ADAMAAA
DIMEKKAH.. Yeyeyeye.. Alhamdulillah..
Saya
cuman teriak dalam hati sebentar sekali, karena pada saat itu kan kita dalam
keadaan Ihram, jadi kita diharuskan terus bertalbiyah dari mulai kami
meninggalkan Madinah hingga nanti kami tiba di Tanah Suci Mekkah. Kami
berangkat jam 7 Pagi dari Madinah. Kami singgah di Masjid Cantik Bir Ali untuk mengambil miqat (berpakaian ihram) sebelum memasuki Masjidil Haram, Mekah. Masjidnya INDAAAAAAAH SEKAAAAALI. Liat sendiri maki ini nah.
Masjid ini disebut Bir Ali (bir berarti kata jamak untuk
sumur). Sebab, pada zaman dahulu Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA
menggali banyak sumur di tempat ini. Sekarang, bekas sumur-sumur buatan
Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak tampak lagi. Selain itu, Masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Syajarah (yang berarti
pohon), karena masjid yang
cantik ini dibangun di tempat Nabi Muhammad SAW pernah berteduh di bawah
sebuah pohon (sejenis akasia).
Kami juga sempat singgah sebentar di Wadi Qudaid, untuk mengqashar sholat dan
makan siang. Tempat ini asik sekali, terik panas matahari lumayan menyilaukan. Tapi gaess, suhunya ternyata sangat dingin. Brr... Romanticnya, angin menerbangkan mukenah dan gamis putihku dengan
lembut. Saya sukaaaa sekali. Lebih sukanya lagi ditempat ini ada ayunan besi yang
warnanya PINK. Warna yang manis untuk padang pasir yang kosong. Kehkehkeh…
Tidak
banyak yang bisa saya ceritakan disini selain tempatnya, dan juga tentang
makanannya. Nah, haha. Makanannya aneh sekali rasanya. Jangankan untuk melahap
habis, menelannya pun rasanya nggak bisa banget. Buat orang lain mungkin bisa,
tapi buat saya dan Ayu itu sulit.
Pamer sebentar ya.. hahaha |
Dapat anak-anak lagi, hihi |
Sayami jadi anak-anak hahaha |
Karena makanan ini gak bisa ketelan, makanya kami beli mie saja. Harganya murah kok, cuman 5 Riyal saja, kalo di Rupiahkan 15.000 (kayaknya), hahaha. Mahal memang untuk ukuran mata uang kiteee. Kelamaan berkompromi dengan tenggorokan dan hati, akhirnya mie yang baru saja mau dimasukkan dimulut terpending dengan kalimat yang dikeluarkan oleh Si Ustads Muthowwif kami, "KALAU SUDAH MAKAN, BALIK KE BUS BU, PAK YA. SOALNYA PERJALANAN KITA MASIH JAUH DAN SEMOGA KITA BISA BISA TIBA MAGHRIB BIAR PUNYA WAKTU ISTIRAHAT SEBENTAR SEBELUM UMROH".
Mie pun kami bawa ke Bus. Makan di Bus. Nikmati di Bus.
Kami tiba di Makkah sudah masuk waktu maghrib. Ada embun diujung mata yang membuat perih sekali, rindu itu sebentar lagi bakalan meretas disini. Tempat yang ku mimpikan sejak dulu. Saat pertama kali masuk Tanah Haram, do'a dan salam mengalir dari bibir kami. Semua yang belum pernah menginjakkan kakinya di tempat ini tentu bisa merasakan bagaimana mendebarkannya menunggu saat pertama kalinya kami melihat kiblat kami. Tempat yang setiap harinya kami sholat menghadapnya, membayangkannya saja sudah bagaimana bahagianya, apatah lagi kali ini kami akan langsung melihatnya didepan mata kami. Lalu kebahagiaan macam apalagi bagi seorang Muslim selain bertemu Robb-nya ditempat yang penuh Rahmat, yang hanya mereka yang dipanggil namanya untuk berada di tempat ini???
Aduh, maafkan kami!!! (GIFO TERUS)
Kami berfoto saat tiba di Hotel karena KAMI TIDAK PUNYA KAMAR. (Jangan tertawakan kami). Kamar kami masih terisi, ahhh sebenarnya bukan kamar kami, hanya saja kami diminta mendahulukan orang lain yang lebih dulu Usianya menua dari kami, hahaha. Berkorban sedikit gak papa ya. Semua orang sudah berada dikamarnya, kami belum karena kamar untuk kami masih terisi tamu Hotel sehingga kami masih harus menunggu. Malam itu kami berangkat untuk pertama kalinya memasuki Masjidil Haram untuk melaksanakan Umroh pertama kami, dan kami semua terbagi menjadi 2 rombongan jamaah. Rombongan pertama dipimpin oleh Ust. Muhammad Tamrin, Lc dan Kelompok kedua dipimpin Ust. Nurdin, M.Ag. Handphone dan kamera, kami simpan dikamar. Yang kami bawa ke Masjid hanya tubuh kami beserta otak dan hati, dan buku panduan. Kami mengikuti arahan Ustads dan terus dengan khusyu' meminta ampunan Allah agar memudahkan Ibadah kami dan berkenan mengampuni kesalahan kami.
Dari jauh, ku lihat Ka'bah. Pikiranku pecah. Saya tidak sadar sedikit hampir meninggalkan rombongan karena berdecak kagum melihat kokohnya Kiblatku itu. Tempat yang selalu ku lihat di sajadah ku, di kantorku, di brosur, saat ini saya bisa melihatnya lebih jelas. Ya Allah, tinggi sekali ka'bah itu. Ya Allah, banyak sekali manusia didekatnya. Ya Allah, bisakah saya menyatu ke sana? Bisakah saya memintaMu mencintaiku, agar Engkau perkenankan saya Ya Allah menyentuhnya, menciuminya, dan terus merintih didepan ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim itu? Ya Allah, manaaa semuami temanku? Astaghfirullah jauhkuu mi terlempar. Hiks hiks hiks. Air mata ku hapus, lalu ku gesitkan langkahku, kembali ke rombongan untuk bisa mendapatkan posisi aman untuk Tawaf. 7 kali putaran kan? Setelahnya kami sholat sunat didekat Makam Ibrahim, dekat Multazam atau yang sejajar dengannya. Minum air zam-zam. Lalu sa'i antara Safa dan Marwah. The last, tahallul. Foto yang saya posting ini adalah foto-foto di Umroh kesekian kami, karena di Umroh pertama kan kami gak bawa kamera, dll. Hihihi.
Nda tanggung-tanggung Ayu gunting rambutku sepanjang ini, haha. |
-
Jabal Rahmah
Tempat ini semua orang hafal
sebagai tempat pertemuan Adam dan Hawa. Kisah cinta yang paling bersejarah
sepanjang Masa. Di tempat ini, kita harus mendaki bebatuan (selain dengan
menggunakan tangga kita bisa memanjat batu untuk sampai kepuncak). Saat itu,
kenapa kami memilih mendaki bebatuan karena perjuangannya ingin sekali kami
rasakan, hihi. Sendal saya buka dan hanya beralaskan kaos kaki saya mulai
memanjat. Yang paling saya jaga adalah wudhu ku. Hihihi. Saya menantang diri
sendiri. Apa saya bisa menjaga wudhu saya dikondisi ramai seperti itu? Dan,
Alhamdulillah. Bisa.
Oh iya… Gamis yang saya kenakan itu
pemberian dari Ibu Hj. Nurmala Rahman, dan Jilbabnya itu dari Bunda Niar.
Mereka pas tahu saya mau Umroh langsung membeli semua itu khusus buat saya.
Hiks. Terharunya bukan main. Sudah saya Umroh gratisan, sekarang malah
dibelikan baju ihram, juga gratisan. Allah Akbar. Fabiayyi ‘alaa irobbi
kumatukadsiban. Jazakumullahu khairan katsiran..
Kembali lagi di Jabal Rahmah ya.
Pada saat kami berada dipuncak,
kami hanya foto-foto terus. Eh.. Menyentuh juga TANPA DOA.
Di bus, kami sudah di ingatkan oleh
Muthowwif kalem itu, bahwa:
1.
Niat
ke Jabal Rahmah hanya untuk Ziarah
2.
Tidak
boleh berdo’a kepada Jabal Rahmah karena sejatinya doa hanya pada Allah SWT.
3.
Tidak
boleh sholat.
4.
Tidak
boleh menulis.
Saya hanya menyentuh tembok itu,
tidak menulis juga. Lalu sisanya FOTO. Hihihi. Namun nih ya.. Hmm.. secara tdk
langsung pas liat jabal rahmah didepan mata sendiri, saya tiba-tiba berdoa
dalam hati “Ya Allah semoga saya juga disegerakan bertemu jodoh yang bisa
membuatku semakin cinta pada-Mu dan bisa meneladani kisah cinta para Anbiya”.
Aamiin Ya Robbal ‘Alaamiin. Heyyy, aamiin-kanka. Hahaha. Ujung-ujung berdoa
tonji. Hmddd..
-
Exhibition Of The Holy Mosques Architectur
Ditempat ini tidak banyak yang bisa
saya ceritakan. Hmm, isinya semua benda-benda lama Masjidil Haram di Mekkah dan
Madinah. Hehe.
-
Hudaibiyah
Di tempat ini, tempat kami
mengambil Miqat untuk Umroh selanjutnya, dan juga ada perkebunan Untahhhh.
Ehhh?
Ngapaaa na perkebunan?
Haha, sorry. Maksudku peternakan
Unta.
Nah Unta-nya lucu, tapi bauk. Bau
pesing. Hahaha.
Nah yang mau saya ceritakan disini
itu tentang Untanya.
Jadi ceritanya saya mau
memberanikan diri “menyentuh” si lucu ini. Sebenarnya takut, tapi Abdul
(adiknya Ayu) membantu. Pas saya sentuh, saya elus elus lembut, tiba-tiba air
mata si unta menetes. Ihh, sensitive begini enteee? Ahaha. Baper begitu?
Ternyata Unta, memang hewan yang perasa. Ada banyak manfaat dari Unta itu sendiri. Hewannya bisa dipake sebagai
alat kendaraan, susu sampai air kencingnya (pun) bisa mengobati banyak macam
penyakit. Susunya saja sudah bikin eneg, apalagi “kencingnya”. Ya Allah.
Hueeekkkk…. #mualkabayangkan
- Hijr Ismail dan hajar Aswad
Hijr Ismail adalah salah satu
tempat yang mustajab di area Masjidil haram. Butuh perjuangan untuk bisa ke
tempat ini karena bayangkan saja tempat sekecil itu, ada ribuan orang yang
berusaha juga untuk masuk kedalamnya untuk sholat? Untuk orang yang kecil kayak
kita Orang Indonesia, aissss, bisa-bisa ta’lempar maki. Hihi. Karena saat itu
saya berangkatnya sama Nenek dengan Kakak Alling (laki-laki) yang otomatis
bukan Mahrom, maka harus bisa melindungi diri sendiri. Hmm, pokoknya “Ya Allah,
lindungika” itu terus yang di ulang-ulang dibibir. Hihihi. Sambil dsikir,
sambal tawakkal juga. Saya serahkan hidup dan matiku Ya Allah pada-Mu.
Dan, hehe. Alhamdulillah air mata
itu tumpah di tengah-tengah Hijr Ismail disaat saya berdoa “hanya minta di
ampunkan dosaku”. Padahal sebelum ke masjid saya sudah menyiapkan konsep doa
apa yang akan saya panjatkan. MALAHAN. Sampai disana, NOTING! Saya lupaaaa
semuanya. Saya hanya mohon di ampunkan. T_____T
Mungkin dosa saya memang besar jadi
Cuma ingat itu. Hiks hiks hiks. Setelah sholat, saya mencoba sedikit menyela di
antara orang India, Pakistan, sama orang apa itu nda tauk. Saya menyentuh
kabbah. Ku dekatkan wajahku. Ku cium kabbah. Kiblatku. Benar kata mama, kabbah
itu harum sekali. Kainnya lembut. Dan saat menyandarkan wajahku di sana, ada
ketenangan yang mengaliri seluruh sendiri tubuhku. Saya lupa dengan duniaku.
Lupa soal Ijazah yang belum diurus. Lupa sama kerjaan di Maros yang mungkin
akan banyak saat pulang nanti. Lupa sama utang yang belum lunas (inikah memang
selaluji nu lupaiii ulpa), tapi serius. Saya lupa dengan semua urusan duniaku.
Serasa ingin tetap bertahan disini. Selamanya. Lebih dekat dengan-Mu. Kenapa
tak disini saja saya dilahirkan Ya Allah? Bisa Bahasa Arab. Dan bisa lebih
dekat dengan Rasulullah. Seperti itu indahnya. Seperti itu bahagianya. Sungguh
bahagia sekali.
Lalu, Hajar Aswad.
Ada suatu waktu sebelum balik ke tanah air, saya ke masjid sendiirian. Perasaan saya campur aduk. Sedih pokoknya.
Sangaaaat sedih. Ya Allah. Saya memilih ke Masjid sendirian. Menghabiskan waktu
disana dari malam sampai pagi. Lapar ma baru ndada makanan saya bawa. Sempat
tertidur, pas bangun malah jilbabku ada sobekan. Ihh apa saya bikin ini tadi?
Tidurja, kenapa sampai sobek? Hahaha. Kayak habiska baku jambak sama orang.
Padahal ndaknaja. Tinroja pokoknya. Ckckck.
Eh bukan itu yang saya mau
ceritakan. Hmmm
Jadi pas bangun, saya melihat ke
ka’bah. Saya lihat dengan lekat. Saya sudah pernah berhasil cium kabbah. Sudah
pernah menciumnya, menyentuhnya. Sebentar lagi saya akan berpisah dengannya.
Tempat yang selalu saya sebut dalam do’a-do’a ku. Ah Ya Allah, kenapa singkat
sekali? Bisakah pesawatnya besok menolakku? Ataukah pegawai Hotel-nya Jazeerah
Al-Shafrah itu memintaku jadi Pegawainya saja? Kalo nggak minimal saya bisa
jadi pengatur barang di Bin-Dawood? Karena kalo mau ngarep di per-ISTRI-orang
Arab juga OGAH. Kenapa? Nda taukka Bahasa arab, nantikah na callaija baru ku
kirami na bilangika Cantik. Ihhh, kenapa na lari salah lagi ini pembahasan?
Kembali lagi. Saat saya melihat
Kabbah, saya bergerak. Ku ambil sandal. Masukkan ke tas (x). Mulai mengikuti
rotasi TAWAF.
Jilbanya Sobek padahal jilbab baru gang |
Sekedar info juga, saat kita
melakukan tawaf… semakin jauh kita diluar barisan melakukan tawaf, semakin
lama, kita akan memasuki lapisan putaran terdalam hingga mendekati KA’BAH.
Disaat itulah saya mencoba mendekati HAJAR ASWAD. Uhh, BISMILLAH. Coba saja. Nda
ditau mana ada rezeki bisa cium toh?
Nahhhh….
Saya sudah dekat dengan Rukun
Yamani. Saya memegang pinggiran kain ka’bah dan disana ada cincin pengait kain
ka’bah dengan tembok, saya memegang cincin itu. Ukuran cincinya bisa jadi
gelangku. Hihi. Nah.. Sudah banyak orang yang mendorong. Saya sudah hampiiir
saja kehabisan tenaga. TAPI, semangat ulfa. Sedikit lagi. Yaaa, sedikit lagi.
Tiba-tiba ada seorang Bapak, melompat ke arahku. Memanjati pinggiran Ka’bah
itu. Ya allah, “Matika sebentar ini, matikaaa” kataku dalam hati. Itu orang
tinggi besar, mau melompat lewati kerumunan orang. Trus dibelakangku ada orang
pake Bahasa Arab, nda tau apa na bilang tapi dri gerakan tangannya seperti
mengatakan, “Jangan, jangan. Ada perempuan disini”. Gueehhh tuh maksudnya.
Hahaha. Soalnya dia bilang “ hajjah, hajjah” gitu. Mereka sangat melindungi
Kaum Perempuan. Tidak menyentuhnya. Tidak mendorongnya. Tidak berteriak pada
perempuan. Tidak menarik mukenahnya. Tidak sama sekali. Karena terlalu terharu
saya memandangi si Bapak yang membelaku, cieelaaahh, saya tiba-tiba tersentak.
Orang dibelakangku pada hilang. Ini
pada kemana?
Ternyata kami di usir sama tentara
penjaga Ka’bah. Hajar aswad akan segera dibersihkan. Hanya karena saya
perempuan jadi tentaranya tidak menyentuhku sama sekali. Dibuatlah pagar
pembatas. 2 jam kemudian baru bisa mencium kembali. Ahh Ya Allah. Sayang
sekali. Dan, saat itu saya mau keluar dari kerumunan, tiba-tiba (lagi) ada
Bapak yang kembali mau melompat memasuki pagar pembatas itu. Mungkin orang yang
sama dengan yang tadi ya? Mereka kok anarkis gini ya? Saya mulai ketakutan.
Muka ku sudah gak beraturan gimana kucelnya. Sudah penuh keringat, lipstick
hilang, jangan ditanya lagi soal BEDDAKnya. Hilangmi semua. Dan, si Bapak yang
melompat tadi di pukul sama tentara lagi. Akhirnya hebohlah disana. Saya
nangis. Si Bapak Arab itu melompat lagi dan sikutnya kena ke leherku. Allah Akbar
saaaakitnya Ya Allah. Disitu saya nangis. Meringis. Seorang Pemuda
berkebangsaan India melihatku dengan Iba dan bilang, “Don’t cry.. Please Don’t
cry. You must be fight” dan mengelus kepalaku. Ya Allah.. Itu orang. Baeknya. Saya
wajarkan dia sentuh kepalaku mungkin makkamase2 sekalima diiliat. Saya tidak
tahu alasan apa yang akan saya pakai untuk keadaan ini. Saya gak bisa balas
kalimat apapun selain sesenggukan. Alhamdulillah saya berhasil keluar dari
kerumunan, mendekati Makam Ibrahim. Saya ingin melihat saja. Saya ingat bahwa
kita juga tidak boleh menciumnya. Hanya menyentuh lalu melihat tapak kaki Bapak
Para Anbiya’ ini. Besar sekali. Hihi. Ya allah. Ini membayar sakit tadi. Saya
menyeka keringat dan air mata. Saya keluar dari Masjid. Diluar saya bercermin,
dan… hahahahaha. Cukmalakna asli. Kayak sudahki na muntahi kucing. Hahahaha.
Itu ujung mukenahku sudah gak dijidat tapi di atas kepala. Jilbab mencong
kanan-kiri. Ngerti ya? Saya make jilbab dlu trus mukenah. Ahh luar biasa
rasanya. Rasanya GAGAL itu bikin bahagia juga. Karena saya sadar. Kalo niatmu
memang untuk coba-coba maka hasil yang kamu dapatkan memang benar-benar
mencoba. Asal coba kan? Itulah rasanya.
Kembali perbaiki niat. Perbaiki
bahwa memang kamu mau mencium bukan mencoba mencium.
Kesempatan mencium saya kubur
dalam-dalam. Saya memilihi ke Jabal Umar, mencari makanan apa yang bisa
dimakan. Mataku tertuju pada SHAWARMAT. Kayak kebab isi daging dan sayuran.
Sebelum meninggalkan masjidil haram kami melakukan Tawaf wada, tawaf perpisahan. Luar biasa sekali rasa sedihnya. Sholat subuh terakhir kami di sini terasa berat sekali. Air mata ngalir terus. Terus dan terus. Kami sedih, setelah ini kami akan meninggalkan tempat mulia ini. Jauh lagi dari Rasulullah SAW. Jauh lagi dari tempat paling meneduhkan. Tempat yang membuat kami lupa akan dunia. Disni saya merasakan betapa indahnya mengejar akhirat itu. Benar-benar jika kita hanya mengejar dunia, kita hanya akan menjadi orang yang paling rugi. Sungguh sangat rugi.
-
Jeddah
Selamat Tinggal Makkatul
Mukarramah. Sebelum meninggalkan Tanah Mekkah ku tatap berkali-kali menara
Masjid Agung itu. Kapan lagi Kau akan berikan saya kesempatan ke sini lagi Ya
Allah?
Oh iyya saya mau bercerita sebelum
kami meninggalkan hotel. Jadwal mestinya kami berangkat pagi-pagi, cuman karena
telat bangun, akhirnya karapa-rapa lah kami. Haha. Ini moment yang “paling” bikin gak
semangat. Saya make gamis kayak lemeeees banget. Sudah mau balik. Koper kami
semalam sudah di siapin diluar kamar. Sejak hari ke-2 di Mekkah, perasaan saya
sudah campur aduk. Seimbang sedih dan bahagianya. Bahagianya gak usah ditanya
kenapa. Semua alasan itu ada disini. Tapi sedihnya? Ada yang mengganggu jiwa.
Ada yang selalu membuat nangis, sampai perasaan gak enak banget asli.
Pelan-pelan saya meminta Allah memberikan saya ketenangan batin. Kenapa
sebenarnya saya jadi sedih sekali. Mata kiri saya kedap-kedip sampai pulang.
Yang membuat saya nangis kencang sebelum pulang itu saat seseorang yang
“paling” saya suka, yang namanya saya simpan, saya tanam dalam hati,
mem-BLOCK-ir saya. Didepan ka’bah arah rotasi tangis ku berubah yang tadinya
karena terharu liat ka’bah, mohon pengampunan, dsj., berbalik jadi semacam
“ORANG PATAH HATI”. Tangan ku gemetaran
pegang HP. Pas matahari lagi teriknya, lagi panasnya, dan saya nangis. Saya
lapangkan dada. Saya sholat dua rakaat, entah sholat apa itu. Yang jelas sholat
saja. Jatuh-jatuh air mataku. Mukenah keliatan sangat basah karena warnanya
ungu. Mungkin orang yang ngeliat mikir, “Masya Allah khusyu’nya sholat sampai
nangis”, padahal orang broken heart anjooo.
Baru selesai saya sholat, saya
melapangkan dada, ada pesan masuk. Bapaknya Bu Hj. Nurmala (yang ngasi saya
gamis) meninggal. Allah akbar. Tumpah lagi itu air mata. Saya cuman bisa berdoa
semoga Allah memberikan tempat terbaik buat beliau dan Bu Mala di sabarkan.
Aamiin Ya Allah. Maaf Bu, gak ada disana disaat Ibu lagi berduka. Masih di
posisi yang sama, Pak Andi Baso, sahabat terbaikku juga chat.
“beliau minta di do’akan supaya
bisa secepatnya pindah ke Seksi Haji”. Saya hapal betul, hari itu Jum’at. Saya
aamiinkan terus. Aamiin aamiin kataku. Dan, itulah komunikasi terakhirku sama
beliau. Beliau-pun kembali pada-Mu Ya Allah. Saya pulang benar-benar disambut
duka yang penuh dikantor. Bu Mala, dan Pak Andi. Inilah mungkin tanda perasaan
itu. Sedih skali pokoknya. Saya paling sedihnya di Pak Andi. Beliau minta
dibelikan tasbih dan gelang koka, saya belikan semua buat beliau, tapi tak ada
yang beliau liat sebelum kembali pada-Mu. Inilah sakit yang paling sakit dari
semua sakit yang saya alami diperjalanan ini. Kehilangan sahabat terbaikku. Ah
sudahlah, baper. Semoga Allah memberikan tempat terbaik disisi-Mu. Selamat Jalan Sahabatku.
Perasaanku masih campur aduk. Perjalanan ke Jeddah menjadi
semakin sendu. Senyum dipaksa, kaki kayak diseret, sebentar lagi kami kembali
ke Tanah Air.
Kami sholat dhuhur di Masjid
Ar-Rahmah Laut Merah.
Masjid yang indah. Indaaah sekali.
Saya sengaja sholat dipelataran biar bisa merasakan langsung angin menenangkan
perasaan.
Selesai sholat saya berjalan keluar
area Masjid. Saya terus meretasi jalan panjang itu. Foto-foto, yah apalaaagi..
hehe. Terus dan terus.
Dan ada seseorang yang menjepretku
diam-diam hahaha.
Beliau ngajak kenalan.
Sikasiksikasik yuhuuu, cowoopppp. Hahaha.
Masjid Terapung |
“Mbak mau fotonya?”
“saya di jepret, Mas ya?”
“Haha iya mbak. Soalnya tadi posisi
Mbak keren tuh. Jadi kayak candid mbak. Mau?”
“Boleh” Kataku. Halaah… bloethoot.
Pasti ada yang mau bilang, “ededeeee, share it lalo”. Toh? Hahaha. Saya cuma
ikuti Mas-nya. Dia mau ngirim pake blutut.
“Mbak jamaah dari mana?”
“Makassar, mas” Kalo bilangka Maros
pasti nanyaji lagi, dimana itu. Jadi langsungmo Provinsinya saja.
“Ohhh makassar. Saya pernah kesana.
Losari kan mbak ya?”
“………” senyumja. Gueehhh gak nanya.
“dah sukses semua mbak ya?”
Mas-nya melongo. Hahaha. Coppp…
maaaf.
“Oh ya udah kalo gitu sip mbak”.
“Mas sendiri dari mana?” Tanyaku
biar sekalian sy berbaik hati.
“Jakarta Mbak, hehe”.
“Oh Jakarta” dari jauh ada 3 orang
temennya cowok juga dating nyamperin kami. Saya buru-buru pamit.
“Maaf mas, saya harus balik ke Bus.
Terima kasih sekali lagi. Assalamu alikum”
Si Mas senyum nyodorin tangannya,
saya cuma nangkup ke dada dan melaju dengan laju, lariii… kok lari? Saya suka
gamisku terbang, jilbabku terbang, saya suka angina menyapu dengan manja. Saya
suka sekali. Dari jauh saya lihat beberapa orang sesamaku Jamaah Umroh sibuk
mondar-mandir. Termasuk Ustads kami.
“Masih berkeliaranji. Tingalma juga
deh”
Selang 10 menit, Si Tante (Maaaknya
Ayu) Teriak dari jauh.
“Ulfaaaaaaaa… oooo… Ulfaaaaaaaa…”
Saya berbalik, karena merasa saya
yang dipanggil saya berjalan kea rah tante.
“Iyyee….”
“Astaghfirullah Nak, dari manaaako.
Orang dari tadimi cariko. Sejam maki muter-muter cariko. Itu Ustads dari tadi
pusing. Di kasi tauko 30 menit ji waktu’ta disini na ini maumi 2 jam.
Dehhh. -_-
Apami mau saya bilang ini. Hiks.
Saya ke Bus, semua orang
ngos-ngosan, campur marah. Saya langsungmi duduk dekat sopir. Nda ke tempat
dudukku ma.
Dari jauh saya liat si Ustads
dating dan naik ke Bus kami.
Saya mau minta maaf tapi, dia nda
liatka. BELIAU MARAH!!!
Nda enaaaaknya sumpah perasaanku.
Mulutku Cuma menganga. Ya Allah, rancuuu begini perjalananku. Hiks hiks.
Tiba di Bandara saya Cuma bisa
diam.
Sebagai pengalihan saya ajak foto,
SHEILA!!!
Who’s that?
BENCONG SESAMA JAMAAH UMROH.
-_______-
Masuk di ruang tunggu, kami harus
nunggu lagi sebelum naik ke pesawat. Hapeku lowbat sekali, jadi saya nyari
tempat cas. Disini lagi saya bikin agar-agar. Hmm, gara-gara. Keasyikan ka
ngecas. Saya nda tau kalua orang sudah pada ke pesawat. Saya dicari lagi,
dimarahi lagi. Hiks. Ternyata sendiri k umami di sana. Ya Allah, ulpaaaaa.
Saya menjadi orang terakhir naik
pesawat. Lalu, ketemu lah saya dengan si Ustads.
Saya gak ngomong apa-apa kan. Soalnya
“mallakka”. Haha.
Trus pas sementara jalan saya sapa
dengan ramahnya.
“Ustadz, hehe”
“Apaaa?” Jawabnya ketus. Ihhhh, ini
orang eee. Baekku mo lagi.
Dan muka ketus ji saya dapat terus.
Halaah… sampai di atas pesawat
tidak ada sama sekali kalimat keluar. Mauki minta maaf jga aihhhh malaska.
Dan itulah kebersamaan terakhir
kami semua di Bandara Abdul Aziz Jeddah. Yeyeye.
Oh iya, belumpa cerita.
Pas pemeriksaan digarambangiki sama
petugas bandaranya. Hahaha. Deh pemeriksaannya biar sepatu dibuka juga. Trus di
granyang-granyangilah kami semua para perempuan ini. Hahahaha. Tenang,
perempuan ji petugasnya. Na kira kayaknya ada bom di sembunyi dalam gamis. Hahaha.
Lalu, siapa jodoh itu?
Jodoh itu adalah HIDAYAH.
Itu yang ku genggam kembali ke
tanah air.
Saya berjanji, setelah kembalinya
saya disini, saya akan berusaha menjaga Izzah Addin-ku. Semampu dan sebisaku.
Saya akan menggenggam HIDAYAH dan rasa cinta yang dalam ini pada-Mu. Saya akan
memperbaiki diriku sebesar usaha dan semampuku. Aamiin aamin Allahumma Aamin. Itu janjiku Ya Allah. Menjadi sebaik-baiknya hamba-Mu. Menjadi sebaik-baiknya Umat-Mu Ya Rasulullah meski tidak bisa membayar dosa ku yang telah lampau.
Kami tiba di Makassar alhamdulillah dengan muka bengkak tidur selama 12 jam dipesawat. Hihihi.
Moment terakhir kami sambil tunggu bagasi yaaa ini, apalagi kalo bukan foto-foto. hehe. Saya nda akan pernah lupakan kebersamaan dengan kalian. Meski dengan Alzheimer sekalipun, yahhhaaaa. Carita. Hahaha.
SELESAI!!!