Rabu, 29 Agustus 2012

Malaikat Kecil di Bumi

di Agustus 29, 2012 0 komentar
Tak pernah mengira aku akan tersenyum kali ini sementara hati menahan satu gejolak dalam hati. Aku tersentuh melihat jemari tangan yang mungil, lengannya lemas tak berdaya, wajahnya menempel di dada nenek, dan matanya tertuju pada aku karena aku yang duduk berhadapan dengannya di sini. Angkutan umum yang telah mengukir satu sejarah padaku. Dia sedang dalam gendongan sang nenek yang tiap ada orang yang berkomentar tentangnya, nenek akan menciumnya. Ketika ia mendengar kritikan orang, ia akan tersenyum. Dia mengerti apa yang kami bicarakan, rupanya. Dan, ketika ku lap liur yang menetes dari bibir yang tak sempurna itu, ia menunduk dan tersenyum. Iya, dia sedang malu-malu padaku. Tantenya bilang, aku baik karena mau membersihkan liurnya dengan jariku sendiri tanpa alas. Aku bilang, karena aku kakaknya tante. Tante tentu saja tersenyum. Aku meringis, menahan haru.!
“namanya siapa,tante?”
“Putra, nak”
“Wahh.. Putra, kamu mau kemana? (sambil mengelus-elus tangannya yang mungil)”
“Hehehe.. Mau ke Maros Nakk. Jalan-jalan ke rumah keluarga” Kata Tantenya.
“Tante, lihat. Dia tersenyum padaku” Kini aku menyentuh wajah suci nan bersihnya. Aku sepertinya jatuh hati padamu, Putra.
“Dia malu tiap kali ada anak gadis yang berbicara tentangnya”
Dia tahu, aku anak gadis yang kini sedang berbicara tentangnya pada tantenya. Tapi, aku bertanya-tanya, ada apa dengannya? Kenapa keadaanya seperti dia sedang menikmati buaian yang takkan pernah berkesudahan? Aku ingin bertanya tante, tapi aku tak tahu harus mulai dari mana.
“Dia kenapa, Bu?” Tanya salah satu Penumpang.
“Dia.. Dia seperti inilah yang Ibu liat. Dia tidak normal” Tantenya menjelaskannya dengan hati-hati meski ku tahu dia mencoba menyembunyikan rasa sakit di hatinya, melihat ponakan yang harusnya kini bermain riang dengan anak-anaknya.
“Tidak, Bu. Dia normal kok. Dia hanya sedang menjalankan tugas dari Allah, tetap berbaring agar Allah bisa menjaganya dengan tanganNya sendiri” Aku menyerangi kata-kata berat tante tentang Putra.
“Ya, benar Nak. Karena penyakit tulang yang dokter bilang itu, ia mengalami keadaan seperti ini. Hanya berbaring saja kalau di rumah, melihat para sepupu-sepupunya berlari di sekitarnya. Tersenyum ketika ada yang menjenguknya, ketika kami mencoba berbicara padanya. Tapi, itulah dia. Menghibas lalat yang mengganggu wajahnya saja ia tak mampu. Ia malah hanya tetap tersenyum menahan geli di wajah yang di gelitik lalat. Dia hanya bisa menunggui kami ketika punya waktu baru bisa bermain dengannya, nak. Ibunya hanya dirumah tanpa suami…”
“Tanpa suami, tante?” Aku benar-benar tersentak kaget. Aku memotong pembicaraan tante pun dengan setengah sadar.
“Iyya, nak. Tanpa suami. Sejak lahir, Putra sudah di tinggal sang ayah. Entah sekarang di mana. Mungkin dia sudah mati dan aku juga berharap ia sudah mati. Ayahnya lari dengan perempuan lain, meninggalkan istri dan anaknya dengan sejuta beban, sakit, derita yang harus mereka tanggung. Melihat keadaan Putra yang seperti ini, apalagi yang bisa kami harapkan. Jika tak ada iman, mungkin bunuh diri sudah di lakukan.”
“Lantas, Putra biasanya makan apa tante?”
“yahh.. Hanya bubur dan susu nak.. apalagi?” tante menitikkan air mata.
Tapi, ada yang lebih membuatku merasa tak mampu lagi membendung air mataku. Putra, menangis. Dia menangis. Dia menitikkan air mata. Aku menghapus aliran air mata itu. Bersamaan dengan air mata ku yang mungkin sebentar lagi aku akan bisa membasahi separuh baju ku.
“Dia tetap mendengar tante, dia sepertinya tahu apa yang kita bicarakan”
“Ya, nakk. Dia mengerti setiap detail yang kita bicarakan. Ketika berbicara tentang dirinya, tentang kehidupannya, dia akan menangis seketika itu juga”
“Ya Allah, maafkan kakak ya Putra. Maaf, karena sudah buat kamu nangis. Maaf karena kakak sudah buat kamu ingat masa yang harusnya kamu buang. Tapi, gak papa, Putra. Inilah awal persahabatan kita. Aku akan bisa semakin dekat denganmu dengan aku tahunya kehidupan kamu. Usia Putra sekarang berapa? (aku bertanya seolah-olah aku yakin Putra akan menjawabku. Aku berharap dia akan menjawabku walaupun MUSTAHIL karena dia tidak bisa berbicara. Aku yakin, dengan tatapannya sekarang padaku dia akan menjawabku. Aku yakin akan turun mukjizat dari Allah)”
“17 Tahun, nak.” Tante menjawab pertanyaanku. Bukan Putra.
Aku menghela nafas yang teresak-esak dan tertahan di tenggorokan. 17 Tahun?
“Dia sudah jadi laki-laki dewasa, sudah kelas 3 SMA andaikan dia normal”
“Tidak tante, sekarang dia juga sudah jadi laki-laki dewasa menurutku. Hmm, (kembali menatap Putra)… Kamu 17 Tahun, kakak sebentar lagi akan genap jadi 21 Tahun. Aku kakak kamu 4 Tahun, Putra. Kamu sekarang aku nobatkan jadi adik baru ku. Mau?” Putra tersenyum malu, dan kini ia menggerak-gerakkan kepalanya, dan menurut tantenya ia kegirangan. Aku kini kakakmu, Putra. Kamu adikku, kamu Sahabatku. Kamu mengajari ketidaksempurnaan yang mungkin kelak, kamu akan langsung berhadapan dengan Allah tanpa harus mengikuti ritual semua manusia di dunia. "Putra, kakak mau bilang sama kamu..kamu jauh lebih baik dari kakak.kamu lebih beruntung dari kakak..kamu tdk harus mengikuti dunia ini..kamu tahu Putra?Dunia ini kejam dekk..makanya kau tetaplah begini..biar aku,dan mereka saja yang tetap menyayangimu".. Kamu itu Istimewa, Putra.. Karena kamu, Suci. Karena kamu, Putih. Karena kamu, Putra.
Dan kini, kamu menjadi Putra-ku..!!!
Terima Kasih, Putra telah tersenyum padaku…!!!




Jumat, 17 Agustus 2012

MERINDUIMU SEKIAN KALI (Mahfuzah hazirah)`

di Agustus 17, 2012 0 komentar
Entah kapan pas nya saya mengenalnya..tidak tercatat waktunya, tanggalnya, harinya.. Saya hanya mengingatnya ketika itu saya dalam keadaan sangat kesepian di kamar kost. Ah, sudahlah.. tak perlu mengenang saat pertama mengenalnya. Ada suatu kisah yang tak ingin ku ungkit.
Banyak sekali kejadian lucu yang mengiringi langkahku berteman dengannya. Seorang sosok wanita yang benar-benar jauh dari pikiran sempitku. Ku pikir waktu itu, dia hanyalah seorang perempuan biasa. Berjilbab pastinya sudah ku yakini namun tak ku sangka dia akan membuatku pulang dengan seonggok rasa malu. Malu dengan diri sendiri.
Lucu sekali ketika aku menyandingkan diriku dengannya di lembar foto..jauh berbeda Ya Robb. Dia yang begitu anggun, wajah cerah karena wudhu yang selalu membasahinya, baju kurung, jilbab lebar, hati yang begitu suci. Ahh, benar-benar membuatku tak jadi membusungkan persahabatan. Mengalir begitu saja seolah kami telah lama mengenal.. Tapi, tidak. Baru sekali itu saja.

Ahhh,, saya ingat sekali ketika saya sedang sakit di kost dia datang. rutinitasnya sebagai Dokter tak sedikitpun runtuh niatnya menjengukku. Allah saksinya, saya hanya bisa menangis.. Tak ada temanku yang pernah melakukannya. Mungkin ya sebagai orang lain ini biasa saja tapi ini sangat berharga buat saya sendiri. Alasannya? Ya mungkin sedari kecilku tak pernah ada Teman yang melakukan ini untukku. Memang hal pertama yang paling indah adalah sesuatu yang kita dapatkan yang belum pernah kita miliki memang sebelumnya. Tidak mudah memiliki sahabat sepertinya, Ya Robb.

Hari ini mungkin saya memilikinya, tapi ketika saat di mana dia harus kembali ke negeri Jiran maka sudah usai pula ceritaku tentangnya. Belajar dari dia menyikapi masalah, lembut pada setiap sikapku yang liar, tertawa meski mungkin di tiap cerita-ceritaku tak semua yang lucu. Ketulusannya mendengar cerita-ceritaku yang mungkin saja telinganya panas mendengarku yang tak hanya saya saja yang harus dia temani. Ada banyak sekali pasien yang membuatnya penat hari ini, kerjaan yang bejibun itu tak lantas mengeluh dengan ocehan-ocehanku, keinginan-keinganku yang tak sesuai inginya, menunda waktu tidurnya karena harus menemaniku berceloteh ketika ku bertandang di kamarnya. Harusnya dia mengeluh? Tapi, tak pernah sekalipun ku dengar kata-kata kasar dari bibirnya. tak pernah dia ku dapati mengajarkanku hal-hal yang negative bahkan semua yang ku dapatkan darinya adalah Pelajaran.

Di danau ini kau selalu bercerita pada Alam. tak semua yang kau alami itu kau hadapi dengan tenang saja. Kau juga wanita biasa.. Dan di tempat ini pula aku telah melepas sedihku ketika hari itu kau juga akan kembali ke malaysia. mungkin tak lama, hanya 2 pekan. tapi, tetap aku akan merasa ada setitik sepi untukku. Untuk hapeku.. Hihihi.. cepat pulang ya kak...!!!!


jum'at, 17 Agustus 2012 (14:12)
Batangan Oriza Sativa yang mencoba tetap segar layaknya Nailofar...!!!

Hanya Ingin Belajar, Dikk..!!!

di Agustus 17, 2012 0 komentar
Adikku,
Sekedar ku ingin mengatakannya padamu.
tak ada sedikitpun ku ingin mengajari mu,dik..!!!
Tak ada.. Aku hanyalah seorang kakak yang mencoba belajar menjadi kakak yang baik
Meskipun ku tahu, terlalu terlambat untuk melakukannya karena kini kau sudah gadis, sepertiku..!!!

Adikku,
kemarin ku lihat handphone mu berdering begitu sering.. Tak ada yang berbeda dengan biasanya. Namun, kini aku melihat handphone itu dengan segunung pertanyaan di kepalaku. Apa kini kau sudah pacaran?
tapi tak ingin ku kotori pikiranku tentangmu.. Saya percaya kau tidak melakukannya..!!!
Maaf, dik.. Tapi aku masih saja mengkhawatirkanmu.
Mungkin saja kini kamu tak ingin lagi di jaga karena usia mu yang tak lagi muda.
aku pun pernah sepertimu dik,percaya.
ketika aku merasa sudah dewasa, tak ingin lagi ku di awasi seperti anak kecil dik.. ketika Ibu selalu menghujaniku dengan sejuta petuah-petuah yang kini ku sesali karena dulu ku anggap semua itu TIDAK BERGUNA UNTUKKU.

Adikku,
kemarin ku lihat kau tertawa lantang..wajahmu berseri-seri merona merah.. Tak biasanya kamu seperti itu mengingat aku mengenalmu dari kecil sebagai sosok yang pendiam dan lebih senang menyendiri..
ada apa dik?apa kau sedang jatuh cinta?
Iyyakah???

Adikku,
Maaf jika aku tidak adil..
Maaf jika kau merasa aku kini mengekangmu..
Maaf jika kini aku berbeda seperti yang kamu kenal 20 tahun yang lalu..
Ya, aku kini sudah berjilbab dikk.
Aku sudah 21 Tahun..
Aku mau lebih baik di usiaku ini sampai kesempatanku untuk berada di sisimu habis,dik..!!!!

Adikku,
Aku kini melarangmu PACARAN.
benar-benar melarangmu.
Lebih baik kau memalingkan wajahmu ketika ku berbicara padamu, tak apa..
Asal kau mau berjanji untuk tidak PACARAN.

Adikku,
aku melarangmu bukan karena aku tak ingin melihatmu bahagia..
Cinta yang kau dapatkan di hubungan semacam itu hanya akan menyakitimu dan Tuhanmu..

Adikku,
Andai aku tak tahu dan mungkin tak pernah tahu tentang BAHAYA dan MUDHARAT PACARAN maka aku takkan melarangmu.
AKu tak pernah merasa lebih hebat, lebih tahu, lebih pintar, dan bahkanlebih dewasa darimu.. Tidak Pernah dik..
Aku hanya Seorang Kakak yang mencoba belajar menjadi kakak yang baik untukmu dan adikku yang lain..

Senin, 30 Juli 2012

Itu Cuma Pikiranku..!!!

di Juli 30, 2012 0 komentar

Langkahku sangat berat untuk kembali kerumah siang ini. Pukul 16.24 itu harusnya aku merasakan angin sepoi-sepoi yang menghangatkanku, membuatku sedikit terbang melayang meski tak bersayap, dan mungkin saja sedikit memberikan ku rasa relax sambil menikmati langkah-langkah kecilku sebelum sampai ke rumah. Tapi, sore ini benar-benar masih terasa panas. Baju ku sudah basah karena peluh, jilbabku sudah tak beraturan lagi bentuknya, dan sepatuku berlapis debu. Ku bayangkan wajah ibuku saat aku sampai rumah. Mungkin beliau akan bilang “dari mana saja kamu jam segini baru pulang?” dan ayahku mungkin juga berkomentar “kalau tidak ada urusan kampus lagi, lebih baik langsung pulang saja” atau bahkan abangku pun ikut menyumbangkan komentar yang selalu membuat ayahku khawatir “habis jalan sama cowokmu? Gadis berjilbab kok pacaran? Anak siapa sih itu? Anak ayah atau ibu? Saya ajha yang cowok gak pacaran”. Grrrr… sangat tak pernah ia membuatku sedikit nyaman di dekatnya kecuali pada saat ia melukisku. Ya, abangku sangat pandai melukis. Ketika ia melukisku, saya merasa menjadi perempuan paling cantik di dunia karena ia selalu melihat wajahku sambil tersenyum. Seolah-olah ia benar-benar menikmati kecantikanku. Aahh.. Indahnya.. hahaha.. tapi, Itu Cuma pikiranku.
Tak salah lagi, mereka bertiga lengkap di teras rumah. Ku lihat dari mataku yang sedikit menyipit mengintai mereka dari jarak tak jauh dari rumahku sekitar 10 m. cukup dekat, cuma karena saya sedang bersembunyi di balik deretan pot bunga mahalnya ibu dokter yang juga tetanggaku maka al-hasil juga aku tak keliatan sama sekali. Ku pelajari ekspresi mereka sebelum melengleng masuk kerumah. Ini untuk mewanti-wanti agar aku tak kena marah nantinya!! Itu Cuma pikirku saja. “Sepertinya mereka sedang bersantai? Oke, aku bisa berlenggang ria sekarang!” Kataku dalam hati…Hmmm..
“assalamu alaikum..aku pulang…!!!” salam pembuka ku sambil terus berjalan ke meja menghirup kopi kakakku tanpa melepas sepatuku.
“eh, gak sopan amat sih” gertakknya sambil memukul ringan tanganku yang masih memegang cangkir.
“apa sih bang..haus ini saya bang,haus..!! tega amat sama adik ndiri..”
“kamu dekil amat sih ta? Dari kampus apa dari sawah?”
“Ya Allah bang, dari kampus lah. Kalau saya dekil begini artinya saya serius belajarnya. Ampe muka saya pun gak saya perhatiin lagi ngurusin pelajaran mulu?”
“eehhh,,kamu kira aku gablek, gak pernah sekolah? Muka dekil mu ini bukan suntuk karena pelajaran tapi karena habis keluyuran khan? Ayoo ngaku, dari mana saja kamu?” teriaknya sambil menjewer kupingku.
“sudah..sudahh..!” lerai ibuku yang ku kira ia akan membelaku tapi ternyata..
“dari mana saja kamu? Jujur?” gertak ibuku. Aku memperhatikan wajah ayahku yang juga ekspresi sama, tanpa ada yang mengasihi ku sama sekali.
“tadi lagi nyari dana bu. Dari cek proposal di beberapa perusahaan tempatku dan teman-teman berharap di cairin proposal kegiatan kami?” aku mencoba memelas. Kali saja mereka luluh.
“ah tuh kan bu? Apa juga saya bilang? Dita ini ikut organisasi makanya dia jarang pulang. Saya sih setuju ajha Dit kamu berorganisasi tapi ingat jangan pulang lebih dari jam 3 sore?”
“Apa? Mana ada kegiatan yang bisa selesai sebelum jam 3? Mana juga ada urusan yang bisa selalu selesai sebelum jam 3? Ma..” belum habis aku membalas abangku, ayah lebih dulu memotong dengan sepotong ceramah pula. Mati saya..!!! habislah..!!!
“Dita, ayah lebih seneng kalau kamu dirumah, belajar, bantuin ibu, gak jalan sembarangan. Kamu itu anak perempuan ayah satu-satunya. Kalau bukan kami yang ngejaga kamu sapa lagi?”
“Tapi yah, kan dita juga gak kemana-mana yah. Dita belajar kok, bantuin ibu kok. Organisasi itu juga penting yah. Memang gak ada hubungannya dengan kuliahku tapi ini salah satu pengembangan diri juga. Kali ajha nanti pas Dita sukses jadi anggota dewan misalnya, Dita bisa jadi perempuan cerdas ngomong di depan umum. Ayah khan jadinya bangga juga punya anak yang berhasil”.
“Tapi, Ta. Kamu itu perempuan. Terlalu bahaya kalau kamu keseringan keluar. Ingat, perempuan itu paling rawan kena fitnah tetangga” terang abangku yang asli sok pintar sekali dia sekarang.
“bang, ya gak usahlah kita dengerin apa yang dibilang tetangga. Selama kita ngelakuin yang benar, gak keluar dari koridor, mempertahankan harga diri dan martabat agama ngapain mesti mikirin orang bilang apa? Jadi orang baik dan berguna itu gak mudah bang?”
Sore ini sedang rezekiku untuk bisa mengalahkan debat keluargaku. Aku menang walaupun tidak pada suatu waktu kemudian di saat aku minta izin ikut kegiatan.
“Ahh.. gak usah. Pake nginap lagi.” Ayah melarangku justru pada saat kegiatan organisasiku berlangsung esoknya. Ini sudah merengek ke 4 kalinya dan tetap saya mengalami kegagalan mendapatkan izin. Orang tua ku memang sangat otoriter dan begitu ketat kepada urusan anak-anaknya. Beliau mungkin trauma karena anak salah satu sahabatnya pernah kabur dari rumah bersama pacarnya yang juga seorganisasi dengannya, yang membuat setiap orang tua yang mendengarnya tentu miris dan hanya bisa menelan ludah sambil mengucap dalam hati kalimat “Naudsubillahi min dsalik”. Aku menutup perjuanganku itu dengan menghela nafas sambil menutup mata.
Ada sebuah sms yang masuh di hapeku pagi ini. Dari seorang teman organisasi yang mengingatkan kalau kami harus berada di lokasi kegiatan 30 menit sebelum kegiatannya di mulai mengingat kami harus bertindak professional sebagai panitia. Ku intip ruang tamu tempat ayah dan ibu ku menikmati pagi ini dengan minum teh hangat dan kue. Abangku masih tidur, pasti. Aku sudah mengeceknya tadi sebelum aku berpakaian rapi begini.
Jika ku coba kembali minta izin, bukan lagi tauziah yang ku dapat tapi malah mungkin saya akan di remas-remas ibuku. Pagi-pagi sudah buat orang tua geram dengan keinginanku yang terlalu banyak. Ah, dari pada begini mending aku kabur saja. ku buka jendela kamarku kemudian melompat keluar sambil berjinjit melewati pekarangan belakang rumahku dengan tangan kiri menenteng tas dan tangan kanan menenteng sepatu. Kenapa mesti lewat belakang? Karena ruang tamuku berada di depan. Kalau aku lewat depan 98% akan ketahuan kecuali mata ibu dan ayahku sudah juling maka mungkin aku bisa terbebas. “Astaghfirullah, dosa kamu ta”. Pekikku sendiri. Tidak hanya alasan itu, tapi karena pagar depan rumahku terlalu tinggi. Bukan hal yang aneh lagi jika pemilik rumah juga pernah terjatuh karena pagar itu terlalu tinggi. Salah satunya aku yang pernah jatuh karena ingin meraih buah mangga yang tingginya bisa kita raih jika berdiri di atas pagar itu. Kalau aku melewati pagar itu, kemungkinan aku akan kedapatan duluan sebelum berangkat. Alasan lain kenapa mesti lewat belakang karena di belakang sudah menunggu becak langgananku. Mas Apoi yang katanya jatuh cinta sama aku ini mau saja ku peralat untuk membantuku kabur dari rumah. Aku berhasil menyeberangi pagar rumah yang pendek itu. Mas Apoi sudah siap dengan rambut yang sepertinya telah ia sisir rapi dengan minyak rambut tokeknya yang ampun baunya menyengat kayak tawon. Fiuuhh…!!!
 “Ok bang, jalan” kataku pada Mas Apoi.
Tapi Mas Apoi masih juga tak menjalankan becaknya.
“Ada apa sih bang? Ayo jalan dah telat saya ini?”
“jadi begini cara kamu melawan orang tua hah?”
Aku menengok pelan dari arah suara dan ternyata…
Plaaakkkkk… sebuah tamparan panas mendarat di wajahku…!!!
Ternyata itu ayah.. Huhuu…!!! >.<
Aku cepat-cepat turun dari becak.
“Maafin Dita, Pak. Dita  Cuma pengen….”
“Kamu mau jadi anak yang berhasil tanpa restu orang tua juga kamu gak akan bisa. Kamu hanya akan jadi anak yang durhaka. Ngerti kamu?” gertak ayahku. Aku benar-benar melihat wajah marahnya itu. Nafasnya naik turun menahan amarahnya padaku.
Aku hanya bisa menangis sebelum aku memiliki kekuatan yang entah dari mana aku menentang ayah dengan lantang.
“Apa sih Yah, salahnya berorganisasi? Dita juga mau pintar yah, pengen kayak anak-anak lain yang punya banyak teman, kegiatan yang bermanfaat, bebas ngelakuin apa yang mereka mau.. dita juga mau punya masa remaja yang indah yah..” aku menangis tersedu-sedu di depan ayah. Aku benar-benar meluapkan perasaanku.
“Oke kalau itu mau kamu. Mulai hari ini jalani kehidupan yang kamu mau jalani. Jangan lagi pernah meminta pendapat ayah, jangan lagi bertanya pada ayah, jangan lagi meminta izin pada ayah, pokoknya lakukan saja apa yang kamu mau lakukan. Ayah capek dengan kamu. Kamu anak yang durhakaaa….!!!!”
Ttttoookkkk…!!!
“ahh, sakkiiitttt”
“ngapainnn?? Mikiirin pacarmu?”
“astaaggaa,,,abang..aku gak punya pacar bang… tadi aku Cuma mikirin sesuatu ajha.. Hmm”
“apaan emang?”
“Hehee,,kagak bang..kagak ada?”
Aku bercerita panjang lebar dengan abangku malam ini. Oia, yang kejadian pertengkaran di atas tadi itu Cuma pikiranku saja. bagaimana jika aku membangkang, kabur, dan melawan? Jelek khan hasilnya? Makanya aku menolak melakukannya meskipun aku harus kehilangan kesempatan untuk organisasiku. hehehe



Jumat, 15 Juni 2012

Shay (Kisah Kemanusiaan)

di Juni 15, 2012 0 komentar
Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku?

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu. Ayah tersebut melanjutkan: “Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia”

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,”Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?” Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, “kami telah kalah 6 putaran dan sekarang sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg seperti ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay. Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset, Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tersebut kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher.

Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke basement pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir. Sebaliknya, pitcher tersebut melempar bola melewati basement pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, “Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!”. Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.

Semua orang berteriak, “Lari ke base dua, lari ke base dua!” Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.

Semua yang hadir berteriak, “Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay” Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, “Shay, larilah ke home, lari ke home!”. Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia. Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Sebuah pepatah bijak yang mungkin seringkali kita dengar: sekelompok masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.

Minggu, 15 Januari 2012

Nafas Terakhir

di Januari 15, 2012 0 komentar
Senja itu matahari begitu enggan memperlihatkan cahayanya. Awan-awan berkejaran seakan ingin mengarak prosesi pekuburan jenazahku. Perlahan-perlahan tubuhku mulai di masukkan ke dalam liang lahat. Sanak family yang datang tertunduk haru bahkan ada yang tertahankan tangisnya. Rasa tak tega melihat jenazahku terbujur kaku didalam kubur
Inilah hari perpisahan yang paling getir dan menyesakkan dada. Setelah jenazahku di letakkan di dalam lubang dan tali pengikat kain kafan di lepaskan. Para penggali kubur menutupinya dengan kayu yang telah di siapkan. Dan lahat pun di jejal tanah dengan rapatnya

Inilah akhir episode kehidupankku di dunia ini
Dan mulai memasuki kehidupan yang baru di alam kubur

Mulai saat… ini aku hanyalah seseorang yang  namanya yang tertulis di Batu Nisan
Mulai saat ini… aku hanyalah seonggok bangkai yang menjijikkan
Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung
Di susul kemudian, rambut, kuku, tapak kaki,, dan tangan akan terlepas
Kulit dan jaringan tubuh akan tercerai berai
Pandangan yang sangat mengerikan ketika perut tiba-tiba pecah
Menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan
Bakteri dan serangga.. berkembang biak, menggerogoti tubuh
Hingga perlahan-lahan menghancurkannya dan menyisakan tulang-belulang
Aku mengalami akhir yang mengerikan.
Tak ada lagi kenangan akan hari-hari indah ketika di dunia
Aku sibuk meniti karir, sejak pagi hingga malam ku habiskan waktu untuk mengurus perusahaan
Mengecek pembukuan, mengikat kontrak baru, dan memperhatikan karyawan
Agenda yang padat, tidak memberiku ruang dalam memoriku tentang kematian
Aku berambisi setinggi langit menuju puncak kesuksesan
Tiba-tiba aku di kejutkan dengan Kematian, saat aku mengalami kecelakaan

Ya Allah, sesingkat itukah kehidupan dunia?
Padahal baru saja memiliki RUMAH IMPIAN yang belum lama aku tinggali
Namun kini aku menjadi penghuni PUSARA
Ruang tidur yang EMPUK DAN NYAMAN
Kini berbantalkan tanah berselimut KAFAN
Di halaman belakang rumahku tempatku melepas lelah..
Dan kini beristirahat dalam kubangan lumpur dan timbunan tanah
Istriku, begitu terpukul dan snagat sedih menangisi KEMATIANKU
Namun kini ia sudah bahagia, MENIKAH lagi dengan lelaki lain
Sedangkan aku, berbaring sendiri di cekam kesunyian
Tawa riang anakku, begitu bahagia saat menyambut kedatanganku
Kini berganti nyanyian sepi dan nestapa
Saham-saham, dan uang-uangku di beberapa perusahaan telah mereka ambil dan mereka bagi-bagi
Sedangkan yang ku bawa hanya sehelai kafan yang lusuh
Ya Allah, aku benar-benar kehilangan
Kehilangan waktu yang ku habiskan dengan sia-sia
Kehilangan kesempatan.. untuk bersujud di hadapanMu…
Kehilangan ladang.. untuk menanam pohon-pohon Amal Baikku…
Kehilangan seluruh harta yang dengan jerih payah telah aku kumpulkan..
Dan hanya sekeping rupiah yang ku sisihkan untuk bekal akhiratku…
Dan kehilangan orag-orang yang dulu mencintaiku…
Ya Allah, di pintu kkubur ini aku menunggu…
Menunggu doa-doa dari anak-anak yang telah aku besarkan
Tapi, mungkinkah mereka bias memeohonkan maaf atas satu saja dosa, yang pernah kku lakukan???
Bukankah aku.. telah teledor mendidiknya???
Kubiarkan mereka bebeas bergaul, sehingga menjadi anak yang hilang arah hidupnya
Lagu-lagu lebih mereka hapal, daripada SEBAIT “DO’A KESELAMATAN” untukku
Berlinang air mata tapi bukan menangisiku. Hanya karena film-film yang mereka tonton.
Terbangun di penghujung malam, tapi bukan untuk mendo’akanku melainkan duduk dan menonton bola.
Aku memang tak pernah mengajarkan mereka sepotong do’a. aku memang tak pernah mengenalkan mereka satu ayatpun dari Kitab suci-Mu. Dan aku tak pernah mengajarkan mereka, Sholat, Shaum dan Ibadah-ibadah yang lainnya.
Ya Allah sungguh aku termasuk orang-orang yang merugi.

PESAN PENTING:

Sesungguhnya manusia telah memilih bagaimana akhir hidupnya. Dan pilihan itu ada pada Bagaimana ia menjalani kehidupannya. Sebagaimana ia menjalani kehidupannya, seperti itulah kemungkinan besar ia akan mengakhiri kehidupannya. Karena sesungguhnya dengan menjalani kehidupan, berarti kita sedang berjalan menuju Kematian kita.

"Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu lari padanya, ia pasti menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. AL-Jumu’ah;8)

Rabu, 14 September 2011

Lilin Seorang Guru

di September 14, 2011 0 komentar
Album : Impian Kasih
Munsyid : In-Team
http://liriknasyid.com


Pernah langkah ku payah
Menuju ke destinasi
Kerana malam gelap
Dan bintang hilang kerdipnya
Menjadikan arah ku keliru
Ke timur atau ke barat

Bagai lilin membakar diri
Menerangi kegelapan hati
Kau curahkan bakti dan budi
Jasamu tiada berganti

Namun tanpa rasa payah
Dia memimpin tanganku
Melangkah satu persatu
Dan mencipta jejak impian
Menjadikan arahku jelas
Aku harus ke hadapan

Ohoo… aku kini rindu
Pada satu nama yang berjasa
Tuhan, beri kekuatan
Untuk mendidikku selamanya
Ku pohon restu kasih-Mu
Ampunkanlah guru-guruku

Semalam ku lihat dia
Di bibirnya ada kalimah
Yang bergetar saban waktu
Sambil tangan menggenggam lilin
Lilin yang tiada terpadam
Menerangi hidupku kini

Lagu & Lirik : Cikgu Khairul, Mie.. inteam & Munif Ahmad (Hijjaz)
Hijjaz Music Entertainment (M) Sdn. Bhd.

sumber:http://www.liriknasyid.com/index.php/lirik/detail/360/in-team-lilin-seorang-guru.html

...Berhentilah Menangis...

di September 14, 2011 0 komentar
ada ada saja yang membuat hati ini mengeram karena jengkel.. ntah karena apa pula sampai-sampai setiap kejengkelan itu membuat air mata mengalir juga sejadi-jadinya.
tapi malam tadi,inilah pertama kalinya air mata mengalir sangat deras tanpa henti,terisak dengan sesenggukan berlebihan,kepala puyeng,hidung bengek,mata bengkak..tangisan yang menguras hati sekali selama berjam-jam di kamar pondokan dikarenakan sedih yang teramat sangat..

kesalahan yang memang ku perbuat di luar kesadaranku..!!!
Tahukah kau wahai angin..kini ku hanya sendiri di pohon itu.. semua daun yang menemaniku selama 3 tahun lebih di sekolah itu kini benar-benar hilang.. terbang bersama angin, menghilang bersamanya dentingan jam.. kini ku benar-benar sendiri...

ditengah kesndirianku itu ada sebuah nama yang datang dengan sejuta penyemangatnya untukku.entah kenapa ia mampu membuatku tertawa terpingkal-pingkal setelah sedari tadi hanya mempu mengarung sedih karena ditinggal sahabat..

 "ingat fa, Allah itu Maha Adil.. ketika Dia menghilangkan 1 hal dari hidupmu maka akan datang hal yang baru yang jauh lebih baik"...
begitu katanya padaku..awalnya aku tak peduli tapi lama tersadar juga aku.. mengapa ku sesedih ini?? apa karena aku sangat mencintai sahabat-sahabatku yang kini membenciku??? lalu,bagaimana dengan Nabi Ayyub as yang kehilangan segala yang ia punya namun tetap istiqomah padaNya.. sungguh malu rasanya diri ini.. astaghfirullahal adsim yang Allaahhh... V_V




Jumat, 02 September 2011

Senyum Malu

di September 02, 2011 0 komentar
Entah apa yang ingin ku tulis dalam catatan ini.tapi,ada yang terisi di otakku tapi ntahlah knapa tiba-tiba hilang ketika ku melihat judulnya...



senyum yang senantiasa ada itu ku tahu adalah senyum malu penuh makna.hanya saja masing-masing pribadi jika bertemu akan semakin menyimpan dalam perasaanya.

knapa tak di ungkapkan saja?

ku tahu kita memiliki perassaan yang sama.



ingin juga ku tertawa ketika bertemu kau hampir saja tersenyum sempurna...

tapi saya lebih malu jika bertemu,karena saya hanya mampu mengungkapkan rasa bangga ku memilikimu didunia khayal saja..

dan ketika bertemu,ahh benar-benar bungkam saja mulutku karena malu..ckckckck..

semoga ukhuwah kita akan selamanya terjalin saudaraku..

kau berjasa buatku..!!mengantarkanku menemui Jalan Rabb'ku yang sebenar-benarnya jalan..

sebenar-benarnya usaha menggapai RidhoNya..

tetap ingatkan saya saudaraku...

walaupun saya belum mampu mengingatkanmu "jika terlalu dekat dan terlalu jauh"

karena saya benar-benar tidak mengerti maksudnya..hehehe



Allah juga pasti lebih tahu tentang perasaan kita..!!!2 hati yang sama2 saling menyayangi di jalanNYA...

saya hanya malu jika berkata saya menyayangimu didepan mu secara langsung...

Karena saya tidak seberani para pemabuk cinta yang mengungkapkan perasaannya pada orang yang disayangnya didepannya secara langsung..

Saya juga buka pujangga yang mampu merangkai kata2 indah untukmu...

Saya hanya seorang Gadis yang ingin belajar menjadi penulis agar kelak saya mampu menuliskan perasaan-perasaanku di atas kertas putih yang kemilau..

tak cukup dng pena,kawan..!!!saya ingin benar-benar melukis pelangi denganmu agar kelak kita akan bersama didunia dan akherat..



Terlebih lagi saya ingin bersamamu, berjalan beriringan denganmu,

Menyampaikan dakwah2 Islam..

Hingga kita mampu meraih gelar Jihad Fi Shabilillah..Amin amin amin..



Maaf jika saya terlalu berlebihan,

tapi rasanya kau selalu memintaku untuk tetap berpikiran positive..!!!Tetaplah tumbuh subur wahai Pohon Keindahan..:)

*(terinspirasi dari seorang kawan)

REMBULAN DI MATA IBU -Asma Nadia-

di September 02, 2011 0 komentar
Bismillahirrahmanirrahim ...

REMBULAN DI MATA IBU

By :: -Asma Nadia-





Kupandangi telegram yang barusan kubaca.

Batinku galau

Ibu sakit Diah, pulanglah!

Begitu satu-satunya kalimat yang tertera di sana. Mbak Sri mnyuruhku

pulang? Tapi … benarkah Ibu sakit?

Bayangan Ibu, dengan penampilannya yang tegar berkelebat. Rasanya baru

kemarin aku masih melihatnya berjalan memberi makan ternak-ternak kami sendirian.

Melalui padang rumput yang luas. Berputar-putar di sana berjam-jam. Mnegawasi

rumah kecil kami yang hanya berupa noktah dari balik bukit.

Tidak. Ibu bahkan tak pernah kelihatan lelah di malam hari. Saat semua

aktivitas seharian yang menguras kekuatan fisiknya berlalu. Ibu selalu kelihatan

sangat kuat.

Tak hanya kauta, dari mulutnya pun masih kerap terdengar ungkapanungkapan

pedas, khususnya yang ditujukan kepadaku.

“Jadi perempuan jangan terlalu sering melamun Diah! BEkerja, itu akan

membuat tubuhmu kuat!”

Komentarnya suatu hari padaku. Padahal, saat itu aku sama sekali tidak

menganggur. Sebuah buku berada di pangkuanku. Tapi, Ibu tak pernah menghargai

kesukaanku membaca. Di mata beliau, itu hanyalah kegiatan tak berguna yang tak

menghasilkan.

Di waktu yang lain Ibu mengecam kebiasaanku rapat dengan para pemuda

desa. Ibu sama sekali tak mau mengerti kalau rapat-rapat yang kulakukan bukan tanpa

tujuan. Kalau kami, anak-anak muda yang berkumpul di sana sedang mencoba

menyumbangkan pemikiran untuk kemajuan desa. Bagi wanita sederhana itu,

mengahalau ternak lebih berguna daripada bicara panjang lebar, dan adu pendapat.

“Kau pikir bicara bisa membuatmu mendapatkan uang?”

Ingin sekali saat itu aku mengangguk dan menantang matanya yang sinis. Tak

tahukah Ibu, di kota sana, banyak sekali pekerjaan yang mementingkan kemampuan

bicara. Seharusnya, Ibu melihat kegiatan pemilihan lurah di desa, dan tak hanya

berkutat dengan ternak-ternaknya di padang rumput.

Pak Kades trak kan terpilih kalau dia tak punya kemampuan bicara Bu,

kemampuan meyakinkan dan menenangkan rakyatnya!

Akan tetapi, kalimat itu hanya kutelan dalam hati. Tak satu pun ku muntahkan

di hadapannya.

Caraku berpakaian pun tak pernah benar di matanya. Ada saja yang salah.

Yang tak rapilah, kelihatan kelaki-lakianlah, dan segalanya.

Sebetulnya aku heran, kenapa tiga mbakku yang semua perempuan itu bisa

melalui hari dengan keterpasungan pemahaman Ibu. Mereka bisa sekolah, paling tidak

sampai es em pe dan es em a tanpa banyak bertengkar dengan Ibu. Lulus sekolah,

menikah dan punya anak … dan sekali lagi, tanpa mengalami pertentangan dengan

Ibu. Sedangkan aku?

Rasanya tak ada satu hal pun yang pernah kulakukan yang dianggapnya benar.

Selalu saja ada yang kurang.

Dahulu sekali aku pernah mencoba menyenangkan hati wanita itu. Kucoba

memasakkan sesuatu untukknya. Meski semua saudaraku tahu aku benci kegaiatan

daour itu. Hasilnya? Aku menyesal telah mencoba karea Ibu sama sekali tak

menghargai usahaku.

“Beginilah jadinya kalau anak perempuan cuma bisa belajar dan belajar. Tak

tahu bagaimana memasak! Siapa yang mau menikahimu nanti kalau begini Diah?”

Dan saat itu aku makin tersungkur dalam ketidakberdayaanku mengahadapi

Ibu. Perlahan aku malah berhenti berusaha menenangkan hatinya.

Aku capek.

Maka saat ada kesempatan pergi meninggalkan rumah, dan meneruskan

pendidikan ke bangku kuliah, dengan peluang bea siswa, kugempur habis

kemampuanku, agar kesempatan itu tak lepas dari tangan.

Aku harus pergi, menjauh dari Ibu, dari komentar-komentarnya yang

menyakitkan.

Masih terngiang di telingku suaranya yang bernada mengejek waktu melihat

aku mempersiapkan diri mengahadapi tes bea siswa itu.

“Kau tak kan berhasil Diah! Tak usah capek-capek! Wanita akan kembali ke

dapur, apa pun kedudukannya!”

Tak kuhiraukan kalimat Ibu. Seperti biasa aku selalu berusaha menahan diri.

Setidaknya hingga saat itu. Kala pertahanan diriku roboh ke tanah. Dan untuk pertama

kali aku berani menantang matanya yang selalu bersinar sinis, dan kurasakan tanpa

kasih.

Saat itu aku merasa begitu yakin. Wanita tua yang kupangil Ibu selama ini tak

pernah dengar dan tak akan pernah mencintai diriku!

∞ mom’s™ ∞

“Diah … kok melamun?”

Aku mengusap air mata yang menitik. Laili yang menangkap kesedihanku

menatapku lekat. Ada nuansa khawatir pada nada suaranya kemudian.

“Ada apa? Tulisanmu ada yang ditolak? Mana mungkin!” ujarnya mencoba

melucu.

Aku tertawa pelan, mencoba mengurangi beban di hatiku. Kubalas tatapan

matanya. Wajah tulus sahabat baikku itu memancar di balik kerudung coklat yang

dikenakannya.

Aku berdehem berat. “Li … percayakah kamu kalau aku bilang, ada Ibu yang

tak pernah mencintai anaknya?”

Laili menatapku bingung. Pertanyaan ini mungkin aneh di telinganya. Apa lagi

aku tahu keluarganya adalah keluarga terhangat yang pernah kutemukan. Ibu Laili tak

hanya bijaksana, tapi juga, tapi juga selalu melimpahinya dengan banyak kasih dan

perhatian. Jauh sekali bila dibandingkan Ibu!

“Aku rasa, mencintai adalah naluri yang muncul otomatis saat seorang

menjadi Ibu, Diah! Itu karunia Allah yang diberikan pada setiap Ibu. Rasa kasih,

mengayomi, dan melindungi!” jawab Laili hati-hati.

Aku mengalihkan pandangan dari matanya. Kami sudah tinggal satu kos

selama hampir lima tahun. Kupercayakan seluruh kegembiraan dan saat-saat sulitku

padanya. Tapi, tak pernah sekalipun aku bercerita tentang Ibu, dan ketidakadilan yang

diberikan wanita itu padaku.

Sekali lagi air mataku menitik. Ingat, selama kurun lima tahun ini, aku tak

pernah menjenguk Ibu. Ya, tidak sekali pun! Meski batinku terasa kering.

Bagaimanapun sebagai anak, aku punya kasih yang ingin bisa kupersembahkan pada

wanita yang telah melahirkanku.

Sayangnya, tak pernah ada kesempatan bagiku untuk mewujudkan itu. Ibu tak

pernah menangkap sinar kasih di mataku, apalagi membalasnya dengan pelukan

hangat. Ibu tak pernah peduli!

Bagaimana aku tidak mulai membencinya secara perlahan? Mungkin tidak

dalam artian kata benci yang sesungguhnya. Terus terang, aku mulai menghapus

namanya dalam kehidupanku. Dalam tahun-tahun yang telah kulalui aku hanya

mengirim surat dan foto pada semua kakak dan keponakanku. Tak satu pun

kualamatkan untuk Ibu. Kalaupun secara rutin kusisihkan uang honor menulisku

untuk Ibu, itu pun tak pernah kukirimkan langsung. Selalu lewat salah satu kakakku.

Paling sering lewat Mbak Sri.

Aku belajar menyingkirkan kebutuhanku akan kasih sayang dan sikap keibuan

darinya. Aku belajar melupakan ... Ibu!

“Diah ... kenapa kamu menanyakan itu?” suara Laili kembali terdengar.

Batinku makin kisruh.

Apa pendapatnya kalau tahu, teman baiknya, selama ini telah melupakan

Ibunya? Padahal dalam Islam tertera jelas keutamaan untuk berbakti dan menghormati

Ibu. Selama ini aku selalu berdalih di hadapan-Nya dalam shalat-shalat yang kulalui.

Bukan aku tak mencintainya. Tapi ... sepertinya itu kehendak Ibu sendiri untuk

dilupakan!

“Ibuku sakit Li! Apa yang harus kulakukan?” tanyaku akhirnya tanpa daya.

Laili tersenyum. Tangannya kembali menggenggam jemariku.

“Itu aja kok, bingung! Barangkali dia kangen padamu. Tengoklah Ibu, Di! Eh,

kapan terakhir kali kalian bertemu?”

Teman baikku itu seperti teringat saat-saat libur kuliah yang tak pernah

kumanfaatkan untuk pulang kampung, sebaliknya malah berkunjung ke tempatnya

atau menghabiskan waktu di kos, merentang hari.

“Aku tak pernah pulang, Laili. Sudah lima tahun!”

Jawabanku membuat Laili tersedak. Pantas saja gadis itu kaget. Lima tahun

bukan waktu yang singkat.

“Kamu haru pulang secepatnya, Di! Biar aku yang memesankan tiket kereta.

Jangan lupa bawa oleh-oleh untuk Ibumu. Hm ... apa ya, kesukaan beliau?”

Tiba-tiba Laili dilanda kesibukan luar biasa. Seakan membayangkan

mengunjungi Ibunya sendiri, yang tak pernah ditemuinya selama lima tahun!

“Tak perlu repot-repot Laili! Biar kuurus sendiri!” tolakku halus, tetapi Laili

tetap bersikeras.

“Hey ... jangan gitu dong, Di! Selama ini kamuselalu repot-repot saat

mengunjungi kami. Jadi ... biarkan aku yang mengurus perjalananmu kali ini. Lagi

pula, kamu masih harus mempersiapkan presentasi skripsimu, kan?”

Aku menyerah.

Sebelum Laili pergi, aku menatapnya sekali lagi, “Kamu yakin aku harus

pulang, Li?”

Pertanyaanku hanya disambut senyum hangatnya.

“Tentu, pulanglah, Ibu pasti kangen kamu Diah!”

Ahh ... andai Laili tahu, perempuan macam apa Ibuku itu! Beliau lebih keras

dari karang Laili, karang masih bisa terkikis air laut, tetapi Ibuku?

∞ mom’s™ ∞

Rumah mungil kami tak banyak berubah. Juga rumah petak kecil-kecil lain di

sampingnya. Di mana ketiga mbakku dan keluarganya tinggal.

Saat masuk ke dalam, kulihat ruangan tampak tidak serapi biasanya.

Barangkali kehilangan sentuhan tangan Ibu. Mbak Sri bilang, setahun belakangan ini

Ibu beberapa kali jatuh sakit. Akan tetapi, beliau tak pernah mengizinkan mereka

mengabarkannya kepadaku.

Karena Ibu tak butuh kehadiranku, bisikku dalam hati.

Mbak Ningsih yang melihat kecanggunganku menjelaskan. Di pangkuannya

duduk dua bocah cilik bergelayut manja.

“Ibu tak ingin mengganggu kuliahmu, Diah!”

Aku tersenyum sinis mendengar perkataan kakak tertuaku itu. Sejak kapan Ibu

memikirkan kuliahku? Bukankah baginya anak perempuan cuma akan ke dapur?

Mbak Rahayu yang lebih banyak diam pun ikut menembahkan, “Ibu sering

bertanya pada kami Diah, berkali-kali malah. Sudah tahun ke berapa kuliahmu?

Berapa lama lagi selesai.”

“ Sebetulnya Ibu sangat kangen padamu Diah, tapi Ibu lebih mementingkan

kuliahmu.” Mbak Sri menambahkan di tengah aktivitas menyusui anaknya.

Tapi, aku tak merasa perlu diyakinkan. Aku kenal Ibu. Dan selama jadi

anaknya, tak pernah Ibu bersikap kasih padaku. Tidak sekali pun. Perkataan kakakkakakku

barusan semata-mata untuk menyenangkan hatiku. Agar aku tak merasa siasia

datang ke sini. Mereka pasti belum lupa kejadian lima tahun yang lalu,

pertengkaran hebatku dengan Ibu. Pertengkaran yang makin memantapkan hatiku

untuk pergi.

Malam itu Ibu berkali-kali menumpahkan kalimat-kalimat pedasnya padaku.

Tujuannya satu, agar aku tak pergi

Bagiku, sikap Ibu saat itu sangat egois dan kekanak-kanakan. Sementara orang

lain akan menyambut gembira berita keberhasilan anaknya meraih bea siswa macam

ini, beliau sebaliknya. Tak tahukah Ibu, kalau aku harus menyingkirkan ribuan orang

untuk meraih prestasi ini?

Kucoba menulikan telinga, tetapi kalimat-kalimat pedasnya tak berangsur

surut. Malah bertambah keras.

“Pergi ke kota bagi perempuan macam kau Diah hanya akan menjadi santapan

laki-laki! Tak ada tempat aman kecuali di kampung sendiri. Ibu tak ingin kau

membuat malu keluarga. Pulang dengan membawa aib!”

Astagfirullah ... Ibu kira perempuan macam apa aku? Mulutku sudah setengah

terbuka siap membantahnya, tetapi ketiga saudaraku mencegahku. Melihat sikapku

yang menantang, kemarahan Ibu makin tak terbendung.

“ Jangan coba membantah! Kurang baik dan terpelajar apa si Retno? Lalu

Sumirah? Bahkan anak pak Haji Tarjo? Pulang-pulang malah jadi perempuan jalang!

Aku tak ingin punya anak jalang!”

Cukup! Aku tak bisa menahan kesabaranku lebih lama. Darahku seperti

mendidih mendengar kalimat-kalimat Ibu. Kalau saja Ibu cukup mengenalku, kalau

saja Ibu punya sedikit kepercayaan pada anaknya sendiri? Ibu cuma percaya pada

dirinya sendiri. Seakan semua orang akam mengalami nasib buruk.

Saat ditinggal Bapak! Ya, Bapak memang meninggalkan kami. Janjinya

bahwa lelaki itu akan kembali dari kota dengan membawa perubahan pada nasib

kami, cuma omong kosong. Di sana Bapak justru menikah lagi. Dan Ibu yang

menganggap dirinya sempurna sebagai wanita, merasa sakit hati. Setelah itu semua

yang berbau pembaruan dan kemajuan dimusuhinya habis-habisan. Termasuk niatku

ke kota untuk mencari ilmu.

Kutatap mata Ibu dengan sikap menantang. Suaraku bergetar saat berkata-kata

padanya.

“Seharusnya Ibu bangga padaku! Seharusnya Ibu menyemangati, bukan malah

terus-terusan mengejekku, Bu! Sekarang Diah tahu kenapa Bapak meninggalkan Ibu!’

kataku berani.

Di depanku, Ibu mentap mataku tajam. Matanya diliputi kemarahan atas

kelancanganku.

“Kenapa Bapak meninggalkan Ibumu? Ayo jawab, kenapa?!!!”

Sia-sia usaha mbak-mbakku yang lain untuk mengerem mulutku. Dalam

kelarahan, kulontarkan luka yang mungkin akan melekat selamanya di hati Ibu.

“Karena Ibu picik! Itu sebabnya!”

Kubanting pintu kamarku dan mengurung diri semalaman. Menangis. Batinku

puas, telah kukatakan apa yang menurtku harus didengar Ibu.

Besoknya, pagi-pagi sekali, hanya berpamitan pada mbak-mbakku, aku pergi,

dengan bongkahan luka di hatiku. Barangkali juga di hati Ibu. Tapi, aku tak peduli.

Saat aku mengenal Laili dan teman-teman Muslimah lain. Baru kusesali

sikapku. Seharusnya aku tak bersikap sekasar itu pada Ibu. Tak membalas

kekasarannya dengan tindakan serupa.

Meski begitu, penyesalanku tak bisa mengubah perasaan yang kadung hampa

terhadap Ibu. Aku masih tak menyukai wanita yang melahirkanku itu. Seperti juga

beliau tak menyukaiku.

∞ mom’s™ ∞

“Diah ... Ibu sudah bangun.”

Mbak Sri menyentuh tanganku. Mengembalikanku dari kenangan masa lalu.

Kubuka pintu kamar Ibu. Suara derit engsel yang berkarat terdengar. Kulihat

Ibu terbaring lemah di dipan. Keperkasaanya selama ini, kulihat nyaris tak tersisa.

Tangan kurusnya mengajakku mendekat.

Di bawah cahaya lampu teplok, kurayapi wajahnya yang penuih guratanguratan

usia. Ibu tampak begitu tua.

“Apa kabarmu Diah?” suaranya nyaris berupa bisikan.

“ Baik, Bu.” Kusadari suaraku terdengar begitu datar. Barangkali mewakili

kehampaan perasaanku.

Ibu tak memandang kaget penampilanku, yang pasti merupakan pemandangan

baru baginya. Atau Ibu terlalu sakit untuk mencela busana Muslimah yang

kukenakan? Sekali lagi hatiku berkomentar sinis, tanpa bisa dicegah.

“Kamu kelihatan kurusan Nduk!” ujar Ibu setelah beberapa saat kami terdiam.

Aku tak menanggapi. Sebaliknya, mataku mengitari ruangan kecil itu.

Semuanya hampir tak berubah. Kenapa Ibu bertahan dalam kesederhaan ini?

Bukankah seharusnya dengan ternak-ternak itu Ibu mampu hidup lebih layak? Belum

lagi ketiga mbakku, mustahil mereka tidak memberikan tambahan masukan, biar pun

sedikit, untuk Ibu.

Aku memperhatikan ranjang Ibu. Kasur tipis di atas dipan yang pasti tak

nyaman untuknya. Cahaya penerangan pun tidak memadai. Padahal, di rumah ketiga

saudaraku perempuanku sudah diterangi cahaya listrik. Lalu ... uang kirimanku yang

rutin meski tak seberapa mestinya cukup meringankan Ibu. Tapi kenapa?

Kulihat meja jati tua di samping Ibu. Ada beberapa botol obat di sana. Kertaskertas

dan beberapa foto yamg dibingkai. Kudekatkan tubuhku untuk melihat lebih

jelas. Mendadak mataku nanar ... masya Allah! Aku tak sanggup berkata-kata. Segera

kutahan diriku sebisanya untuk tak menangis.

Ibu yang menyadari arah pandanganku menjelaskan, “Jangan salahkan

mbakmu Diah. Foto-foto itu Ibu yang maksa minta. Kadang Ibu pandangi, jika Ibu

kangen kamu. Lihat, itu pasti kamu waktu masih tingkat satu, ya? Belum pakai jilbab!

Yang lainnya sudah rapih berjilbab.”

Kulihat Ibu tersenyum. Di matanya ada kerinduan yang mendalam. Batinku

kembali terguncang. Ibu kangen kangen padaku? Betulkah? Apa yang membuat Ibu

begitu berubah? Usia tuanyakah? Waktu lima tahunkah? Hatiku terus bertanya-tanya.

Ke mana larinya sikap keras dan ketus Ibu?

“ Tolong Ibu, Nduk, Ibu ingin duduk di beranda,” pintanya sekonyongkonyong.

Kupapah tubuh ringkihnya keluar. Di atas sana langit mulai gelap. Beberapa

bintang meramaikan rembulan yang mulai muncul. Langit jingga tampak berbias

indah menyambut malam.

Bersisian kami duduk di beranda. Beberapa waktu berlalu dalam keheningan.

Tanpa kata-kata, tetapi bisa kulihat wajah Ibu tampak cerah menatap langit yang

dihias purnama. Lalu ...

“Ning ... Ningsih ...” tergopoh-gopoh mbakku muncul mendengar panggilan

Ibu.

“Dalem Bu ...”

“Tolong ambilkan kotak kayu Ibu di bawah tempat tidur, ya ...”

Tak lama Mbak Ning sudah muncul lagi. Sebuah kotak kayu yang terlihat

amat tua diserahkannya kepada Ibu.

“ Bukalah Diah, itu untukmu. Ibu selalu takut tak sempat memberikannya

langsung kepadamu. Ibu sudah tua Diah,” suara Ibu. Matanya masih menatap langit.

Meski tak mengerti, kuturuti permintaan orang tua itu. Dan tanpa bisa

kucegah, kedua mataku terbelalak melihat isinya. Uang! Di mana-mana uang! Begitu

banyakl, dari mana Ibu mendapatkannya?

Ibu terkekeh sendiri melihat keterkejutanku. Beberapa giginya yang sudah

ompong terlihat.

“Itu untukmu Diah ...”

Aku menutup kembali kotak kayu itu, kuserahkan kepada Ibu.

“Diah ndak butuh uang Ibu. Beberapa tahun ini sudah ada kerja sambilan. Jaga

toko sambil nulis-nulis,” ujarku berusaha menolak.

“Ibu tahu ... Ibu baca surat yang kau kirimkan pada mbak-mbakmu ... tapi itu

uangmu. Kau membutuhkannya. Mungkin tak lama lagi.” Suara Ibu memaksa.

Ahh ... wisudaku ... itukah yang Ibu pikirkan?

“Wisuda tak perlu biaya sebanyak ini, Bu ...” tolakku lagi.

“ Tapi kau harus menerimaya Diah, itu uangmu. Uang yang kau kirimkan

selama ini untuk Ibu lewat mbakmu. Sebagian ada juga hakmu dari penjualan ternak,”

jelas wanita itu lagi.

Aku melongo. Teringat dipan tua yang kasurnya tipis, lampu teplok, kursi di

ruang tamu yang sudah jelek dan bufet yang kusam. Bukankah dengan uang itu Ibu

bisa hidup lebih layak?

“Kenapa tak Ibu pakai untuk keperluan Ibu?” tanyaku heran.

Ibu hanya tersenyum. Matanya mencari-cari rembulan yang setengah tertutup

awan.

“Ibu tak butuh uang sebanyak itu, Diah! Lagi pula ... Ibu khawatirtak bisa lagi

memberimu uang.”

“Diah kan sudah jelaskan ke Ibu, Diah sudah bisa mencari uang sendiri meski

sedikit-sedikit. Ibu tak perlu repot memikirkan aku,” ujarku keras kepala.

Tapi, lagi-lagi Ibu memaksaku.

“ Kau akan membutuhkannya Diah, untuk pernikahanmu nanti. Semua

mbakmu hidup sederhana. Anak mereka banyak, mungkin tak kan banyak bisa

membantumu jika hari itu tiba!”

Deg! Hatiku berdetak. Untuk pernikahanku? Sejauh itukah Ibu

memikirkanku?

Kata-kata Ibu berikutnya bagai telaga sejuk mengaliri relung-relung hatiku.

“Maafkan Ibu jika selama ini keras padamu Diah! Kau benar ... Ibu memang

picik! Itu karena Ibu tak ingin kau terluka. Ibu tak ingin kau kecewa. Itu sebabnya Ibu

tak pernah memujimu. Kau harus punya hati sekeras baja untuk menapaki hidup. Ibu

ingin anak bungsu Ibu mnjadi sosok yang berbeda. Seperti rembulan merah jambu,

bukan kuning keemasan seperti yang kita lihat.”

Ibu menunjuk purnama yang benderang. Aku mengikuti telunjuknya. Batinku

terasa lebih segar.

Rembulan merah jambu ... itukah yang diinginkan Ibu, menjadi seseorang.

Menjadi orang dalam arti yang sebenarnya. Punya karakter dan prinsip yang berbeda.

Siap mengarungi kerasnya hidup? Itukah maksud Ibu dari sikap kerasnya selama ini?

Hatiku berbunga-bunga. Semua kehampaan, kebencian, dan kekesalanku pada

wanita tua itu tiba-tiba terbang ke awan. Aku tak lagi membencinya! Ternyata aku

cukup punya arti di mata Ibu. Aku rembulan di mata Ibu. Aku rembulan di hatinya!

Tanpa ragu kupeluk Ibu erat.

Bersama-sama, kami menghabiskan waktu yang tak terlupakan di beranda

memandangi langit, dan ... rembulan yang kini merah jambu dalam pandanganku!

∞ mom’s™ ∞





(novel lama yang sepertinya harus senantiasa menjadi pelajaran) 
 

Lyu Fathiah Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review