Kamis, 28 Maret 2013

Menuju Sarjana #Part 4 *Ceritaku di Senin Pagi*

di Maret 28, 2013 0 komentar


Di gazebo MIPA, orang menamai tempat ini. Tempat tongkrongan mahasiswa yang sedang rehat dari dunia akademik yang menjemukan untuk sebagian orang. Tak terkecuali diriku. Entah kapan mulainya saya membenci tempat ini. Orang bilang, kampus adalah tempat terindah di masa penanjakan usia yang menuju kematangan. Baik fisik maupun mental. Saat pertama saja aku sudah lupa kapan aku jelasnya menjadi salah satu bagian dari mahasiswa itu.
Hanya saja aku memiliki 1 perbedaan dari para pencari Ilmu itu yakni aku bukan Mahasiswa Murni. Maksudnya, aku terdampar di Universitas ini karena kecolongan beasiswa. Soal yang harusnya ku konsentrasikan otakku di sana malah hanya ku gambari, menulis namaku dan berharap bel tanda test selesai segera berbunyi. Dari 50 soal, hanya 3 soal yang ku kerjakan. Tentunya dengan kemampuan otakku yang tak pantas di acungkan jempol.
Dan kembali lagi di gazebo MIPA. Di sini, lebih lanjut ku paksakan rasa malasku menginjak kampus ini untuk segera menyibukkan diri. Itu planning bersama kakak-kakakku yang juga sebagai teman-teman kelasku. Maklumlah, saya yang termuda di antara mereka. Aku menunggui mereka di sini, dengan mengetik kata demi kata. Merangkai kalimat demi kalimat. Ketika ku dapatkan yang tak sesuai, ku delete lah mereka. Lalu ketika aku lost, ku teguk lagi air minum di botol sebagai senjata pamungkasku ketika di kampus guna menahan rasa lapar. Uang yang di berikan hanya cukup untuk ongkos angkot 3x ganti. Maksudnya, dari tempatku berdomisili saya harus naik angkot menuju Sudiang atau Daya. Di sana saya akan turun dan kembali mengambil angkot lanjutan menuju Veteran dan berlanjut lagi menuju Parantambung begitupun ketika aku kembali ke rumahku. Perjalanan yang mewah. Mewah dengan rasa letih, mewah dengan hawa panas, mewah dengan berbagai macam bau badan, mewah dengan keringat, dan yang paling penting mewah dalam bersabar menghadapi MACET.
Di lantai gazebo ini, aku menginjakkan kakiku sambil menatap sepatu kucel plastic hitam yang penuh dengan debu. Aku sebentar menggerakkannya, mengayungkannya, dan sampai aku melihat tidak jauh ada 3 kawanan anak burung yang sedang mematuk-matuk lantai. Ku hentikan aktivitas ayunan kaki itu lalu melihat mereka. Kepalanya ia goyang-goyangkan sebentar, ke atas, bawah, kanan, kiri, ke bawah lagi, dan begitu lagi dan lagi.
Aku berbicara pada mereka, seperti orang tidak waras yang berbicara pada batu.
“Heii, bro. enak ya matuk-matuk lantai?” Aku terdiam dan tersenyum
Mereka masih saja mematuk dan menggeleng-geleng seperti pusing melihat diriku yang gila ini berbicara padanya.
“Heh, kamu tahu tidak. Saya kagum dengan paruhmu. Bahkan lantai sekeras itupun kamu tetap jajaki demi mencari sepotong makanan yang bisa di kunyah lidahmu. Apa itu tidak sakit dan ngilu? Oh, mungkin tidak. Kamu sudah terbiasa. Kakimu kecil sekali, namun kamu bisa berjinjit-jinjit kecil menuju tempat lain. Terus dan terus sampai ketika kakiku bergoyang, kalian dengan cekatan mengepakkan sayap dan terbang. Aku tahu kalian akan kembali lagi, karena di sini ada banyak potongan makanan dari para mahasiswa yang dengan mubazzirnya membuang makanan seperti lantai ini adalah tong sampah.
Kamu memiliki paruh yang kuat, kaki mungil yang lincah, mata lentik yang temaram. Namun, aku lebih tertarik pada SAYAPmu. Bisakah kau mengajariku terbang dari keterpurukanku? Mengajariku terbang dari keputusasaanku? Atau sekalian kau bawa aku terbang meninggalkan segala ketakutan-ketakutanku hingga yang tersisa hanyalah danau semangat yang luas membentang? Yah, memang itu tidak mudah. Tapi, aku berterima kasih. Terima kasih, karena kau mau terbang ke sisi jari manisku. Dengan itu, aku bisa memulai mengetik kalimat-kalimat ini tentangmu.”

Sabtu, 23 Maret 2013

"Track of Tortoise" Book

di Maret 23, 2013 0 komentar
Terinspirasi entah dari mana saya ini ketika membuat buku dari jahitan tangan ini. Tak memikirkan apapun selain 1 warna yang menurutku seni banget, "coklat". Ihhi..
Ketika melihat ada sisa lem, saya berpikir ingin menempel-nempel apapun itu.
Mencari dan mencari, namun saya lebih ingin menulis. Apapun itu. Pikirku.

Saya pun berpikir ingin menulis kisah bersama teman-teman di Kost dulu. Aksi menulis pun dimulai...
Dari kertas dan kertas.. Semuanya tertuang dalam kumpulan kertas yang menjadi sebuah buku, BAGIKU...Hihihi












Selesaii.
Simple.. Dari covernya, seolah yg buat adalah manusia hutan semacam Tarzan.
hahaha, but never mind. I like a jungle.

Cerita yg ku tulis tentang kisahku dengan sahabat-sahabatku di Al-hasan. Semuanya tertuang di sini. meski tak banyak,tapi ini mewakili setiap memory ku. :) 

Rabu, 20 Maret 2013

Qadiftara

di Maret 20, 2013 0 komentar
Kemarin, saya membuka HP mama'ku. Sistem kaccaki pun menjelma menjadi sebuah penemuan mengagumkan dan mencengangkan. Tak begitu "wah" hanya saja saya menikmatinya. Mungkin bagi mereka yang Alumni Ponpes Mangkoso tidak akan asing dengan nasyid ini. Namun, bagiku yang hanya alumni MA biasa, non-boarding (bahasa slanknya "Pesantren") menjadi begitu menikmati.

Awalnya, tak ada nama. Hanya Sound102 dengan size 288 kb. Saat ku tekan play button, maka mengalunlah sebuah gemangan nasyid yang merdu. Dari suara seorang anak Manusia yang menjadikan nasyid ini begitu menggema dan menyentuh. Ku tanya mama'ku, "Ini lagunya apa?" dan mama pun ikut mendengarkan lalu menyebutkan Judulnya, "Ooh.. Ini lagunya Mangkoso.. Qadiftara judulnya tapi orang sana na palempu ugi'na menjadi Qadittara' (dengan aleg bugis yang lincah)".

This is Qadiftara's Liryc..

Qadiftara lahu lana diinahu wal Islam
Yakufu jami'al adyanini bainal ummami
Kama qad syahidal lahu mamarul ayyam 
Falaa tujawwidzuu hududa Robbikum

Ahlan Wa Sahlam hai sinisiaji selleki
Pada laoni mai rionrong madecengewe
Kiangkalinga pangngaja pole ri kittae
Sarekuang mengngii kisalama matu

Nacaddio riona wanuae Mangkoso
Rimuka tellena tojang pero werona 
Sikola Ogamae ompokenna upe'e
Panggoncinna decenge patte'du'na labangnge
Ooo Puang teppodong manennunge llaoki 
Ajoppangenna sikola ogamae
Napucolli' tinulu napudau madeceng buana..
Aamiin

Mungkin, kurang lebih seperti itulah Lirycnya. Kalaupun ada kesalahan, mohon maaf. Ini hasil sms dari saudaraku, Ramla yang sedang nimba ilmu di sana. Plus juga dengan kondisi telingaku yang tidak memungkinkan untuk mendengar dengan jelas,hihihi.


Kamis, 07 Maret 2013

Menuju Sarjana #Part 3 (Memeluk Tangis)

di Maret 07, 2013 1 komentar
Dhruva, bagaimana kabarmu? Apakah kau masih saja menatapku dari kelamnya langit malam? Jika kau masih melihatku, tolong alihkan pandanganmu kali ini. Karena saya tak mau kamu melihatku dengan uraian tangis lemah tak bertenaga.
Bacalah saja tulisanku, agar kau tak harus melihatku menangis.

Senin kemarin Va, kampus kembali ku jajaki. Kepalaku masih sangat pusing. Kondisi kesehatan yang masih juga belum pulih. Saya dan Rudi kembali mengurus nilai kami yang masih saja mengapung tak jelas. Mungkin memang kesabaran sedang meminta kami untuk melayang bersama, berusaha menggapai garis finish dengan wajah penuh peluh dan air mata.
Kegagalan bersama kami. :(

Seperti anak kucing yang basah karena hujan, aku berjalan kembali setelah kegagalan itu menamparku lagi dan lagi. Sampai kapan aku bertarung denganmu PAK RUSLAN? Sampai kapan kau akan menjadi PENGUJI ku di dunia yang hanya sementara ini. Terlalu banyak keluhan yang ku terjemahkan dari bibirku karenamu. Sampai kapan Pak?

Tangisku pecah bersamaan dengan kesehatan yang kembali DROP.
Malam itu, saya kembali demam. Kepalaku berat seperti ada ribuan TON batu di dalamnya.

Kak Asiz Mustakim memberiku nasihat-nasihat. Terima kasih untuk semua itu.
Kak Asiz bilang, "kk anggap ki sbgai adik kandung kk sendiri jg sedih dgn apa yg ulfa alami".
Ya Allah, sungguh mulia hatimu kak. terima kasih ikut prihatin dengan masalahku.

Hanya ku minta 1, doakanlah adikmu yang lemah ini. Agar usahaku tetap tangguh, dan pundakku tetaplah kuat.


JADILAH KUAT, ULFA.. :(

Senin, 18 Februari 2013

Love Story For Kak Novian

di Februari 18, 2013 10 komentar

Lecture Kak Novian

 "Ulfa. Mana Ulfa?" Tanya kak Novian bercanda ketika berada di lokasi Aksi Penanaman 3000 Pohon.
"Iye, adaja kak" Jawabku setengah melongoh karena sedang cuci piring.
"Oh, ada jako dek? Ku bilang sudah di tanam sama Pohonnya juga, Hahaha" Sontak mereka semua yang mendengarnya ikut tertawa.
Selang beberapa jam, Kak Novian kembali bertingkah.
"Tidak ada lagi bibit yang bisa di tanam? Ulfa lagi yang di tanam. Sudah pakai baju hijau, sisa di tanam juga ntar langsung tumbuh, Hahaha" Renyah sekali tawanya saat itu. Masih ku ingat jelas, wajahnya yang ramah mencairkan suasana panas di Bukit Dusun Bontonampa, Tanralili, 15 September 2012 lalu.
Sebelumnya kami sudah di 1 lokasi kegiatan yang sama, namun belum saling mengenal satu sama lain. 


Kak Novian, saya tidak akrab memang denganmu kak. Saya tidak memiliki kenangan yang banyak tentangmu kak. Bahkan, cerita tentang kisah perjuangan bersamamu hanya saat kita di Penanaman 3000 Pohon itu. Lalu? Setelahnya, kita hanya berinteraksi di socmed FB saja. Saling mengejek, saling menimpali candaan-candaan tanpa letih. Tak akan ada habisnya jika ingin melawanmu kak. 


Kemarin, Ahad, 17 Februari 2013 sekitar pukul 12:31:39, sebuah sms nyandar di inboxku.
Atas nama BSMI Kak Irfan, isinya "Assalamu alaikum.. Mohon do'a dari semua rekan, sahabat, untuk kesembuhan Saudara Qta Novian Nurwanto (FKG 2005/Anggota BSMI Sul-Sel) yang sekarang dalam perawatan". Seperti tak sadar, saya baca kembali sms itu. Lalu ku balas, "Kak Novian kenapa kak?". Kebetulan saat itu saya dengan kak fuzah sedang ketemuan di RS Salewangang Maros. Kak Fuzah pun demikian kaget dan bingungnya. Kak Irfan balas kembali, "Kak Novian kecelakaan tadi subuh, dek. Pas pulang diksar. Sekarang masih di UGD Wahidin". Speecleshh!!!


Lalu, yang di lakukan sepanjang hari hanya nangkring di depan hape. Menunggu kabar dari Si Kak Irfan itu. Menunggu kabar keadaan kak novian. Saya tidak mengerti, kenapa saya sedemikian khawatirnya dengan kak novian. Hanya saja, saya takut terjadi hal yang tidak saya inginkan. Kak Novian pribadi yang baik. Hanya itu yang ku tahu dan ku tahu. Ku tanya terus bagaimana perkembangannya kak Novian di kak Irfan. Selalu berita buruk yang ku terima. Namun, sedikit cahaya ketenangan dan harapan ku sebesar gunung membuncah di pukul 21:28 menit. Kak Irfan sms, "Kondisinya sekarang kembali baik lagi. Tapi, HB-nya masih rendah. Masih memohon do'anya semua". Mengalirlah bait-bait do'a dari bibirku, "Ya Allah, selamatkanlah kak novian. Rengkuh dia dalam ketenangan cintaMu. Peluk dia dalam hangatnya kasih-Mu, Ya Allah. Jangan biarkan dia merasakan sakitnya dunia ini. Berilah dia keceriaan dan kebahagiaan dalam mimpi-mimpinya Ya Allah. Dalam koma-nya, taburkan mutiara-mutiara pelangi agar dia bisa merasakan indahnya mimpi itu. Janganlah dia perlu tahu kami di sini menangisi dan mengkhawatirkannya. Kami mencintainya sebagaimana mereka mencintai para saudara mereka yang syahid di Palestina. Selamatkanlah kak novian Ya Allah".


Kegiatan selanjutnya adalah kembali menunggu dan berdo'a. Dengan Kak Aya', kami saling berbagi Informasi. Kakak yang masih trauma dengan kematian sang Paman, ikut ku libatkan dalam pergolakan jiwa yang mengkhawatirkan temannya. Kak Aya' yang setelah beberapa saat lalu sempat berbinvang lama dengan kak novian di kegiatan Diklatsar BSMR Pesantren Ainus Syamsi Kab.Maros itu, juga terpukul dengan berita ini. Seseorang pernah berkata padaku, "Kau itu Ulfa terlalu mudah berangan-angan" Katanya. Dan itu ku sadari karena semalam, aku berbicara dengan langit malam. Mengkhayalkan, bagaimana jika saya di Posisi mu kak Novian. Apakah orang-orang yang mencintaiku, mengkhawatirkanku juga akan berkumpul seperti saat dirimu saat ini sekarat, puluhan orang memadati RS dan UTD hanya ingin bersamamu. Mendengar kabarmu. Dan berdoa demi keselamatanmu?

"Kak Novian, bertahanlah. BSMI Sul-Sel masih membutuhkanmu. Di sini, ada banyak orang yang menunggumu. Kuatlah kak. Kuatlah. Kembalilah di tengah-tengah sahabat yang mencintaimu. Kuatlah kak" Kataku. Lalu aku tertidur. Dengan air mata yang masih belum kering, aku terbangun di pukul 03:02 Pagi. Tengah malam sebuah sms tiba lagi di inboxku. 

Mata yang begitu berat ku paksa melek sedikit, 1 Message From BSMI Kak Irfan. 
Aku bangun terduduk dan ku baca sms itu.
"Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah RELAWAN TERBAIK KITA, Kanda NOVIAN. Semoga Amalan beliau di terima di sisi Allah dan di beri tempat terbaik di sisi Allah SWT"


Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. Sesingkat inikah kehidupan? Sesimple inikah perjalanan? Ya Allah, lindungi hatiku agar tetap INGAT PADA-Mu.
Aku menenangkan diriku. Ba'da Subuh,  ku kabarilah kak Aya' kalau Kak Novian sudah kembali di sisi-Nya. Dengan sebuah Kematian yang di damba setiap orang Muslim, kematian dalam JIHADnya. Ganjaran apa lagi yang lebih besar dari kematian seperti ini? Ini yang di inginkan semua Umat Islam, dan Kak Novian berhasil meraihnya. Allah memang jauh lebih mencintaimu kak, dari pada kami sahabat-sahabatmu.

Saya mengutip 2 Kalimat Indah dan bermakna dari kak Novian.
*Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepadaNya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan. Karena Tuhan, dengan rahmatNya akan tetap menerima uang palsumu
*

Lalu, kalimat terakhir saat Beliau di Pos Pengorbanan di DIKLATSAR Angk.III BSMI Sul-Sel, Ahad 17 Februari 2013, sebelum Kak Novian meninggalkan semua kaderisasinya yang tangguh, kak Novian memberi sepucuk Pesan yang manis.

*Jangan pernah beri kami janji. Masa lalu itu sudah lewat. Masa depan itu belum pasti. Dan, masa sekarang adalah HADIAH. Maka berbuatlah yang terbaik*

Inilah potongan-potongan kisah Kak Novian bersama orang-orang yang mencintainya.. Dan, lihatlah. Di mana setiap Gambar itu yang tak ada senyumnya Kak Novian? Tidak ada. Dia selalu tersenyum.
Kak Novian, Kak Novian, Kak Novian. Nama-mu kali ini ku sebut berkali-kali. Tanpa bosan. Agar aku bisa menangisimu dalam do'a, semoga tempatmu adalah di sela barisan para kekasih Allah. Aamiin Allahumma Aamiin. 

Kak Ardian, Kak Irwan, KAK NOVIAN, dan Kak A'la



Deklarasi BSMI Sul-Sel

Penanaman 3000 Pohon BSMI

Gambar Kak Novian sebelum melangkahkan kaki meninggalkan Lokasi Diklatsar. Dimana dalam perjalanan pulang dari ta'deang inilah, beliau mengalami kecelakaan hingga harus mengalami Koma. Tidak ada gurat kekhawatiran maupun tanda khusus dari wajahnya kalau senyum inilah penutup dari aktivitasnya sebagai RELAWAN. Kak Novian, Jihad Fi Shabilillah..!!! 

 
SELAMAT JALAN, Kak Novian Nurwanto, S.Kg


  
Tenanglah Kamu kak dalam Pusara yang Senantiasa Harum dengan Doa-doa Sahbatmu, dan kebaikan-kebaikanmu..



Kamis, 07 Februari 2013

Bunga Udumbara Buddha

di Februari 07, 2013 0 komentar

Malaka, Malaysia - Menurut kitab suci Buddha, ada sejenis bunga disebut bunga Udumbara, yang mekar 3.000 tahun sekali. Udumbara adalah bahasa Sansekerta, yang berarti "bunga keberuntungan dari surga." Munculnya bunga Udumbara merupakan pertanda turunnya Raja Sakral Pemutar Roda, meluruskan Dharma di dunia ini. Dalam kitab Buddha "Huilin" tertulis: "Bunga Udumbara menciptakan keberuntungan dan fenomena supranatural, yang merupakan bunga surgawai dan tidak tumbuh di dunia biasa. Jika seorang Tathagata atau Raja Sakral Pemutar Roda turun ke dunia manusia, bunga ini akan muncul karena berkah dan kebijakannya yang maha agung."

Kitab suci Buddha mencatat bahwa Raja Sakral Pemutar Roda adalah seorang raja yang akan memerintah dunia tanpa kekerasan namun melalui keadilan. Terlepas dari kaitan dengan agama Buddha, Kristen, Konfusiunisme dan lainnya-orang yang berbelas kasih kepada orang lain akan memperoleh kesempatan untuk bertemu dengan Raja Sakral Pemutar Roda.
Dalam dua dekade terakhir, sebagian orang di dunia ini telah menemukan bunga yang diyakini sebagai bunga Udumbara. Bunga ini pertama kalinya ditemukan di Korea pada 1997. Kemudian muncul di China, Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Singapura, Australia, Amerika, Indonesia. Bunga ini dapat tumbuh pada logam, kaca, tanaman dan patung-patung Buddha.
Namun sejumlah ilmuwan berpikir, orang-orang salah menafsirkan bahwa telur serangga yang disebut lacewing hijau (Chrysopa) diduga bunga Udumbara karena penampilannya serupa.
Larva itu disebut kumbang kecil penghisap. Ketika bertelur, si betina mengeluarkan zat pelengket dan mengangkat perutnya untuk membentuk tangkai kecil. Telur-telurnya diletakkan pada batang-batang tangkai untuk menjaga larva muda dari yang lain setelah menetas. Bunga Udumbara diduga sebagai telur larva tersebut karena sangat mirip.
Mr. Li, warga Malaka, Malaysia, yang menemukan bunga Udumbara maupun telur serangga tersebut. Penemuan itu dapat membuktikan apa yang orang yakini sebagai bunga Udumbara itu bukan telur larva.
Pada 25 Juni 2009, Mr. Li dan sejumlah rekannya melihat lebih dari 20 kuntum bunga putih kecil pada daun pamelo di sepanjang jalan St Paul's Hill, sebuah tempat yang indah di wilayah Malaka. Pada saat pertama kali menyaksikannya, bunga itu nampak seperti bunga Udumbara.
Karena ada kemiripan antara bunga Udumbara dan telur lacewing, Mr. Li membawa bunga itu ke tempat temannya, di mana mereka melihat langsung bunga itu di bawah mikroskop. Ketika temannya memotret bunga itu menggunakan mikroskop, kelopak bunga dan benang sari terlihat dengan jelas. Gambar-gambar yang ditampilkan itu membuktikan bahwa apa yang mereka temukan adalah bunga Udumbara.
Seminggu kemudian, Mr. Li kembali ke lokasi yang sama dan menemukan lagi beberapa butir benda putih yang mirip dengan apa yang ia temukan terakhir kali. Sekali lagi, ia mengambil gambar dari benda-benda mini itu lewat mikroskop. Kali ini, bukan masalah dari sudut mana gambar-gambar itu diambil, baik kelopak daun maupun benang sari dapat terlihat dengan jelas. Semua yang terlihat sama-sama seukuran telur larva.
Sepanjang pengamatan Mr. Li, bunga itu nampak tetap berwarna putih bersih, tetapi telur lacewing secara bertahap berubah menjadi hitam dan bentuknya yang bulat lonjong tidak berubah. (EpochTimes/sua)




Senin, 04 Februari 2013

Pelangi FLP

di Februari 04, 2013 0 komentar
Forum Lingkar Pena...
Asikkk,akhirnya kembali lagi saya padamu. Meski saya seperti menjadi murid baru kembali. Ketika langkah itu pertama kali tiba di ruangan luas yang penuh dengan deretan kursi merah, panggung kokoh yang penuh dengan tanaman hias, sebuah mimbar yang menampakkan kewibaan lalu apalagi ya? Hmm, sebuah spanduk besar yang mengawali jelikan mataku.

Saya kembali mengingat kapan terakhir saya bersua dengan tatapan mereka. Kapan ya? sebelum kejadian dengan si anu itu heh yang membuat semua orang mual-mual menahan sesak di perut. *Heh? Ahh, ntahlah..

Aisyah Istiqomah Marsyah
Sayang, kemarin  kagum sekalika padamu. Sangat kagum.. :)
Ketika memberi Sambutan sebagai Ketua FLP Cabang Maros, menambah daftar kagum ku padamu.
Andaikan saya cowok, sudah ku tembak kau..dor dor dor..hahaha!!!
Untungnya kau ku vonis sebagai SAHABATku.. Ckckck!!!
Waktu Darwis mengatakan, "saya mendengar ada bisikan malaikat" saat itu aku benarkan. Kamu seperti Malaikat Iis.. memberikan harapan baru buat orang lain dengan kemampuanmu berbicara. Kehebatanmu menyatukan kalimat demi kalimat menjadi paragraf yang indah.
Di diary ku, aku menulis "Iis, kamu pasti kelak akan menjadi ORANG HEBAT. Aamiin Ya Allah. Aku yakin itu. Namun, kelak sesukses apapun kamu, mohon tetaplah melihatku di belakangmu. Meski kamu hanya sekedar mengintip saja di jendelaku".. :)





Marwah Thalib
Hedeuuhhh..sekampusku, sefakultasku,sekampungku tong,sesama pemegang takdir "alasan berorganisasi" yang sama, di seminar kemarinpi baruki ketemu..mentong ine heh!!!
Harusnya  bisaki sering ketemu, apalagi si Pinky adami..eh malah nambah sulit soalne tambah ada beban gak ketemu dirimu gara2 si pinky.
Gundungan rahasia itu pengen sekali ku buka..ngerti?Hahaha..penasaranga..meskipun basimi..ckckck!!!
Keep Spirit, Honey..
kita berusaha kembali berjalan dengan langkah yang sama.meski tertatih.. :)


Munasyirah
Itu paeng nama lengkapta? Hawweeh, padahal waktuku latihan ngemsi semalam sebelum besok Seminar itu ku sebut2mi nama'ta sebagai Ira Wati sebagai Ketua Panitia Pelaksana. Hahahha,jadulnya di' sangkaan nama ku kasiki? Ckckckck..
Biarmi dehh..trus waktu kemarin, kita yang bikinka ketawa sendiri di kursi. Cabe Rawit lagi ngelayang-layang di aula mesjid Al-Markas..haha!!!
Barusan adaki di depanku, pas ku angkat lagi kepalaku, eh ada maki seng di teras.. Madddeeerrrr... Ringanna itu badanta kakak lompat-lompat cepat? Kalah mentongma dari kita.. Ckkckckckk




Dila
Nda ku tau nama lengkapta Boss.. ckckck!!!
Andekan dari duulu ki kenal di'? Pas SMA gitu heh..hehehe
Suka melihatmu kemarin saat foto2 orang..benar memang, orang yang kita foto tapi malah yang bergaya kita.. Ckkcckck...Kebiasaan yang langka..haha
Ikha.. Farikha..
Kakak 5 hari..
bagaimana kabarta pasca gerakan hebat kemarin? Wahh,pasti nyenyak skali tidurta tadi malam toh? Hmm,,jangan maki langsing nahh..tetapki gemukk..cantikki..suka skalika liatki itu wajahta heh yang gemuk..pas ketawa itu enak sekali..renyah,kayak biskuit crispy..hihihi!!!
Makasih nahh sudah mau teman sama saya..hahahaha..


Rabu, 30 Januari 2013

Cahaya yang Meredup

di Januari 30, 2013 3 komentar
Ketika mulutku semakin lama semakin deras menghujani istighfar, aku mulai menemukan ketenangan. Kesejukan demi kesejukan ku kejar, agar hatiku bisa sedikit lebih hidup. Kalau aku tidak begini, makin lama, hatiku akan benar-benar mati. Aku tak menginginkan hal itu meski bibirku selalu tidak menganggap itu penting. Ketika aku percaya akan keberadaanNya, aku semakin saja terlelap dalam ketakutan dan kebimbangan. Aku masih saja terus merasa telingaku mendengar suara-suara yang akan segera membunuhku. Lalu, aku akan terkungkung kembali dalam keterpurukan yang berkepanjangan. Sementara dadaku juga menanti akan sebuah ketenangan.
"Allaahhh.."Pekikku dalam tangisku. Aku menjerit semakin dalam. Aku memanggil Robb'ku dalam lirih suaraku yang berat dan terputus-putus.
"Bagaimana aku bisa menenangkan hatiku? Aku takut Kau meninggalkanku Ya Allah. Aku bimbang. Aku takut. Aku takut" Semakin lama semakin larut dalam kegalauan. Syukur aku tak pernah menggalaukan laki-laki seperti teman-teman remajaku. Aku hanya galau karena laki-laki tua tak berperasaan yang menyiksa masa depanku. Merenggut senyumku. Menanggalkan cita-citaku dengan paksa.
"Kenapa aku harus terlibat dalam pergolakan dunia pendidikan yang sulit begini?" Lagi dan lagi, aku memekik suara hati yang tercegat di leher.

"HARUSKAH AKU MATIKAN JIWAKU?" Putus asa benar.

Lalu? 
Apa yang harus ku lakukan agar hatiku bisa tenang? 


Cahaya harapan itu sedikit muncul menyusup di jendela hariku. Matahari seperti berpihak sebentar saja pada mataku yang sembab.
Tapi, tak lama.
Lalu, Cahaya itupun kembali meredup dan lama kemudian MATI.

Akupun membunuh nadi nafasku di dunia ini.
Aku akan mati bersama aliran darahku yang membeku.

Kalau pun nyawaku ikut mati, maka DIA (Dosen itu) yang pertama kali akan aku tuntut di akhirat kelak... 


Marilah wahai dunia kegelapan, genggamlah tanganku yang layu ini.. Genggamlah..

He Called me!!!

di Januari 30, 2013 0 komentar
Lama sekali.
Lama aku menahan tangis hati yang menyesakkan.
Sampai bagaimana lagi harusnya aku bertahan dengan gejolak hati yang di hempaskan.
Kau, bagaimana Top Killed in The world..

Sedikit lagi, aku akan benar-benar mati. T.T

DOSEN yang memuakkan.. :'(

Selasa, 29 Januari 2013

Dialah ILHAM

di Januari 29, 2013 2 komentar
Yuli memasuki Mushallah untuk melaksanakan sholat Dhuhur ketika seniornya masih berada di dalam sana. Jilbabnya masih basah karena air wudhu. Saat masuk, dia jadi pangling melihat sekumpulan senior perempuan yang duduk bergerombol tak jauh dari tempatnya berdiri. di keluarkannya mukenah putihnya lalu bersiap melakukan shalat. Namun ketika dia segera mengambil posisi, temannya Diana memanggilnya. Mengajaknya untuk ikut Pengkaderan salah satu organisasi. Sempat saja Yuli tertarik, namun dia minta untuk memikirkannya dahulu takut Ayahnya tak memberi izin. Setelah sholat dhuhur, seniornya yang kelihatan begitu lembut itu menyapanya.
"Yuli ya?" Tanyanya lembut. Semakin cantik dengan mukenah pink yang nyaris menutup wajahnya yang putih bersih.
"Iya, kak" Jawab Yuli sedikit agak segan.
"Ahh, gak usah kikuk begitu. Kakak cuma mau ngajakin kamu ikut Pengkaderan di sekolah kita besok. Ikut ya!!!" 
"Hmm, mau sih kak. Tapi, aku masih mikir-mikir juga. Takut Ayah ku tak memberikan izin" Seperti tahu betul bagaimana Ayahnya kelak akan memberikan reaksi ketika ia meminta izin.
"Insya Allah, di izinkan. Percaya ya" Kak Risma, begitulah seniornya itu di sapa sehari-hari oleh teman-temannya meyakinkan Yuli sambil menggenggam tanganya lembut. Sebuah kepercayaan yang teguh dari kakak yang penyayang.
Dari balik tirai mushallah, Yuli mendengar dari tadi sekumpulan laki-laki cekikikan entah apa yang mereka tertawakan dari tadi. Yuli tahu, di antara mereka ada Abbas, seniornya yang pernah menjadi pengisi waktunya, pengisi hatinya.
Sayup-sayup terdengar pula percakapan mereka meski tak terlalu jelas. Yuli yang sedang merapikan alat sholat Mushallah itu mendengar dengan jelas kalimat pedas yang di utarakan Abbas. Mungkin dia tidak mengira kalau Yuli masih di balik tirai itu. Yuli mempertajam telinganya, dan dia mendengar jelas Abbas bilang, "Yuli gak mungkin bisa ikut pengkaderan itu. Gua kenal sama dia. Anaknya manja dan cengeng banget" Seperti api yang membara, membakar segala apa yang ada di hati Yuli. Dia pun bertekad, meskipun Ayahnya tak mengizinkannya, dia akan tetap mengikutinya. Apapun itu caranya. Dia menghempaskan sajadah ke lantai dan kemudian meninggalkan mushallah dengan langkah cepat penuh amarah.

**** Pengkaderanpun di Mulai ****

Hari Pertama.
Yuli melewatinya dengan rasa penuh cemas. Bimbang. Inilah kali pertamanya dia menginjakkan kakinya di dunia organisasi. Berbagai macam stigma-stigma tentang tentang dampak negative dari organisasi pun menggelayuti pikiran polosnya. Dia menghela nafas beratnya ketika dia di tatap sepasang mata senior perempuan dengan mimik sangar dan menakutkan. "Mama, Yuli mau pulang" Jawabnya lirih. Namun, meski bejibun kesulitan Yuli dapatkan namun hari pertamapun terlewati dengan sukses. Tanpa kesulitan. Begitu kesimpulan Yuli.

Hari Kedua.
Pagi-pagi, Yuli sudah segar dan siap menerima materi pengkaderan. Kali ini dia berdekatan duduk dengan kak Risma. Hatinya sangat senang. Terang saja, dekat dengan kakak yang baik seperti kak Risma merupakan keberuntungan lain yang ia dapatkan. Sarapan pun datang, dan mereka di minta menghabiskan makanan yang seperti gunung itu dalam waktu 10 menit. Terang saja Yuli panik, namun dia bisa menghabiskan makanan itu meski perutnya seperti penuh dengan makanan hingga nafasnya pun kini bisa di hitung. Sesak sekali. Kak Risma tiba-tiba berdehem, dia memberikan ruang nafas tenggorokannya yang terasa tercekik. Yuli melihat makanan Kak Risma masih sangat banyak. Dengan refleks Yuli mengambil makanan itu dan menghabiskannya. Kak Risma merasa sangat berterima kasih padanya, dan sejak saat itu kak Risma pun selalu mendekatkan dirinya pada Yuli. Tak ayal kini mereka menjadi sosok sahabat. Duduk selalu sama, makanpun demikian, sholat pula begitu, bahkan tidurpun, mereka selalu bersama.

Hari Ketiga. 
Di hari ketiga ini, menjadi hari terburuk buat Yuli. Dia di hukum oleh seniornya karena telat masuk kelas. Tadi Yuli merasakan sakit di kepala sehingga membuat gerakannya sangat lambat. Dia meminta kak Risma ke ruangan duluan sebelum dia menenangkan pikirannya di WC. Hukuman pun di jalani, hingga nyaris pingsan karena harus berdiri dengan 1 kaki selama 3 jam tanpa ganti. Kak Risma menjadi sangat tidak berkonsentrasi, apalagi kak Arman. Dialah senior yang paling baik di mata Yuli. Senior yang tak pernah memarahinya. Senior yang selalu mentransferkan ketenangan dan kesejukan dari sorot matanya yang teduh. Yuli menjadi seperti tak sendiri di tengah kesulitan-kesulitan ini. Dia pantang untuk menangis, meski hatinya sudah sampai pada taraf ingin berteriak keras dan memecahkan lantai. Dia pantang mengeluh, meski tenaganya sudah sampai di ubun-ubun lalu kemudian retak berkeping-keping. Dia tidak mau membenarkan kata-kata Abbas. Dia tidak mau menjadi gadis cengeng seperti kalimat Abbas itu. Dialah tokoh utama dalam drama ini, dan dia tidak akan menjadikan dirinya tokoh yang di rugikan. Dia akan memenangkan kompetisi ketangguhan ini. Demi mentalnya. Demi harga dirinya.
Dari sisi kanan, seseorang menepuk pundaknya, "Kamu harus kuat. Keep smile" Katanya. "Siapakah dia? Aku tak mengenalnya" Tanya Yuli lirih. Laki-laki berkulit putih yang nyaris sama tinggi dengannya. Dia tersenyum pada Yuli yang sudah basah dengan keringat.

Hari Keempat.
"Kak Risma kenal dengan laki-laki yang memakai baju kaos bergaris-garis itu?" Tanya Yuli pada kak Risma di waktu ishoma. "Hmm, gak kenal. Tapi kakak sudah beberapa kali melihatnya kok. Kenapa?" Tanya kak Risma kembali."Gak papa. Yuli cuma mau tahu namanya".
Sebuah kejadian tak terduga, dia yang membuat Yuli penasaran menghampiri Yuli ketika ingin melangkah menuju tempat wudhu. Sebelum waktu maghrib itulah, Yuli tahu kalau namanya "Ilham" dan dia adalah instruktur bagian Remaja di pengkaderan ini. "Yuli mau sholat?" Tanyanya. Kak Risma yang ketinggalan langkah buru-buru menyamai langkahnya dengan mereka berdua. Sekilas Kak Ilham melirik kak Risma yang baru saja bergabung. 2 menit sepertinya kak Ilham menggunakannya hanya untuk menatap wajah itu dalam-dalam. "Kak Ilham, bisa minta tolong?" Tanya kak Risma. Ternyata kak Risma jauh lebih berani menyamai komunikasi ketimbang Yuli yang masih malu-malu. Anggukanpun mengakhiri percakapan itu.

Hari Kelima.
Konflik batin antara Kak Risma ke kak Ilham mulai nampak jelas. Yuli yang mengerti betul nuansa kikuk kak Risma setiap Kak Ilham di dekatnya menjadi seperti ikutan kikuk. Ingin sekali dia menjauh dari mereka berdua. Namun, kak Risma terlanjur menjadikannya sahabat satu-satunya selama pengkaderan ini berlangsung. Kak Arman mengerti betul posisi Yuli. Dia meminta Yuli datang di lantai 2 untuk menanyakan beberapa hal. Sejujurnya Yuli tidak mau, tapi karena saat itu kelihatan kak Risma ingin dekat dengan kak Ilham, maka dia punmemaksakan diri untuk menjauh jauh-jauhnya. Memang itu yang dia butuhkan.
"Kamu bilang sama Risma, kalau Ilham masih sulit membuka hatinya untuk perempuan lain" Kak Arman tak ingin basa-basi. Inilah yang harus dia lakukan secepatnya. Takut Risma terluka lebih dalam. "Ilham itu punya pacar yang sangat dia sayangi. Walaupun sudah menikah tapi hati itu masih di tempati perempuan itu. Jangan biarkan Risma semakin menyukainya". Yuli hanya bertanya pada mimiknya. Pada raut wajah yang berubah dari kak Arman. "Kenapa kak Arman ikut campur dan memusingkan hal ini?" Ini jugalah yang ingin Yuli katakan.
"Ntahlah Yul. Pokoknya jangan biarkan Risma menyukainya lebih jauh" Sambil menatap Yuli dalam-dalam, kak Arman menenangkan hatinya. Mengatur nafas agar tetap seimbang detakannya. Dia tidak mau terlihat kikuk juga di depan orang yang dia sukai pula.
"Kakak suka kak Risma?" Tanya Yuli.
"Haha, aku tahu kamu berpikir demikian. Tapi, saya sama sekali tidak menyukai Risma"
"Lalu? Apa urusannya dengan kak Arman? Mengurusi urusan orang lain itu bagian dari akhlak yang kurang baik. Pengurangan nilai pun akan kakak dapatkan dengan kebiasaan ini" Yuli yakin kali ini kak Arman patah kalimat. 
Dan, benar. Kak Arman hanya bisa diam.
"Yuli.. Saya mengurusi Risma bukan karena saya yang menyukainya. Tapi karena kamu yang sangat terlihat tidak nyaman. Kamu juga ikut merasa kikuk dengan pertikaian hati di antara mereka"
"Dan setidaknya aku tidak mengurusi mereka kak" 
Ilham tiba-tiba datang dari arah yang tak di sangka-sangka.
Menatap mereka berdua yang panik melihat dirinya. Mematung. Ilham menarik Yuli pergi. Tak mengerti alasannya, Yuli seperti terhipnotis mengikuti langkah Ilham.
"Kamu harus ikut campur Yuli. Kamu sudah terlanjur terlibat" Kata kak Ilham tiba-tiba.
"Kamu, harus membuat saya jatuh cinta dengan Risma".
"......."

Hari Terakhir.
Setelah kejadian kemarin, Yuli benar-benar bimbang. Dia tidak tahu harus menyikapi apa. Dia hanya mencoba sebisa mungkin menghindari kak Risma agar kak Ilham punya waktu banyak berdua dengan kak Risma. Pertahanan Kak Risma yang tak ingin pacaran pun patah. Dia resmi menerima Kak Ilham sebagai pacarnya semalam, setelah diskusi internal Anggota. Risma benar-benar terpukau dengan pribadi Kak Ilham. Meski dia telah melihat Kak Ilham merokok, tapi baginya, rasa sukanya mematahkan perasaan tidak sukanya pada benda bernama ROKOK itu.
Ketika acara penutupan, Yuli menjadi peserta terfavorit. Banyak yang menyukainya di karenakan dia melakukan segala hal dengan santai, tanpa risau. Bahkan saat di hukum pun, dia melewatinya dengan biasa. Dan? Kak Arman pun semakin suka. Benar. Semakin suka.
Tanpa di sangka, Kak Ilham memberi kejutan buat Yuli. Sebuah Jilbab biru di berikan. Riuh semakin riuh di ruangan mengakhiri kegiatan hari ini.

Tanpa di sangka, itulah akhir kisah dengan Kak Ilham dan Kak Risma. Mereka ternyata putus. Kak Ilham menghilang. Entah kemana dia pergi. Lalu?

Hari ini, Yuli bertemu dengannya. Dengan senyum yang masih tertata rapi seperti 6 Tahun lalu. Bedanya, kini ada jenggot tipis di dagu kak Ilham. Wajahnya masih segar, masih putih. Masih manis. 
"Lama sekali kita baru ketemu" 
"Hmm, iyya kak.. Kak Ilham kenapa semakin kurus kak?"
"Hehehe.. Sibuk dek" 
"Sibuk kuliah?"
"Bukan"
"Lalu?"
"Sibuk melupakan Yuli. Dan alhamdulillah berhasil"
"Hah? Maksud kak Ilham?"
"Kamu sudah sarjana, sudah tahu maksud kakak. Tidak perlu risau. Kakak sudah bisa melupakan Yuli. Anggap saja ini pegakuanku yang sangat terlambat. Yuli jalan-jalan ke rumah kakak, nanti kakak kenalkan dengan anak kakak"
"Kak Ilham sudah menikah? Alhamdulillah wasyukurillah"
"Hmm, iyya."
"Insya Allah kak. Salam buat Istri kakak ya"
"Insya Allah. Jangan lupa kirimkan Fatihah buatnya juga ya?"
Mata Yuli membelakak. Artinya?
"Kakak pergi dulu. Rumah kakak masih di Pesantren Firdaus dek. Datang ya. Kakak tunggu. Asyifah juga menunggu. Nama anak kakak"
"Iii..iiiyyyaa kak.."

Dan, itulah kisah tentangnya. Tentang ILHAM. Mengilhami hati yang lemah penuh gundah, penuh derita. Begitulah ILHAM yang mengilhami Cinta menjadi Daun Surga yang bercahaya. Menggetarkan Hati. Menggetarkan Jiwa.

Senin, 28 Januari 2013

Simfoni Abu-abu

di Januari 28, 2013 3 komentar

Farika masih duduk di kelasnya setelah bel tanda pelajaran usai itu berdering. Teman-temannya sudah meluncur untuk mengisi bahan bakar tubuh mereka guna mempersiapkan tenaga ekstra untuk pelajaran selanjutnya. Tangannya masih saja mengetik tombol keyboard. Menyusun kalimat demi kalimat menjadi paragraf indah. Mengisyaratkan makna yang dalam sambil kepalanya sedikit-sedikit menggeleng jika dia menemukan sendiri kesalahan dalam menyusun kalimat-kalimatnya. Kacamatanya yang sudah sedikit longgar terkadang meluncur ke hidungnya yang pesek, tiba-tiba hapenya bordering. Sebuah sms dari Risma, sahabat karibnya.
Farika, ke kantin sekarang. Cepet cepet!!!”
Farika merasa sangat malas meskipun demikian, dia masih saja melangkahkan kakinya menuju kantin yang sangat ramai. Kaget, melihat para siswi perempuan mengerumuni seorang pria yang memakai kemeja biru muda. Dari penampilannya, sepertinya dia seorang Mahasiswa. Entah apa kegiatannya di sini, Farika tak menghiraukannya. Ia lalu mencari keberadaan Risma.
Far, kamu lihat cowok itu kan? Dia akan mengajar di sekolah kita. Manis kan? Waahhh”
Kamu ngajakin saya ke sini hanya untuk melihat makluk itu? Sia-sia banget langkahku Risma. Ah, udah. Aku mau ke kelas dulu” Farika lalu melangkah meninggalkan Risma sendirian. Namun, Risma buru-buru mengejar Farika yang lebih tinggi darinya itu. Badannya yang proporsional itu tak begitu kelihatan karena seragam sekolah Farika yang sengaja di besarkan. Dialah anak Paskibra sekolah satu-satunya yang memakai jilbab.
Keberadaan Mahasiswa PPL akan menjadi pewarna baru di tengah-tengah seragam abu-abu. 8 orang dari mereka, hanya 3 orang yang laki-laki. Salah satunya adalah Mahasiswa yang beberapa hari yang lalu memakai kemeja biru. Hari pertama pun di mulai dengan sukses, dan kelas Farika-lah yang akan menjadi kelas yang akan di ajar salah satu dari mereka. Meskipun bukan Mahasiswa yang memakai kemeja biru itu. Dia di tempatkan di kelas XII.5, kelas yang paling pojok. Kelas yang terkenal dengan siswanya yang nakal. Siapa kira, kalau mahasiswa itu bisa mengomandoi anak-anak itu? Itu hebatnya.
Saat pelajaran sedang berlangsung, Indra, mahasiswa kemeja biru mendapat sms kalau Kiki kecelakaan. Teman PPL mereka. Dia pun buru-buru mencari temannya yang lain. Kebetulan teman akrabnya, Dedi ada di kelas Farika. Jauh sebenarnya, mengingat kelas Farika ada di lantai 3 sekolah. Naiklah dia.
Tok..Tok…tokkk
Assalamu alaikum” Indra mengucapkan salam sebelum masuk ke ruang kelas. Seketika semua mata tertuju padanya. Mata Risma lah yang paling berbinar.
Waalaikumsalam” Jawab mereka bersamaan.
Sorry ganggu, Ded”
Gak kok. Sini masuk, kenapa?” Kata Dedi.
Kiki Ded, dia kecelakaan. Sistah yang sms gue barusan. Mereka barengan katanya, tapi Sistah gak papa. Kiki aja yang agak parah, bahkan dia pingsan. Kebetulan dia sekarang di daerah yang agak sepi katanya” Jawab Indra panik.
Farika yang pernah mengikuti pelatihan Pertolongan Pertama yang di adakan Dinas Kesehatan itu sedikit terpanggil hatinya untuk membantu dan mencari tahu.
Kak Sistah bilang gak dia di jalan mana tepatnya?” Tanya Farika tiba-tiba. Indra menoleh ke arah suara. Melihat gadis berkacamata itu, Indra merasa yakin kalau siswa ini pasti akan membantu.
Di jalan Tupai, katanya dek” Jawab Indra.
Aku tahu daerah itu. Saya tiap hari melewati jalan itu kalau ke sekolah. Memang di sana gak ada rumah kak, yang ada hanya kebun yang membentang ke penjuru lahan.”
Kamu bisa nemenin kami? Nanti kami yang tanggung jawab kalau kamu di marahin kepala sekolah atau guru”
Oke”
Maka meluncurlah mereka menuju tempat itu dengan mengendarai mobil Kepala sekolah. Mereka membawa Kiki ke RS. Baru sekitar pukul 14.23 siang Indra mengantar Farika kembali ke sekolah. Ternyata teman-temannya sudah pada bubar. Tasnya sudah di titip Risma di ruang guru sehingga Farika bisa segera kembali ke rumah. Indra yang merasa dekat dengan Farika sejak kejadian Kiki kecelakaan itu, selalu mengajak Farika belajar bersama teman-temannya. Dari ekstra less ini Indra terpikat dengan siswi berkacamata itu.
Senin pagi, setelah Upacara berlangsung Farika mendapat sebuah kotak di laci mejanya. Isinya adalah sebuah album yang berisi semua foto-foto Farika. Sontak Terpukau.
Kak Indra suka sama kamu, Far?” Tanya Risma kaget.
Gak tahu. Ini maksudnya apaan motret saya kayak gini?”
Eh, ada suratnya Far” Jawab Risma cekatan melihat pucuk kertas di ujung album yang berwarna kuning itu.
Surat? Jadul amat sih!!!”
Farika lalu membuka lipatan surat itu.
SELAMAT ULANG TAHUN, Farika.
Semoga kamu panjang umur ya.
Maaf tak sempat memberikanmu secara langsung karena aku gak mau melihat tatapan dinginmu menerima kado yang telah ku siapkan sejak minggu ke-3 aku di sini. Albumnya terlalu berharga untuk di balas ekspresi dingin, hehehe. Bercanda.
Aku tunggu kamu di Universitas.
Sebelum aku ninggalin sekolah ini, aku memang mau ngasi ini.
Dan juga aku mau nyampein salam dari Sidiq.
Dia suka sama kamu katanya!!!
Sekali lagi SELAMAT ULANG TAHUN
Farika hanya bisa saling menatap dengan Risma. Kaget dengan kalimat terakhir itu. Diam-diam mereka justru berharap Indra yang mengutarakan perasaannya. Namun, semuanya terbalik dengan dugaan dan harapan.
Oke. Kita sama-sama simpan rapi perasaan kita masing-masing. Jangan sampai kamu tahu dan aku semakin sadar kalau ikut tergugah denganmu” Komitmen Farika di hati.


 

Lyu Fathiah Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review