Jangan semua menjadi Dokter, jangan semua menjadi Anggota Dewan. Harus ada yang mengurusi Umat dan Agama Allah”. Apa artinya? Jika memang hanya Ustads yang mulia dalam Profesi itu maka tidak akan ada lagi gunanya menjadi Hakim yang Adil, Dokter yang bisa membantu kesembuhan umat, dan Guru yang mengajarkan Abata, dan berbagai Profesi Halal lainnya. 
Ketiga.  Kesimpulannya mari kita belajar AGAMA. Kamu, kalian, dan saya insya Allah akan menjadi Istri dan Suami. Mari kita menjadi Madrasah Wal Ulaa di Rumah Tangga kita. Menjadi Guru yang Cerdas. Menjadi Hakim yang adil. Menjadi Dokter yang penyembuh. Dan, menjadi orang tua yang berhasil menghasilkan anak-anak yang mengagungkan Agama dan Asma-Nya. Aamiin allahumma aamiin.


Sebelum menikah. Mari kita belajar. Belajar menjadi istri, suami, dan orang tua. ^____^

Jumat, 29 Mei 2015

Dari Istikharah

di Mei 29, 2015 1 komentar
Entah sejak kapan Mila memiliki jiwa yang tak satu. Dia selalu mudah goyah dan terpengaruh terhadap pilihan. Meskipun awalnya dia begitu kuat dan terlihat sulit di goyahkan, namun tetap saja ada halangan dan rintangan yang tak semua ia mampu lewati dengan baik. Tapi, itu bukan karena ia tak sadar apa yang ia alami, justru karena ia sadar betul perubahannya, dia pun bingung. 

Arga, sebut saja nama Pacarnya saat ini. Laki-laki periang yang juga cukup gokil. Sempat membuat heboh ketika awal pacaran dengan Mila, karena ia adalah anak yang mandiri, cerdas, dapat beasiswa terus sejak SMP, hingga mencapai puncak pekerjaan yang tak berpenghasilan tinggi. Mengingat Mila yang anak dari Seorang Dosen, mungkin orang  akan mengira akan memiliki kekasih yang, yah, tak jauh-jauh dari profesi ayahnya. Barangkali pacarnya bisa jadi anak dosen, asisten dosen, yang intinya bukan pekerja honorer di Kantor Daerah seperti Arga. Menurut Mila, selama 3 Tahun pacaran, dia seperti kesempurna sketsa komik. Arga adalah apa yang selalu ia harapkan dari laki-laki. 

Lalu?

Muncul Peeta, sapaannya pada Sahabatnya itu sejak SMP. Lama tak bersua, ketika Peeta muncul kembali, membawa warna baru yang unik. Komunikasi yang intens, alih-alih karena lama tak bertemu dan bersapa kabar, namun ternyata berhujung pada rasa yang aneh. Rasa yang Mila tahu itu adalah Suka bercampur kagum. Kebimbangan mulai muncul ketika Mila sadar bahwa rasa ini tak harus muncul. Ada Arga yang begitu baik. Ada Arga yang begitu setia. Tidak ada alasan yang mesti dikuatkan untuk melanjutkan rasa sukanya. 

Lalu, setelah Mila Sholat Istikharah. 

Mila akhirnya tahu, ada rasa yang luar biasa dari Peeta Untuk Kyna. Nama baru ini muncul ketika iseng Mila bertanya apa ada orang yang Peeta sayangi saat ini. Ternyata benar. Melalui instagram yang screenshoot Peeta, ada wajah manis nan anggun di sana.

"Apa ini jawabanMu, Robb?"


 

Lyu Fathiah Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review