Kamis, 02 April 2015

Mau Menulis

di April 02, 2015 3 komentar
Tulisan pertama saya waktu itu cerpen. Saat duduk di kelas 1 SMA, saya membuat sebuah cerpen yang saya juga asli lupa judulnya apa. Tapi, ceritanya itu tentang seorang perempuan yang memendam perasaannya kepada seorang laki-laki yang usianya 4 tahun di atasnya. Namanya Caca, si tokoh utamanya. Ceritanya saking sayangnya, Caca sampai sakit karena tidak mampu menahan beratnya rasa rindu yang hebat terhadap Indra, si tokoh laki-laki. Bertahun-tahun Caca menahan rasa itu hingga saat sakit keras, dan Indra baru tahu kalau Caca sakit karena terlalu mencintainya disaat Caca sudah  sekarat dan akhirnya meninggal. Saat itu Indra benar-benar menyesal dan menghabiskan hidupnya dalam kesedihan.

Singkatnya sih begitu. Hahhaa. Singkat bener ya saya ceritakan?
Nah, waktu teman SMA saya make komputer YANG komputer saat itu komputer yang monitornya sama kek tipiii, dan super duper panas yang dihasilkan itu hebat banget, gak jauh-jauh yg kek gini nih komputernya:





Teman-teman pas baca cerpen itu nangis-nangis, jadinya nge-lap ingus sambil nge-lap keringat juga. Saking panasnya nih komputer. Hehehe. Itulah pertama kalinya saya menulis. Selanjutnya saya benar-benar mencintai dunia ini. Saya mulai belajar menulis secara otodidak dan mulai merasa dengan ini saya bisa melepas segala beban yang tersimpan rapat dengan baik di hati, #ciieeeee ahaha!

Namun, kemampuan menulis saya tetap saja rasanya tidak berkembang dengan baik. Ada beberapa tulisan yang sudah ku buat dan semuanya saya sadari masih jauh dari kata layak baca. Namun, saya kembali ke niat bahwa saya menulis karena SAYA INGIN MENYAMPAIKAN SESUATU. 

Itu niat awalnya sampai rasanya saya jenuh dengan niatku yang tak berujung baik. Bayangkan saja, kemampuan menulisku standar saja. Dan terus saja rasanya tulisan ini masih belum bagus skali. Saya mau kayak Tasaro, kayak Asma Nadia, kayak Sparkling Autumn, kayak Mahfuzah HAzirah. Huft, saya MAU MENULIS. Adakah hidayah buatku? hahaha. 

Selasa, 31 Maret 2015

Selamat Jalan. Surga untuk, KALIAN!

di Maret 31, 2015 0 komentar
Maret 2015.
Bulan ini penuh sesak oleh air mata. Banyak yang meningalkan Alam Dunia di bulan ini. Mereka yang kukenal, mereka yang selalu ku sanjung, ku sayang, bahkan ku kagumi sangat dalam. 

Olga Syahputra memang bukan siapa-siapaku. Beliau hanya sosok manusia biasa yang kukagumi. Kelucuannya, perjuangannya, dan segala tindak-tanduk yang mengocok perut. Mungkin Meningitis hanya perantara Allah untukmu digugurkan dosanya sebagai manusia biasa. Sesungguhnya kita manusia memang hanya bisa berencana, semua tahu hal itu namun Allah pasti memiliki alasan lain dibalik setiap kejadian. 
Disaat Kak Olga meninggal, semua yang baik-baik mulai mencuat dipublik. Sebelum-sebelumnya, public hanya tahu beliau itu artis lawakan yang baru tenar, yang sensitif, yang banyak ketawanya. Namun, pas beliau meninggal, segala kebaikan-kebaikan mulailah bermunculan. Tentang anak-anak yatim piatu yang ia rawat, ia hidupi, anak-anak yang tidak mampu dibantu, dan masih banyak lagi cerita yang subhanallah, sangat membuat kita cemburu.
Saat meninggal, dari beberapa yang saya baca, katanya setelah wafat lebih dari 10 jam, jasadnya belum kaku, silahkan di baca selengkapnya tentang apa yang terjadi pada tubuh kita setelah kematian http://pribadimanfaat.blogspot.com/2013/06/proses-pembusukan-tubuh-manusia-setelah.html .

Maha Suci Engkau Ya Allah... Insya Allah Syahid, Kak Olga. Buktinya? Ini dia tanda-tanda mati syahid. 

Pertama: Mereka yang dapat mengucapkan syahadat menjelang kematian sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadis yang shahih diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barangsiapa yang ucapan terakhirnya Laa ilaaha illallah maka dia masuk surga ) ( hadits hasan).

Kedua:
Kematian yang disertai dengan basahnya kening dengan keringat atau peluh berdasarkan hadis Buraidah bin Hushaib radhiallahu anhu:

Dari Buraidah bin Khusaib radhiallahu anhu: ( bahwa ketika dia berada di Khurasan sedang membesuk seorang sahabatnya yang sakit dia mendapatinya sudah meninggal tiba-tiba keningnya berkeringat maka dia berkata: Allahu Akbar, aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( kematian seorang mukmin disertai keringat dikeningnya ) ( hadits shahih ).

Ketiga:
Mereka yang meninggal pada malam jumaat atau siangnya berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ( hadits dengan seluruh jalurnya hasan atau shahih )
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( tidaklah seorang muslim yang meninggal pada hari Jumaat atau malam Jumaat melainkan Allah Melindunginya dari siksa kubur ).

Keempat:
Meninggal dalam keadaan syahid dimedan perang sebagaimana firman Allah Ta’alaa :

Artinya: ( dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh dijalan Allah mati, tetapi mereka hidup diberi rezeki disisi Tuhan mereka (169) Mereka bergembira dengan kurnia yang diberikan Allah kepada mereka, dan memberi khabar gembira kepada orang-orang yang belum mengikuti mereka dibelakang janganlah mereka takut dan sedih (170) Mereka memberi khabar gembira dengan kenikmatan dari Allah dan kurniaNya dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan balasan bagi orang-orang beriman) (QS Ali Imran :169-171).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( orang yang syahid mendapatkan enam perkara: diampuni dosanya sejak titisan darahnya yang pertama, diperlihatkan tempatnya dalam surga, dijauhkan dari siksa kubur, diberi keamanan dari goncangan yang dahsyat dihari kiamat, dipakaikan mahkota keimanan, dinikahkan dengan bidadari surga, diizinkan memberi syafaat bagi tujuh puluh anggota keluarganya) (hadits shahih).

Kelima:
Mereka yang meninggal ketika berjuang dijalan Allah (bukan terbunuh) berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "apa yang kalian nilai sebagai syahid diantara kalian ?" Mereka berkata: "Ya Rasulullah siapa yang terbunuh dijalan Allah maka dia syahid." Beliau berkata: "jadi sesungguhnya para syuhada umatku sedikit." Mereka berkata: "lalu siapa mereka Ya Rasulullah?" Beliau berkata: "barang siapa yang terbunuh dijalan Allah syahid, barangsiapa yang mati dijalan Allah syahid, barangsiapa yang mati karena wabah taun syahid, barangsiapa yang mati karena penyakit perut syahid, dan orang yang tenggelam syahid."

Keenam:
Mati kerana satu wabah penyakit taun, berdasarkan beberapa hadits diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: (wabah tha’un merupakan kesyahidan bagi setiap muslim). ( hadits shahih)

Ketujuh:
Mereka yang mati kerana penyakit dalam perut berdasarkan hadits diatas.

Kelapan dan kesembilan:
Mereka yang mati kerana tenggelam dan terkena runtuhan berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( syuhada ada lima: yang mati kerana wabah taun, karena penyakit perut, yang tenggelam, yang terkena runtuhan dan yang syahid dijalan Allah) ( hadits shahih).

Kesepuluh:
Mereka yang matinya seorang wanita dalam nifasnya disebabkan melahirkan anaknya:

Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjenguk Abdullah bin Rawahah dan berkata: beliau tidak berpindah dari tempat tidurnya lalu berkata: tahukah kamu siapa syuhada dari umatku? mereka berkata: terbunuhnya seorang muslim adalah syahid. Beliau berkata: ( jadi sesungguhnya para syuhada umatku, terbunuhnya seorang muslim syahid, mati karena wabah taun syahid, wanita yang mati kerana janinnya syahid [ditarik oleh anaknya dengan tali arinya kesyurga]) ( hadits shahih ).

Kesebelas dan kedua belas:
Mereka yang mati kerana terbakar dan sakit bengkak panas yang menimpa selaput dada ditulang rusuk, ada beberapa hadits yang terkait yang paling masyhur:

Dari Jabir bin ‘Atik dengan sanad marfu’ : ( syuhada ada tujuh selain terbunuh di jalan Allah: yang mati kerana wabah taun syahid, yang tenggelam syahid, yang mati kerana sakit bengkak yang panas pada selaput dada syahid, yang sakit perut syahid, yang mati terbakar syahid, yang mati terkena runtuhan syahid, dan wanita yang mati setelah melahirkan syahid) (hadits shahih).

Ketiga belas:
Mereka yang mati karena sakit Tibi berdasarkan hadits:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( terbunuh dijalan Allah syahid, wanita yang mati kerana melahirkan syahid, orang yang terbakar syahid, orang yang tenggelam syahid, dan yang mati karena sakit Tibi syahid, yang mati karena sakit perut syahid) (hadits hasan).

Keempat belas:
Mereka yang mati kerana mempertahankan hartanya yang hendak dirampas.Dalam hal itu ada beberapa hadits diantaranya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barang siapa yang terbunuh karena hartanya ( dalam riwayat: barang siapa yang hartanya diambil tidak dengan alasan yang benar lalu dia mempertahankannya dan terbunuh) maka dia syahid) (hadits shahih).

Kelima belas dan keenam belas:
Mereka yang mati kerana mempertahankan agama dan dirinya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barang siapa yang terbunuh kerana hartanya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana keluarganya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana agamanya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana darahnya syahid) ( hadits shahih).

Ketujuh belas:
Mereka yang mati dalam keadaan ribath (berjaga diperbatasan) di jalan Allah. Ada dua hadis dalam hal itu salah satunya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( ribath sehari semalam lebih baik dari berpuasa dan qiyamul lail selama sebulan, dan jika mati maka akan dijalankan untuknya amalan yang biasa dikerjakannya, akan dijalankan rezekinya dan diamankan dari fitnah) ( hadits shahih).

Kelapan belas:
Mati ketika melakukan amal soleh berdasarkan hadis:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( barangsiapa yang mengucapkan: Laa ilaaha illallah mengharapkan wajah Allah lalu wafat setelah mengucapkannya maka dia masuk surga, barangsiapa berpuasa satu hari mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surga, barangsiapa yang bersedekah dengan satu sedekah mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surga) ( hadits shahih).

Kesembilan belas:
Mereka yang dibunuh oleh penguasa yang zalim kerana memberi nasihat kepadanya:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ( penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muththalib dan seseorang yang mendatangi penguasa yang zalim lalu dia memerintahkan yang baik dan melarang dari yang mungkar lalu dia dibunuhnya)


... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa'atuubu Ilaik ....


Lalu, kemarin 30 Maret Guru kami tercinta, Asnaeni Mandja, S.Pd juga meninggalkan dunia ini yang INSYA ALLAH, saya dan mereka semua yakin IBU SYAHID.
Setelah berjuang sejak 2 hari sebelum meninggal karena mengalami pendarahan diusia 7 bulan kandungannya.
Ini anak ke-3 Ibu. Selalu, disetiap proses lahiran, selalu Ibu mengalami pendarahan yang berakhir pada Operasi Caesar. 
Namun, Allah berkata lain. Sang anak menarik Ibu ke surga lewat ari-arinya. Ibu Syahid. Meningal disaat melahirkan. Maha Agung sekali Engkau Ya Allah.


Kami, dan saya sendiri khususnya bersyukur bisa diberikan pelajaran yang sangat berharga oleh mereka. 


Selamat Jalan kak Olga dan Ibu.
SEMOGA KALIAN BISA TAHU,
BETAPA SAYA SANGAT MENCINTAI KALIAN. 


Foto Kak Olga yang paling saya sukai. Ceria, ramah, gagah. Apalagi dengan Gingsulnya. Love you!


Foto Ibu Asnaeni Mandja. Guru terhebat sepanjang masa. I LOVE YOU, Bu. 

Minggu, 22 Maret 2015

3 Ayah

di Maret 22, 2015 0 komentar
Pernah suatu waktu hidupku terasa sangat sepi. Semenjak meninggalkan dunia Kost yang banyak memberikan warna-warni kehidupan, sejak saat itu sahabat yang selalu mengekorku memang seperti tidak ada lagi. Bagi-ku yang lebih peka dengan kesendirian memang ini bukanlah masalah yang utama dalam hidup, hanya-kan tetap saja setiap manusia butuh yang namanya "sahabat". Yang bisa mendengarkan kita, menemani, bahkan jika hanya sekedar berbagi cerita suka dan duka. Defini si sahabat pastilah banyak sekali, yang utama mereka adalah orang kesekian yang pasti akan memberikan cinta setelah Orang tua, saudara, dan kekasih mungkin. 

Do'a dan harapan ku gantungkan padanya, agar saya tidak kehilangan sahabat lama namun ingin pula sahabat baru yang bisa menyesuaikan dengan kondisiku saat ini. Sejak di Maros kan memang susah bertemu mereka sahabat-sahabat semasa kuliah dan nge-kost, karena mereka sudah pada jauh. Memiliki jalan masing-masing yang sudah berbeda. Dan, hadirlah mereka manusia-manusia ini yang selalu saling menyapa dengan kata "Ayah". 


Awalnya saya diperkenalkan sepupu ke temannya, namanya Muhammad Danial Muchtar. Selanjutnya, setelah kami dekat saya yang memperkenalkan kak Nial ke Sardiana, sahabat semasa SD-ku. Lalu, Sardiana memperkenalkan Sarlinha ke saya dan kak Nial. Lalu, sapaan Ayah?
Itu sumbernya dari ke-booming-an ini:


Yah, selain hastag #MakassarTidakAman, meme ini juga lagi trend banget di Makassar. Istilah lucu ini dilatari gambar waria yang beraneka rupa. Kalimat-kalimat kocak yang disemati tulisan kata 'ayah' pun bemacam-macam. Mengundang tawa. Kira-kira karena bahasa yang kocak, campuran bahasa Bugis-Makassar. Apalagi adegan si waria pada gambar yang bertema: 'Ayah'. Misalnya, 'Instal Ulangka Ayah', Kucarikang ki Batu Bacang Ayah, Habismi Tawasku Ayah, Kunci Leher ka Ayah, dan sebagainya (sumber: Tribun). Ini bahan bercandaan juga buat kami. Dan, tanpa disadari istilah "Ayah" ini-pun kami gunakan setiap kali ketemu. 
Tak lama, banyak moment yang kami habiskan bersama. ^___^

1. Tour ke Taman Purbakala Leang-leang








 2. Malam Final STQ Kab. Maros





3. Malam Pengumuman dan Penutupan STQ Kab. Maros











Dan, saya-pun sayang kalian. Mmuuuaaccchhhh! Kapan moment selanjutnya kita lanjut lagi? :D

Sabtu, 21 Maret 2015

Generasi Qur'ani

di Maret 21, 2015 0 komentar
Katanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Itu benar, namun bisa juga terbantahkan. Saat acara STQ (Seleksi Tilawatil Qur'an) Kab. Maros yang dilaksanakan dari tanggal 16-20 Maret lalu, banyak sekali Qari'/ah dan Hafids/ah yang notebene keluarga atau orang tua mereka bukan dari latar belakang Qori' maupun Hafids.

Yang sempat saya ingat sedikit, namun tak sempat mengambil gambar wajah asli mereka beberapa anak yang mendapatkan juara I golongan Qori' anak dimana latar belakang keluarganya bukanlah juga seorang Qori' melainkan hanya seorang PNS biasa ayahnya, dan ibunya pun IRT biasa. Dan, ada pula yang mendapatkan juara untuk Hafids 1 Juz Anak juga bukan seorang Hafids orang tuanya. Meskipun memang ada beberapa anak lain yang memang kelebihan mereka ini yang diturunkan orang tuanya. 

Yang ingin saya tegaskan, bahwa "anak-anak kita-pun bisa menjadi Qori'/ah ataupun Hafids/ah", meskipun kita bukan Qori' ataupun Hafids. Mengapa? Yah, saya paham bahwa anak yang baik berasal dari orang tua yang baik. Tapi, apa perampok orang tuanya juga perampok? Belum tentu. Itu dikarenakan, anak-anak kita tidak memiliki kesalahan yang harus mereka tanggung atas kesalahan kita sebagai orang tuanya. Namun jangan dengan alasan demikian jangan sampai kita bisa melakukan kesalahan lain karena menganggap toh anak-anak kita tidak masuk dalam lingkaran setan yang kita buat. Hanya saja, kita perlu mendidik diri kita lebih baik lagi agar kelak saat memiliki anak kita sudah bisa mendidik mereka dengan jauh lebih baik lagi. 

Semoga kita semua bisa melahirkan anak-anak yang menjadi Generasi Qur'ani seperti mereka yang ada di STQ kemarin. Aamiin Ya Allah. 



Kamis, 08 Januari 2015

Jalan sehat hari Amal Bakti Kementerian Agama Kab. Maros

di Januari 08, 2015 0 komentar
Yuhuuu, dalam rangka Hari Amal Bakti Kemenag RI yang ke-69, salah satu even yang di adakan adalah Jalan Sehat dengan Rute start dari Kantor lama, menuju poros Bambu Runcing, belok melewati Kantor Bupati Kab. Maros dan finish kembali di Kantor Depag. Bayangkan (bagi orang maros saja yang bayangkan) rute sejauh itu, apa nda capek? Yah jelasmi, nassami, capek sekali. Taapii, kita nda akan melewatinya kok teman-teman. Kami (saya, Dian, Inha, kak Nial) memotong jalan sebelum memasuki poros Bambu Runcing, berbelok ke lorong yang langsung tembus Terminal. :D
Ahhh, ini karena kami hanya mau mencari tempat terbaik untuk foto-foto kok. Bukan karena malas saja. ^_^
Hasilnya, inilah foto-foto kami. 
Model By: Ulfa, Dian, Inha.
Fotograph By: Muhammad Danial Muchtar 
















Jumat, 21 November 2014

Matahari kita, Nanti.

di November 21, 2014 0 komentar
Usia belum menjadi jaminan akan kedewasaan seseorang. Pengalaman pun demikian. Sebanyak apapun dia tak pernah pula menjadi jaminan akan memudahkan seseorang lebih bijak dalam bertindak. Semuanya tergantung sejauh mana Iman kita. Ah, harusnya saya tidak mengambil kata itu. terlalu religius sementara kali ini saya tidak sedang ingin mengatakan hal itu.
Isi kepalaku benar-benar ingin memuntahkan kejadian kemarin, Syah. Makanya saya membuat cerita ini.
"Kata pengantarmu seperti halaman buku, panjang. Jelaskanlah pada saya, supaya saya bisa menghemat waktu".
"Baiklah" lalu ku keluarkan sebuah buku keil berwarna biru tua. Agak kasar dan pita pembatasnya sudah mulai habis. Terlalu lama tersimpan dan terakhir ku buka kemarin semenjak setahun lalu saya tidak menggunakannya. 
"Bacalah" Kataku padanya.

Lalu ia, membukanya.
Ku perintahkan ke halaman terakhir.

Aku berhenti pada sebuah perlakuan. Kepalaku tertunduk. Isi dada-ku rasanya ingin meledak seketika. Kepalaku sakit dan ingin sekali aku menarik telinga-nya agar dia sedikit peka. Aku menangis dan kamu tak menyadarinya? Bagaimana selama ini kamu mengatakan kita sejiwa? Film itu? Segitu hebohnya kah?

"Maafkan saya, kak" dan kamu pun berbalik kepadaku.
"Ahh? Apaa?"
Bodoh. Apa dari-mu yang membuatku semakin ingin melakukan apa saja?
"Saya minta maaf. Saya tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Saya mau putus"
Meskipun ruangan bioskop gelap, namun saya masih mampu melihat ekspresimu. Kaget bercampur cemas. Tapi tak lama, saya tak mampu melihatnya.

Kamu menarik tanganku dan menggenggam-nya, erat!
"Nggak. Saya nggak mau. Saya tidak mau"
"Tapi saya mau. Terserah kakak mau apa tidak"
"Nggak, sayang. Nggak. Saya nggak mau"
Kita masih saling menarik-narik tangan, dan saya mau tetap putus. Bohong.

"Kita kembali saat kita sama-sama siap, untuk menikah"
"Nggak, saya ngga bsa. Tolooong. Saya mohon. Saya nggak mau. Saya akan tepati janjiku".

Aku-pun kalah.
Saya masih ingin bersamamu. Lebih dari selamanya.


"Apa maksudnya kamu meminta-ku membaca ini?"
"Agar kamu tahu, bahwa hati kamu masih menulis tentangnya"
"Dia?"
"Siapa?"
"Laki-laki yang selalu kamu sebut dalam do'amu"

Dia tidak mengerti.
Perlu saya jelaskan lebih?
Namun sayang, kita ini setubuh tapi tak mampu saling mengerti. Sudahlah!!!


R, T, U, Huruf atau Taqdir?

di November 21, 2014 0 komentar
Kata orang hukum Karma itu berlaku. Percaya atau tidak. Banyak yang mengiyakan, seolah ingin membenarkan apa yang di alaminya pun juga pernah ia lakukan pada orang lain. Mengapa demikian? Bukankah itu tidak konsekuen pada taqdir yang telah tertulis dalam Kitab Suci Manusia? Gak ngerti?

Maksud saya.
Misalnya saya menipu Rere, saya memberikan informasi yang salah padanya. Sehingga membuat Rere melakukan kesalahan dalam bekerja. Di waktu yang lain, saya mengalami hal yang sama. Saya di berikan informasi yang salah oleh orang lain. KARMA. Lalu, apa KARMA juga termasuk dalam Lauhul Mahfudz?

Lalu, karena misalnya, Bos memarahi saya dan memarahi adik saya, ini bisa di katakan apa? Pelampiasan yang bukan objeknya? Sifat turunan? Ataukah Hukum Alam? Berdosakah saya jika memang itu hukum turunan? Kan saya begitu karena di kasi begitu? Gak benar ya?

Memikirkan ini benar-benar terasa menjenuhkan. Seperti apakah hidup ini? Mengapa rasanya tidak ada kejelasan bahwa FAKTA itu benar-benar berasal dari apa yang terjadi bukan karena KARMA, HUKUM ALAM, atauka TAQDIR.

Ini metafora pemikiran yang semakin menyipit.

Jumat, 18 Juli 2014

Simulasi CAT CPNS 2014

di Juli 18, 2014 0 komentar
Ini pertama kalinya saya mengikuti antek-antek tentang PNS. Pekerjaan yang masih saja menjadi pekerjaan yang paling di incar di Indonesia utamanya di Makassar ini benar-benar menampar saya. Panjangnya sampe 30 m di belakangku dan 10m di depanku sebelum akhirnya saya keluar dari antrian.
Kenapa?
Karena, di luar ada ribuan oang yang ingin mendaftar, tapi Aula juga sudah penuh 2000an peserta. -_- Kami pun memutuskan keluar dari antrian. :D

Selamat Belajar teman. :)
Kita pasti bisa.

Minggu, 13 April 2014

Ini (Bukan) Yang Terbaik

di April 13, 2014 0 komentar
Sarjana. Kata yang (dulu) paling di dambakan setiap orang tua jika anaknya telah menyandang Gelar tersebut. Namun, namanya manusia. Tak pernah ada puasnya. Setelah terpontang-panting menyelesaikan study dengan segala pernak-perniknya dosen (red: di persulit), muncullah harapan-harapan baru lagi  dari orang tua, keluarga, dan atau orang sekitarnya "kita". Harapannya bukan di ucapkan langsung, misalnya "Alhamdulillah, setelah S1 nikah aja ya". Melainkaaaaan, di ucapkan melalui *Sindiran*. -____-
Contoh -Nyata- :
1. Kapan Nikahnya? (khususnya cewek nihhh paling sering di tanya gini). Udah Sarjana kok belum ada yang datang ngelamar? Secara halusnya, "Si Becce udah nikah loh, dah Sarjana pula, suaminya kerja di -iniituini- trus gajinya -segambrenggini-, orangnya cakep, orang tuanya punya -inionoenee-. Dan, bla bla bla.
2. Kerja dimana? Gajinya berapa? *Jrengjreng* | Ini yang paling nyesekin. Semuanya pada tahu. Sarjana artinya orang yang pintar (pemahaman orang dahuoloe kala) dan kalo kamu udah Sarjana dan masih belum kerja (gak bagus juga di bilang Pengangguran), minimal saja kamu Sarjana Hukum (misalnya) lalu kamu kerjanya di Perusahaan Kasur, maka kamu, mereka, dan juga saya masuk dalam kategori Sarjana Gagal. -__-
3. Nggak lanjut S2? Kan, Sekarang S1 udah gak laku tuh? Udah setara SMA | Tahu tidak rasanya itu 'sakit' banget. Sudah ngarep nikah sama Esmud (Red: Eksekutive Muda), kerja pengennya sesuai jurusan dan dapat gaji gede' ehh tahu-tahu nganggur juga udah tahunan di rumah ngerepotin mama sama bapak, dan parahnya di singgung soal S2? S1 aja kerepotan nyelesaiin bahkan ada dosen yang nyeletuk, "Kalopun kamu Lulus nantinya, itu cuma berkat do'a aja bukan karena kamu mampu" #Behik. Ini lanjut S2? Apalagi soal 'biaya', kasian orang tua kan? (Kita pasti masih jadi anak yang gak baik yang nggak mau ngerepotin orang tua) Untuk bayarkan S1 aja, orang tua sampe gadein si "Martin" alias Kambing bunting yang udah lama banget di piara Bapak buat biaya nikah anaknya. Jatuh tempo, Bapak gak bisa ngembaliin uang hasil penggadaian si Martin, dan lalu, dengan berat hati bapak melepas Martin. Cinta memang gak harus saling memiliki memang. Asal si Martin tahu, Bapak cinta banget sama dia. Di tambah anaknya si Bapak (yah kita ini) tahu-tahu jadi pengangguran juga. (__")

Itulah!
Berbagai alasan Pasca Sarjana.

Nah, panjang banget kata pengantarnya padahal saya cuma mau bilang di sini, BAHWASANYA, saya berniat lanjut S2 (udah ada niat nih, alhamdulillah) berkat Bapakku yang ngasi alasan mengapa saya harus lanjut S2. Dan, saya pun mendaftar sesuai sarannya. Bapak selalu menempati Posisi teratas dalam Hidupku, setelah Mama (artinya bukan yang teratas ya?hmm). Tes-nya pun sudah. Malah saya berasa jadi kayak orang cerdas bangeeet gitu pas Ujiannya. Gimana nggak? Kanan kiri-ku, orang-orang pada nengok LJ-ku! Hahaha.

Selasa, 8 Februari 2014.
Pengumuman Mahasiswa baru Pascasarjana UNM Tahun 2014/2015

Atas nama Ulfa Hidayati, S.Pd
---- DINYATAKAN ANDA TIDAK LULUS ----


Isi dada-ku terkoyak. Meringis menahan sakit. Meskipun saya sudah mewanti-wanti ini sebelumnya, tetap saja PERIH, man! :'(
Jangan Salah. Saya nggak lulus, bukan berarti teman-teman yang tadinya NYONTEK juga gak lulus. MEREKA LULUS dan bahkan namanya di puncak teratas, bo'! (Setidaknya saya membuat mereka lulus dengan jawabanku) Grrrrrr!
Seorang laki-laki gak berperasaan mengatakan, "Alhamdulillah, sabar dek. Ini Yang terbaik. Terima ya. Allah pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik insya Allah".
Laki-laki itu, Muhammad Danial Muchtar. #Jhiyyyaaaattttt
Tapi benar adanya. Setelah saya ingat-ingat. Memang saya yang telah berdo'a, "Berilah yang terbaik untukku Ya Allah. Jika saya mampu melanjutkannya di Matematika lagi dan di UNM lagi, maka luluskanlah saya. Jika tidak, gantikanlah Ya Allah dengan Yang Lebih Baik".
Allah menjawab.
"UNM bukan yang terbaik. Yang terbaik ada di tempat lain. Tunggulah! Sabarlah!"


Sabaaarrrr!!! :) :) :)

Jumat, 01 November 2013

Karena Saya Ada

di November 01, 2013 0 komentar
Kini ia sudah berusia 23 Tahun. Tumbuh menjadi laki-laki yang dewasa. Siapa sangka dia menjadi seorang laki-laki dengan proses lingkungan yang membentuknya tanpa bantuan seorang laki-laki Mulia yang membawanya mengenal DUNIA. Ayahnya. Yah, benar. Dia besar dan tumbuh tanpa Ayah. Tapi, dia tetaplah menjadi laki-laki seperti Ayahnya meski belum menjadi seorang Ayah. 

Kalau dia mempunyai 2 Tuhan, maka yang ke-2 itu adalah Ibunya. Ibu yang merawatnya, sejak ia lahir dan semakin tertatih merawatnya, sejak suaminya meninggal dunia di saat anaknya, masih berusia 5 Tahun. Anaknya, laki-laki muda itu, masih terlalu kecil, masih belum tahu bagaimana itu kehilangan. Masih belum bisa menangis karena sadar akan beratnya beban sang Ibu harus merawatnya sendiri. Masih belum mampu menopang keletihan dan beratnya kehidupan seorang Wanita yang baru saja menjadi Ibu, dan kini telah menjadi seorang Janda, dan laki-laki muda itu masih tidak tahu bagaimana semua itu.

Kewajiban seorang suami dalam mencari nafkah, adalah salah satu jalan jihad. Berjuang demi anak dan istri, lillahi ta'ala. Saking beratnya kewajiban itu, Arsy-Nya bergetar saat Ijab Qabul di lakukan. Jelas saja banyak orang yang mengatakan "Nikah tuh gak gampaaang". Gak asal membawa anaknya orang menjadi istrinya saja, tapi juga semua yang ada dan yang akan di lakukan si istri akan menjadi tanggung jawab sang suami. Ketika si Istri meninggalkan segala kenikmatan yang ada di rumahnya dulu, ketika bersama orang tuanya, dia tinggalkan, dan berjuang memulai kehidupan yang baru, bersama Imam barunya, bersama laki-laki yang akan menentukannya masuk ke dalam surga atau Neraka.

Perempuan muda itu tak menyangka bahwa penantiannya sebagai Istri yang baik di rumah, mengurus segala sesuatunya, menyiapkan segala sesuatunya, harus di lalui sendiri, esoknya, tanpa suami lagi. Setelah sebelumnya dokter berusaha menyelamatkan nyawa suami-nya, namun Allah masih jauh lebih menyayanginya.

Perempuan mana yang ingin Janda? Tidak ada. Siapapun perempuan itu, sekuat apapun dia, tidak akan pernah mau dia menjadi seorang Janda. But, life must go on. Anak itu, dia adalah titipan. Bertahan adalah pilihan yang paling pas meski ia sadar, ini tak akan mudah. Teringat kembali, saat suaminya dulu meminangnya, dengan berani melakukan Ijab Qabul, dan semuanya selesai, tugasnya kini tuntas menjadi seorang Istri yang ia rasakan masih sangat sebentar. Namun, menjadi seorang Ibu masih berlanjut. Hingga kini. Dan, kini anak laki-laki itu sudah mampu menceritakan kisah Ibu-nya, kisah diri-nya yang dulunya tak tahu apa-apa saat ayahnya wafat. Semuanya berjalan seperti waktu yang tak pernah berhenti berdetak. Allah mendekapnya dalam kesibukan-kesibukannya sebagai laki-laki muda, tanpa terasa hingga usianya kini 23 Tahun. Sudah lebih dari 18 Tahun, ia melihat Ibu-nya sebagai wanita super dan membayangkan wajah ayah-nya yang bertanggung jawab.

"Kenapa Ibu-mu begitu kuat menjalani semuanya sendirian?" Kata salah seorang temannya.
"Jawabannya simple. KARENA SAYA ADA".


28 Oktober 2013


Selasa, 24 September 2013

TITIK

di September 24, 2013 4 komentar
Sebuah pertarungan selama 6 Tahun selama ini, seperti pecah dalam 1 kali pukulan. Saya tidak akan bertanya lagi kenapa dan kenapa. Saya menerimanya dengan seluruh kepasrahan dan keikhlasan saya. Saya menerima semuanya dan percaya akan ada Matahari setelah Musim Hujan ini. Saya terima semuanya dengan segala kerendahan hati saya. Saya menerima semuanya meski semuanya adalah kesalahan.

Saya mengaku salah.
Tidak memperjelas lagi saat kita tengah berada dalam perjalanan jauh.
Saya tidak menguatkanmu saat saya semakin yakin denganmu di tempat yang jauh itu.

Alasannya,
Karena saya terlalu percaya padamu.
Saya terlalu meyakini pribadimu yang memukauku.

Dan,
itulah kebodohanku. 
itulah kekeliruanku.
itulah ketidaktelitianku.

Tapi, kamu adalah MIMPI BURUK ku.
Saya harus melepaskanmu jauh-jauh.
Agar saya bisa melanjutkan kehidupanku.

Terima kasih untuk 6 Tahun ini.
Dan MAAF karena saya masih belum bisa membuatmu percaya.
Bukan salahmu memilih arah lain.
Salahku yang tak memberitahumu bahwa saya masih mengikuti jejakmu.

Saya pergi.
Kamu juga harus pergi.
Kita sama-sama pergi dari rumah impian kita sejak 2007 lalu.
Kita hancurkan dan kita bangun mimpi kita masing-masing.

Jaga dia yang menyayangimu.
Tak usah risau, karena saya akan baik-baik saja.

24 September 2013
Pukul 20.00

Bendera Putih di Septemberku berkibar.
Pergilah.
Pergilah.
Cari Keabadianmu yang lain.

Selamat Jalan, Edelweis-ku.
 
 

Lyu Fathiah Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review